Beata Katarina Jarrige (1754-1836) : Keberanian Malaikat Bawah Tanah

61
Beata Katarina Jarrige. [cahterinejarrige.org]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Revolusi Prancis membuat Gereja kehilangan peran. Katarina Jarrige tampil memperkenalkan Gereja dengan revolusi bawah tanah.

Kota Mauriac nyaris lumpuh dilumat Revolusi Prancis (1789-1799). Revolusi berdarah ini memberi dampak baru bagi Gereja, yaitu restrukturisasi radikal sistem monarki absolut, yang dianggap kaku dan berlawanan dengan ambisi kaum borjuis, kaum petani, para buru, dan semua kelas yang merasa tersakiti.

Ambisi yang lahir karena ide-ide pencerahan berakhir dengan kematian Raja Louis XVI (1754-1793) pada 21 Januari 1793. Dampak lanjutan dari revolusi ini, Gereja disubordinasikan di bawah negara. Tentu, Gereja mengalami kerugian, khususnya soal batas keuskupan, segala macam pungutan dibatasi, dan kekayaan Gereja disita oleh negara. Gereja menjadi miskin, hubungan dengan Takhta Suci dibatasi, dan kehidupan pastoral memudar.

Dalam situasi ini, iman umat tertantang. Bak biji gandum di tanah berbatu, begitupun iman Katolik. Di tengah situasi ini, masih ada sisa-sisa perjuangan sebagian kecil kawanan. Salah satunya adalah Katarina Jarrige. Wanita saleh yang membangun tempat penampungan bawah tanah bagi sejumlah imam di dalam hutan Mauriac, wilayah Auvergne-Rhône-Alpes, Prancis. Dengan langkah ini, iman Katolik semakin ditancapkan Katarina.

Wanita Sensual
Sejak remaja, Katarina adalah seorang yang ekspresif dan senang tampil. Ia selalu ingin diperhatikan dan dipuja. Bila tampil sempurna, ia ingin semua mata memandang kagum padanya. Ia gemar berdansa di perayaan-perayaan. Parasnya yang cantik dan tubuhnya yang molek menjadikannya primadona pesta. Kepribadian alamiah Katarina Jarrige, membuat ia kerap dijuluki “wanita sensual”.

Gadis kelahiran Domuis, Prancis, 4 Oktober 1754 ini melewati masa remajanya dalam kebahagiaan. Sebagai anak petani, Katarina kerap menghabiskan hari-harinya bekerja di ladang. Kegemaran masyarakat Domuis untuk berpesta dansa turut membentuk karakter wanita lincah ini.

Kendati begitu, Katarina dikenal sebagai pribadi yang berperasaan halus. Ia buru-buru minta maaf kepada siapapun bila berbuat salah. Hal ini ditunjukkannya ketika pindah dari Domuis ke Mauriac, saat berusia 20 tahun. Saat itu, ia dimusuhi. Katarina lantas merendah dan meminta maaf kepada anak-anak seusianya. Alhasil, mereka menjadi teman yang baik untuk dirinya.

Di Mauriac ini pula, Katarina menemukan panggilan hidupnya. Di usia 35 tahun kala pecah perang itu, Katarina menjalankan seluruh Regula Ordo Dominikan dengan bergabung bersama Ordo Ketiga Dominikan. Ia menyadari, segera, ia akan meninggalkan kebiasaannya berdansa. Ia mengalami pergumulan berat, tetapi akhirnya berhasil keluar dari situasi itu.

Di masa ini, Katarina merasakan efek langsung dari iklim perang yang pelik. Gereja dipaksa tunduk pada konstitusi. Banyak pelayan Gereja yang dibunuh secara membabi buta. Peta politik Prancis yang sarat kekuasaan ini berakhir dengan kematian para imam dan umat Katolik.

Berbekal kecakapan seorang petani, Katarina merancang tempat penampungan bawah tanah, untuk persembunyian para imam yang menjadi buronan revolusi. Jauh dalam hutan yang dahulu menjadi sarang perampok, Katarina mendirikan gubukgubuk dan lumbung padi. Ia membuat pintu masuk rahasia bagi setiap orang yang melintas di area itu.

Katarina memberi makan, menyiapkan tempat istirahat, transportasi, bahkan dokumen palsu, apabila diperlukan. Beberapa bayi di desa-desa sekitar juga diselundupkan untuk dibaptis oleh para imam di tempat itu. Beberapa kali, para imam itu diantar secara sembunyi-sembunyi kepada orang-orang sakit di pedesaan. Katarina berhasil menyelamatkan imam dan umat yang hidup di bawah kungkungan tentara revolusioner.

Ibu Pengakuan
Kepribadiaan bawaan yang gemar tampil membuat ia tidak takut berhadapan dengan tentara revolusioner. Ia beberapa kali menyaksikan para imam yang dijatuhi hukuman guillotine. Ia mendampingi mereka, mendengarkan permintaan terakhir mereka, menyuapi mereka makan, dan menggandeng tangan mereka hingga ke tempat hukuman.

Katarina sekejap berubah menjadi “ibu pengakuan” bagi para imam yang butuh kekuatan. Ia menulis, “Apa yang kamu pikirkan atau perbuat ketika sudah mengetahui kapan kematian anda? Permintaan maaf dan doa tidak cukup untuk menentramkan hati anda. Di saat kepala mereka diletakan di atas kayu guillotine, aku melihat tatapan kesungguhan mereka,” tulisnya dalam buku Way of Life Guillotine, 1843.

Seorang saksi mata menyebutkan, darah para imam yang dibunuh itu segera ditampung di tempayan dan disimpan Katarina. Kadang, ia menyentuh darah para imam itu, lalu mengoleskan kepada seorang bayi kecil yang buta. Selanjutnya, mata anak itu langsung bisa melihat. Di kemudian hari, sang ibu dan anak itu merawat Katarina di usia lanjutnya.

Meski berita itu ditutupi, tetapi keajaiban itu segera tersiar di Mauriac. Bahkan algojo yang sering memancung leher para imam menjadi ngeri mendengar nama Katarina. Beberapa dari mereka bahkan dengan penuh penyesalan mengutuk diri mereka.

Sayang, pengalaman sebaliknya dialami oleh pendukung revolusi. Muncul kebencian di hati mereka karena popularitas Katarina. Mereka membawa Katarina ke pengadilan, dan menuduhnya dengan beragam kesalahan. Namun, tidak banyak bukti yang bisa menjebloskan Katarina ke dalam penjara.

Amal Terakhir
Episode petualangan panggilan Katarina menjadi lebih berwarna ketika ia pergi ke desa tetangga untuk menyelamatkan dua orang imam. Penyelematan ini berdasarkan informasi bahwa dua imam itu bersembunyi di sebuah gudang anggur. Ia membawa pakaian petani dan topi merah yang biasa dikenakan para pendukung revolusi. Ia juga sengaja membasahi kedua imam itu dengan alkohol dan menyuruh mereka berjalan sempoyongan agar tidak dicurigai. Mulut cerdas Katarina dan akting dua imam itu membuat ketiganya terselamatkan. Banyak orang mengira, Katarina adalah seorang wanita sundal yang sedang menginginkan para lelaki.

Karya pelayanannya terus digaungkan Katarina selama kurang lebih delapan tahun pasca revolusi. Ia aktif dalam kehidupan religius di komunitas bawah tanah itu. Ia memastikan tidak ada satu pun umat Katolik Mauriac yang meninggal tanpa bekal sakramen.

Untuk memenuhi keinginan komunitasnya, Katarina kerap menampakan diri sebagai seorang pengemis. Ia bahkan menjadi pengemis dari para pendukung revolusi. Pendermanya yang paling banyak adalah para wanita kaya. Tak cuma itu, para simpatisan Gereja juga terlibat membantunya.

Katarina hidup melampui usia revolusi. Ia dikenal sebagai wanita paruh baya yang keluar masuk penjara untuk melayani. Tak seorang pun sipir penjara yang berani menghentikannya. Ia mampu mengembalikan kondisi beberapa biara yang pernah disulap menjadi ruang pertemuan tentara revolusi. Ia juga berhasil mengumpulkan dana untuk restorasi sebuah Gereja paroki.

Katarina berhenti berkarya di usia 82 tahun. Di masa usur itu, kedua kakinya lumpuh total. Hari-hari terakhir sang “malaikat bawah tanah” diisi dengan kehangatan kasih dari kehadiran sahabat-sahabatnya. Ia meninggal dengan tenang pada 4 Juli 1836. Ia digelari venerabilis oleh Paus Pius XII tahun 1953. Paus Yohanes Paulus II tanggal 24 November 1996 menggelarinya beata. Ia dikenang setiap tanggal 4 Juli.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.46 2019, 17 November 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here