Lima Komitmen Tobat

65
[famillechretienne.fr]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tanggal 26 Oktober 2019 sore, waktu Vatikan, para uskup Amerika Latin mengakhiri Sinode mereka yang membahas tema pokok tentang Amazonia. Suasana selama sinode terasa cair dan terbuka. Semua tertambat pada isu pokok “nasib dan masa depan Amazonia, paru-paru bumi”, tempat tinggal 33 juta jiwa, di antaranya 2,5 juta jiwa orang Indian asli.

Dokumen akhir diterima semua peserta, yang terdiri dari 181 uskup. Sinode itu sendiri, sesungguhnya sudah berproses sejak 19 Januari 2018 di Kota Puerto Maldonado, di mana Paus Fransiskus sendiri hadir untuk membukanya. Suatu proses panjang yang dimulai setahun silam untuk “mendengarkan suara penduduk Amazonia”. Selama tiga minggu berada di Roma, para uskup Amerika Latin mengakhiri seluruh proses sinode tersebut, yang terkristal dalam satu dokumen akhir Sinode dengan judul “Kristus Menunjuk ke Amazonia”. Dokumen final Sinode tersebut, terdiri dari lima bab, ditambah pengantar dan kesimpulan.

Benang Merah
Pertobatan merupakan benang merah yang menjahit kesatuan isi dokumen, yang diawali dengan tobat pertama, yakni “Pertobatan Integral”. Intisari tobat integral adalah hidup benar dan melakukan hal yang benar. Sebagaimana dilakukan masyarakat asli Amazonia, yang memiliki gaya hidup harmonis dengan alam. Mereka menghayati hidup sebagai bagian utuh dari alam ciptaan. Mereka diberi hidup oleh alam, serta menjaga relasi harmonis dengan alam.

Hidup benar dan berbuat benar, demi menjamin harmoni hidup dengan alam, kini tergerus oleh hasrat eksploitatif yang merusak alam serta menyebabkan derita, air mata, dan tangisan bumi Amazon bersama putra-putrinya, yang rersingkir dan menjadi miskin. “Tangisan Amazonia, tangisan orang miskin”, akibat eksploitasi dan marjinalisasi demi apa yang disebut pembangunan dan perkembangan ekonomi yang mengabdi hanya kepada mammon.

Yang tidak bisa dipisahkan dari pertobatan pastoral adalah respek pada kearifan dan budaya lokal suku-suku Indian di Amazonia. “Pertobatan Budaya” merupakan pilihan pertobatan kedua yang ditegaskan sinode. Masyarakat Indian Amazonia, seperti masyarakat lainnya di muka bumi, menghormati “ibu bumi” sumber kehidupan. Seluruh refleksi mereka atas kehidupan, diungkapkan dalam bentuk kesucian kerakyatan, seni, musik, lagu dan ritus-ritus asli.

Semua itu menunjukkan hormat dan bakti pada bumi dan Sang Pemilik bumi. Sinode menyepakati, bahwa Gereja Pan-Amazonia mesti menggali, serta menemukan makna sejati dari kearifan dan budaya lokal, karena di dalamnya dapat ditemukan nilai-nilai yang merupakan persemaian bagi pertumbuhan Injil. Sinode juga meyepakakti untuk memiliki jaringan komunikasi antar-Gereja se-Amazonia.

Berada di tengah bumi Amazonia di mana terdengar nyaring “tangisan bumi dan tangisan orang miskin”, Gereja menegaskan komitmen untuk melakukan pertobatan ketiga, yakni “Pertobatan Pastoral”. Pertobatan Pastoral dimaksudkan sebagai kembali ke jatidiri Gereja yakni misi. Gereja ada untuk misi. Misi bukanlah pilihan, tetapi jati diri Gereja. Dokumen mengingatkan, bahwa mewartakan Kristus berarti juga berada bersama serta berhadapan dengan kekuatan penindasan, yang melahirkan derita panjang Amazonia dan masyarakatnya.

Bagi Gereja, hal itu merupakan “peluang historis” – menjalankan tugas profetisnya sambil menyendengkan telinga kepada jeritan putra-putri Amazon yang tersingkir dan melarat. Dengan demikian, pilihan pastoral pada masyarakat asli dan kaum muda, tidak bisa ditawar, seperti halnya pastoral untuk keluarga dan masyarakat miskin kota, penghuni “favelas” (daerah kumuh di kota-kota).

Di hadapan krisis lingkungan hidup yang demikian parah, Sinode Gereja Amazonia bertekad untuk memajukan ekologi yang utuh dengan melakukan pertobatan keempat, yakni “Pertobatan Ekologis”. Semakin disadari, bahwa mengupayakan ekologi yang integral adalah mungkin. Itulah pilihan Gereja yang tidak bisa dipisahkan dari komitmen pada hak asasi manusia, membangun komunitas Amazonia dan membela kehidupan. Dosa ekologis yang paling mengancam kehidupan secara keseluruhan adalah hilangnya hak atas air bersih.

Pertobatan ekologis diharapkan berbuah pada respek terhadap keutuhan ciptaan, serta pengembangan Gereja yang merupakan persekutuan, yang menyadari panggilannya untuk menjadi “penjaga atau pelindung kehidupan”. Untuk itu, dialog budaya dan ekumenis menjadi upaya yang niscaya dilakukan.

Bagi Gereja, pertobatan ekologis dan perlindungan terhadap kehidupan, merupakan panggilan untuk belajar mengatasi setiap kecenderungan memanfaatkan dan memiliki sebagaimana diperlihatkan kaum kolonial masa lalu. Kaum kolonial menyebabkan kerusakan dan kehancuran alam dan kehidupan.

Di bawah tema pertobatan ekologis, dokumen final ini mengajukan makna dosa ekologis; sebagai tindakan atau kelalaian yang melawan Allah, sesama, komunitas, dan lingkungan hidup; melawan generasi masa depan serta kebajikan keadilan. Dalam rangka merawat dan melindungi Amazonia sebagai milik bersama, maka terasa urgen agar politik energi harus serius mengurangi pemanfaatan energi yang menghasilkan CO2 dan pelbagai jenis energi yang berdampak memacu pemanasan global.

Tak cukup hanya menyerukan pertobatan pada umat dan masyarakat, sinode Amazonia juga menggariskan pentingnya pertobatan kelima, yakni “pertobatan sinodal”, di kalangan para pemimpin Gereja, kaum religius serta hierarki. Persoalan lingkungan hidup Amazonia merupakan tantangan bersama, yang juga merupakan tanda-tanda zaman untuk dibaca, dipahami, dan diatasi. Untuk itu, kesatuan dan sinergi pelbagai komponen Gereja, hierarki, awam dan kaum religius, menjadi amat niscaya diwujudkan.

Juga digagas pentingnya memajukan hidup religius “berwarna Amazonia” yang ditandai dengan perjalanan bersama dengan kaum miskin dan marjinal. Formasi imam dan religius perlu mengintegrasikan dimensi interkultural, inkulturasi, dan dialog dengan spiritualitas kosmik Amazonia.

Ritus Amazonia
Dokumen ini juga tidak melupakan pentingnya memajukan peran kaum perempuan. Inilah saatnya perempuan mengambil peran, sebagaimana kearifan lokal Amazonia memandang perempuan sebagai “wujud” Ibu Bumi, yang ada dan hadir sebagai pemelihara hidup serta bertanggungjawab memajukan kemanusiaan. Saatnya, suara perempuan didengar dan diperhatikan, dalam masyarakat serta juga dalam Gereja. Peran perempuan dalam Gereja mesti diperluas dan perlu dipikirkan, bahwa kaum perempuan juga diberi peran dalam kepemimpinan komunitas Gereja. Yang dipikirkan sinode antara lain adalah diakon permanen perempuan.

Keprihatinan lain adalah kurangnya frekuensi Perayaan Ekaristi, karena medan yang sulit dan berat, sehingga para imam mesti berkeliling merayakan Ekaristi untuk umat sebulan sekali, bahkan setahun sekali. Demikian juga pelayanan Sakramen Tobat. Demi menanggapi kebutuhan ini, sinode menggagas tahbisan kaum awam (pria) yang kompeten, dikenal karena kualitas hidup serta pengalaman pelayanan sebagai diakon permanen dan telah memilki pendidikan memadai untuk itu. Seorang diakon permanen yang juga berkeluarga, stabil dan baik serta mampu menjalankan tugas pelayanan sabda dan perayaan sakramen bagi umat yang jauh dan terpencil.

Sinode Amazonia juga menelorkan gagasan mengenai liturgi yang mengintegrasikan visi tentang dunia dari masyarakat Amazonia yang terkristal dalam ritus, simbol-simbol, serta tradisi. Untuk itu, perlu didirikan komisi yang secara khusus mempelajari dan mendalami tradisi, seni, musik, lagu dan ritus-ritus Amazonia; menerjemahkan dan mengadaptasinya, agar memperkaya inkulturasi dan liturgi Gereja.

Liturgi Katolik dapat diperkaya oleh sekitar 23 jenis ritus masyarakat Indian Amazonia. Sinode melihat, bahwa upaya seperti itu merupakan wujud dari desentralisasi dan kolegialitas Gereja Katolik. Pengayaan Liturgi Gereja dengan mengakomodasi pelbagai jenis ritus Amazonia, justru dapat mempertajam “sensitivitas” Liturgi pada tanggungjawab menjaga lingkungan alam serta hubungan manusia dengan air dan tanah. Itulah sebabnya Sinode menyepakati membentuk komisi khusus dengan tugas mendalami, menerjemahkan dan mengintegrasikan ritus lokal, tanpa mengabaikan makna sejati Liturgi Gereja.

Peter C. Aman, OFM

HIDUP NO.46 2019, 17 November 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here