“Cincin Malaikat”

59
“Cincin Malaikat”
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dusun di kaki bukit kapur itu mendadak jadi bahan perbincangan di mana-mana. Viral, istilah zaman sekarang. Dusun yang semula tidak dikenal baik di peta provinsi maupun peta google maps, sekarang semua orang jadi tahu. Dusun Kembang Kapur? Oh, mudah. Turun saja di stasiun kereta api. Lalu naik ojek tradisional. Atau turun di terminal, semua tukang ojek tahu alamatnya.

Meski sudah memasuki zaman digital, namun orang tidak mau meninggalkan pola pikir lama. Di dunia ini masih ada mukjizat. Langit masih saja menurunkan keajaiban-keajaiban. Tidak semua persoalan hidup bisa dipecahkan dengan akal sehat. Semua yang ada di jagad raya ini bisa saja dilihat dengan akal sehat maupun akal jungkir balik. Dengan kacamata iman atau kacamata kuda yang sempit.

Begitulah yang terjadi dan viral di media sosial. Ada seorang warga Dusun Kembang Kapur menemukan cincin ajaib. Cincin yang bisa mengobati segala macam penyakit. Cukup diusapkan pada bagian tubuh yang sakit, maka kesembuhan mendadak bisa diperoleh. Tidak sedikit yang sudah membuktikan. Karena itu mereka berani bersaksi lewat media sosial. Tidak ketinggalan mereka memotret cincin warna keemasan ukuran jumbo. Karena lebih mirip gelang. Malah ada yang menyebut itu cincin malaikat!

Karena kasiatnya yang hebat. Dalam sehari lebih dari 300 pasien datang dari berbagai kota. Akibatnya pemerintah setempat jadi malu. Jalan tanah yang diapit daerah persawahan itu lalu diaspal. Di sepanjang jalan menuju Dusun Kembang Kapur lalu bermunculan puluhan warung. Tanah-tanah kosong disulap jadi lahan parkir. Jalan yang semula sepi sekarang jadi ramai nyaris 24 jam. Masing-masing warung bersaing memutar musik dengan volume yang keras. Yang paling banyak diputar tentu lagu dangdut, tarling koplo, juga campur sari masa kini. Bintang campur sari yang namanya lagi meroket, raja broken heart Didi Kempot, suaranya bisa didengar sepanjang hari.

Di ujung jalan, di bawah pohon munggur, ada tiga warung makan yang beda dibanding yang lain. Ketiga warung itu justru memutar lagu-lagu rohani. Penuh puja-puji bagi Sang Pencipta. Ratusan kali nama Yesus dan Maria muncul dalam berbagai lirik lagu.

“Mas Sam juga mau berobat?” tanya pemilik warung kopi Taman Eden dengan ramah. Seorang laki-laki setengah umur. Di dadanya bergantung salib ukuran besar. Di dinding warung dipajang gambar orang-orang kudus

Aku tersenyum. Sambil menyeruput kopi kulirik pembeli di dekat pintu. Sepasang suami-isteri yang masih muda.

“Mereka itu sudah lima tahun berumahtangga, namun belum dikaruniai anak. Lalu datang ke rumah Mbah Sonyawangsa minta berkat dari cincin malaikat,” bisik Pak Robert pemilik warung.

“Sekarang sudah hamil?” tanyaku.

“Baru datang dua kali, Mas. Paling tidak sembilan kali.”

“Kok mirip novena?” tanyaku.

“Iya betul. Angka 9 itu keramat, Mas Sam.”

“Bukankah Tuhan hanya mencipta jagad seisinya selama 6 hari. Mestinya angka 6 yang keramat.”

“Lho, kita sudah terlanjur percaya angka 9 itu yang keramat. Angka paling tinggi. Coba Mas Sam perhatikan, angka 6 itu kalau dibalik ya jadi angka 9. Jadi hakikatnya, 6 itu bisa jadi 9, sedang 9 bisa jadi 6. Hebat, bukan?”

Aku seperti kena knock out Benar juga. Ternyata di dalam pengajaran iman pun diperlukan otak-atik angka. Bisa jadi angka 3 pun menjadi keramat karena pada hari ke-3 Yesus bangkit dari kubur. Lalu angka 40 juga menjadi angka keramat karena selama 40 hari sesudah wafat-Nya baru turun Roh Kudus. Begitu juga angka 2 dan 5. Karena dalam Kitab Suci Yesus juga menyebut 5 roti dan 2 ikan.

Hmm. Andaikata pemerintah masih mengizinkan adanya Nalo atau Nasional Lotere, maka angkat-angka itu pasti bisa dipakai para peramal nomer.

“Jadi Mas Sam mau ketemu Mbah Sonya wangsa?” tanya Pak Robert.

“Aku ingin tanya saja, bagaimana ia bisa memperoleh cincin malaikat itu,” jawabku.

“Lho, bukankah kisahnya sudah viral di media sosial? Apakah Mas Sam belum pernah membaca?”

“Kisah itu bukan keluar dari mulut Mbah Paulus Sonyawangsa. Bukankah Pak Albert sendiri yang cerita kepada para pasien lalu diviralkan?”

Laki-laki itu mengangguk dan menahan senyumnya.

Kisah penemuan cincin malaikat yang sudah viral itu sekilas memang masuk akal. Mbah Paulus Sonyawangsa bertapa 40 hari 40 malam di goa kapur di luar dusun. Selama itu pula orang-orang seiman di dusun ikut mendukung dengan doa-doa. Persis pada malam ke-40 tiba-tiba laki-laki itu kejatuhan benda. Setelah diamati ternyata sebuah cincin ukuran besar. Sesuai wisik yang diterima, cincin itu punya kasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Mula-mula beberapa penduduk dusun yang sakit diobati. Mereka sembuh. Kabar itu segera menyebar dengan cepat. Meski di samping kantor kelurahan ada Puskesmas pembantu, bahkan sebagian besar dari mereka ikut program BPJS, namun mereka memilih datang ke rumah Mbah Paulus Sonyawangsa.

Lalu muncullah kisah-kisah berbau mukjizat dan keajaiban dibungkus dengan ajaran iman. Puluhan pasien disembuhkan dari sakitnya secara ajaib. Hanya disentuh cincin yang ada di tangan Mbah Paulus Sonyawangsa mereka merasa sembuh.

Malam itu meski dilarang Pak Albert dan kawan-kawannya, aku bersikeras ingin menemui Mbah Paulus Sonyawangsa dan melihat langsung cincin malaikat miliknya. Baru pukul 2 dini hari aku diterima setelah pasien terakhir meninggalkan ruang praktek. Di ruang lain sekilas kulihat ada sepuluh orang sedang menghitung uang.

“Apa yang bisa saya berikan untuk Mas Sam? Ribuan orang sudah menulis kisahnya, juga memberi kesaksian. Apakah ada yang kurang?” tanya Mbah Paulus Sonyawangsa. Laki-laki itu belum tua. Kulit wajahnya belum berkeriput. Hanya nampak tua karena rambutnya gondong, kumisnya lebat dan berjenggot.

“Hanya satu pertanyaan yang ingin kuajukan, Mbah. Apakah semua kisah itu benar, para pasien sembuh konon berkat cincin malaikat?”

Laki-laki itu menatapku tajam. Ia tidak segera menjawab. Ia balas kutatap tajam-tajam.

“Sekali lagi kuulang pertanyaanku. Apakah semua kisah itu benar? Juga kesaksian-kesaksian para pasien?” tanyaku dengan penuh tekanan.

Mbah Sonyawangsa bibirnya tampak bergetar. Ia lalu mengangguk-angguk. “Tidak benar,” katanya lirih. “Kami berbohong. Tetapi kebohongan yang membawa manfaat besar buat kami yang minoritas dan terpencil ini. Mas Sam lihat sendiri, jalan ke dusun jadi lebar dan mulus. Para pemuda mendapat penghasilan dari parkir. Orang-orang bisa membuka warung. Uang yang kami peroleh itu kelak untuk modal usaha seluruh warga dusun. Apakah kami berdosa?”

“Jadi semua ini diskenario?”

“Ya! Apakah Tuhan marah?”

Aku mengangkat bahu. Lalu ingat di luar rumah ratusan pasien masih menunggu. Mereka tidur di rumah-rumah warga dusun yang disewakan.

Apakah kami berdosa? Apakah Tuhan marah?

Ah, siapa yang bisa menjawab!

Jalan Kaliurang, 2019

Budi Sardjono

HIDUP NO.46 2019, 17 Novenber 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here