Keadaban Baru : Menjadi Pusat Pembelajaran

41
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung akan merayakan ulang tahun ke-65 pada hari Jumat, 17 Januari 2020. Perjalanan panjang universitas swasta tertua di Jawa Barat dan Banten (Tatar Sunda) telah mengalami “jatuh-bangun”. Dalam perjalanan
panjang ini, Unpar ingin tetap menjadi perguruan tinggi yang terhormat dan menjadi pilihan orang muda Indonesia. Gerak langkah di awal pendirian dengan segala keterbatasan yang ada, namun tetap mengusung semangat “menjadi yang terbaik.”

Saat ini, Unpar tergabung dalam APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katoiik) dan ASEACCU (Asosiasi Perguruan Tinggi Asia Timur dan Asia Tenggara). Dengan semboyan: “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bakti” (Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan kepada Masyarakat), Unpar berusaha menjadi terang dan garam dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tingkat lokal, nasional, dan global. Tujuan visioner Unpar adalah mendidik insan yang tangguh dan berkepribadian, serta bertanggung jawab pada bangsa. Kepriha tinan dan komitmen keugaharian secara kolektif institusional dan intelektual, perlu di rawat dan dikembangkan bersama.

Menjadi yang Terbaik
Rektor Unpar, Mangadar Situmorang mengungkapkan bahwa Universitas Katolik haruslah menjadi universitas yang terbaik. Makna Katolik yang disandang Unpar, berarti menjadi yang terbaik. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan, inspirasi dan motivasi dalam gerak Unpar ke depan. Unpar akan ditinggalkan bila tidak menjadi yang terbaik. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah kompetisi atau persaingan. Banyak perguruan tinggi yang bagus memberikan pelayanan pendidikan tinggi dengan menghasilkan peserta didik yang mumpuni, berempati dan kompeten. Beragam tawaran nilai pun diusung para penyelenggara pendidikan tersebut.

Dalam persaingan itu kita bicara soal kualitas. Penguatan identitas Unpar yang sudah dilakukan ialah merumuskan Spiritualitas dan Nilai-nilai Unpar (Sindu) yang digali dari nilai-nilai luhur, berdasarkan spiritualitas Katolik dan semangat para pendiri Unpar. Civitas academia Unpar (Unparian) berusaha belajar bersama lintas generasi mendalami Sindu. Salah satu cara adalah Sindu menjadi materi wajib dalam pekan orientasi dan pengenalan kampus. Para dosen dan tenaga kependi dikan muda pun diajak mendalami Sindu,” papar Mangadar ketika ditemui akhir tahun 2019
lalu.

Berdasarkan informasi dari Majalah Parahyangan, saat ini nilai akreditasi Unpar meningkat dari B menjadi A pada tahun 2017. Dari 16 program sarjana, 14 terakreditasi A dan dua terakreditasi B
(Teknik Informatika dan Mekatronika yang baru dibuka pada 2015 lalu). Terdapat 10 program magister, dua di antara nya telah terakreditasi dengan peringkat A (Arsitektur dan Teknil Sipil) dan terdapat dua program magister baru juga telah
Dok Unpar terakreditasi B (Magister Hubungan Internasional dan Magister Administrasi Bisnis). Sementara itu terdapat empat program doktor yang semuanya terakreditasi dengan peringkat B (Ilmu Ekonomi, Ilmu Hukum, Arsitektur, dan Teknik Sipil). Sedangkan Akreditasi Internasional sudah dicapai oleh bidang Akuntansi, sementara bidang Teknik Sipil dan Teknik Kimia sedang memasuki tahap kedua dalam pengajuan akreditasi internasional.

Di samping itu, ada juga penurunan peringkat. Unpar saat ini merupakan salah satu dari 22 perguruan tinggi di Indonesia yang masuk ke dalam 450 perguruan terbaik se-Asia. Pada tahun 2018 yang lalu, Unpar adalah salah satu dari 17
perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam 400 perguruan tinggi terbaik se-Asia. Apapun kriteria dan spesifikasi yang dibuat, meskipun mengalami pergantian peringkat, bagaimanapun Unpar tetap berada dalam posisi terhormat. Beberapa capaian akademik pun ditorehkan, salah
satunya meraih peringkat mahasiswa berprestasi L2 DIKTI Jawa Barat. Pencapaian non akademik di tingkat internasional, misalnya Mahitala (Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam) Unpar yang berhasil mencapai tujuh puncak di tujuh benua. Prestasi yang ditorehkan oleh empat orang pendaki mahasiswa (2011) dan dua orang pendaki mahasiswi Unpar (2018).

Jumlah mahasiswa setiap tahun meningkat. Saat ini sebanyak 10.600 orang. Unpar berhasil melakukan pembaharuan kurikulum 2016, mengembangkan sistem informasi baru dan digital (IDE), serta inisiasi pengelolaan kampus hijau.
Peningkatan layanan pendidikan tinggi dengan penambahan 72 orang dosen baru. Kenaikan jabatan fungsional dosen, antara lain dengan penambahan jumlah Guru Besar, dan beberapa dosen yang menyelesaikan program doktoral.
Di samping itu, hal yang konsisten dan kontinu berjalan, yaitu: penelitian dan publikasi, aktivitas menjalin komunitas, dan penerapan Sindu.

RPJP Unpar 2040
Unpar mempertahankan kualitas dengan membuat Rencana Program Jangka Panjang (RPJP) Unpar hingga 2040. Pilihannya bukan pada 2045 (100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia) atau 2055 (100 tahun Unpar). Alasan rasionalnya adalah keterjangkauan proyeksi masa depan hingga 20 tahun ke depan. Diharapkan selama 20 tahun, dapat mempermudah prediksi situasional, serta
sebagai bentuk kehati-hatian dan rendah hati menatap masa depan.

Unpar 2040 dirumuskan sebagai Unpar yang sudah terlibat dalam inisiasi keadaban baru. Keadaban baru yang dibayangkan adalah sangat kental dengan digitalisasi. Secara filosofis dan konseptual berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan yang melihat perkembangan teknologi informasi, digitalisasi, Revolusi Industri
4.0, dan lain-lain. Banyak orang yang masih belum jelas tentang keadaban baru ini.

Untuk itu, dibuatlah beberapa seminar dan workshop sesuai bidang keilmuan dari fakultas yang ada di Unpar. Dalam perspektif filosofis melibatkan Fakultas Filsafat. Dalam hal legalitas (regulasi pendidikan tinggi) melibatkan Fakultas
Hukum.

Dalam hal pengembangan internet of things, artificial intellegence, computational thinking melibatkan Fakultas Teknik Industri. Dengan demikian, diharapkan dapat dibangun sebuah kesadaran kolektif elemen-elemen keadaban baru ke depan.

RPJP Unpar 2040 menetapkan bahwa Unpar dapat menjadi universitas referensi. Referensi pembelajaran yang dimaksud adalah menjadi role model young student centered approach (pendekatan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa), pendekatan problem base solving approach (pendekatan pemecahan masalah), young community service approach (pendekatan komunitas pelayanan orang muda). Hal yang menjadi dasar adalah proses kolegial dalam proses pembelajaran (Student Centered Learning).

Ukuran atau indikator dalam mencapai universitas rujukan digambarkan sebagai berikut. Pertama, proses kolegial yang dimaksud adalah mencari kebenaran, menggali kebenaran, mendiseminasi kebenaran, dan mengembangkan kebenaran
akademik.

Kedua, sumber rujukan pengembangan keilmuan lintas disiplin. Sebagai contoh Ilmu Hukum bukan berbicara tentang pasal per pasal saja, melainkan perlunya pemahaman di bidang lain seperti kesehatan, teknologi, struktur konstruksi yang saling bertautan satu sama lain. Ketiga, keunggulan dalam membangun kepatuhan hukum, ketertiban, penegakan HAM, keberpihakan kepada yang tersisih. Keempat, keunggulan dalam membangun pluralitas, kemajemukan, toleransi.

Dengan indikator tersebut di atas, makna Universitas Katolik Parahyangan menjadi sangat bermutu dan mampu menjadi referensi akan menjadi kenyataan. Mangadar pun menegaskan bahwa melakukan hal-hal di atas itu berat, namun
tetap dalam posisi terhomat.

Edy Suryatno, Martinus Ifan (Bandung)

HIDUP NO.02 2020, 12 Januari 2020

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here