Marie Collins : Penyintas Pelecehan Seksual Menolak Diam

87
Marie Collins.
[ncronline.org]
Marie Collins : Penyintas Pelecehan Seksual Menolak Diam
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Ia pernah mengalami pelecehan seksual dengan pelaku seorang pastor. Selama bertahun-tahun ia mengalami gangguan mental. Ia menolak diam, demi keadilan bagi korban.

Peristiwa tersebut tak pernah lepas dari ingatan Marie Collins. Kala itu, ia masih berusia 13 tahun. Suatu ketika, ia harus menginap beberapa minggu di rumah sakit (RS) untuk menjalani operasi. Collins agak berat hati. Namun ia tak kuasa; ia mesti berpisah sementara dari orangtuanya. Ini pertama kali, ia tinggal seorang diri di RS.

Orangtuanya tak merasa waswas, lantaran seorang pastor berjanji akan menjaga Collins. Di sinilah peziarahan derita Collins bermula. Suatu hari, sang pastor mulai menyentuh tubuh Collins. Mula-mula, Collins biasa-biasa saja, karena yang melakukan seorang pastor. Tapi, perlahan ia merasa risi. “Jangan sentuh aku lagi!” gertak Collins.

Gertakan itu ternyata tak mempan. Sang pastor malah semakin nekat. “Dia justru berkata bahwa seorang pastor tak pernah berbuat salah,” kisah Collins menirukan perkataan sang pastor.

Gangguan Mental
Bagi gadis yang baru menginjak usia remaja, Collins percaya perkataan sang pastor. Apalagi Collins tumbuh dalam lingkungan dan tradisi Katolik di Irlandia.

Di sinilah Collins mengalami pecelehan seksual yang dilakukan pastor, seorang yang amat ia hormati. Meski merasa tak nyaman, ia memilih menyimpan seluruh pengalaman buruk itu dalam hati. Ia mengunci rapat mulutnya.

Saat kembali ke rumah, pribadi Collins berubah total. Gadis remaja yang semula dikenal amat periang, tiba-tiba menjadi pendiam. Ia tak tertarik lagi bermain bersama saudara dan rekan sebaya.

Empat tahun kemudian, ia divonis menderita gangguan mental. Ia menderita agoraphobia; merasa takut dan cemas berlebihan, serta cepat panik, malu, dan tak berdaya. Berkali-kali, ia mesti menjalani terapi di RS. “Setelah peristiwa itu, cara berpikirku berubah total. Aku selalu memandang diriku sebagai orang jahat yang telah melakukan sesuatu yang sangat buruk. Aku benar-benar tenggelam dalam rasa bersalah dan jauh dari keinginan untuk memberi tahu siapa pun. Aku tidak ingin ada yang tahu tentang hal itu,” cerita Collins.

Pelan-pelan, Collins mencoba meredakan “gangguan” itu. Ia menikah dan memiliki seorang putra. Namun, “gangguan” itu rupanya tak bisa lepas begitu saja. Ia pun kehilangan beberapa momen bahagia bersama keluarganya.

Saat berusia 47 tahun, ia baru membuka kisah kelam itu kepada seorang dokter yang merawatnya. Sang dokter menyarankan agar Collins membuka rahasia itu kepada pastor yang ia percaya.

Mengikuti saran sang dokter, Collins mendatangi seorang pastor di parokinya yang ia kenal baik. Jawaban sang pastor justru membuat Collins kian terpuruk. “Aku diminta agar tidak menyebutkan nama pastor yang telah melakukan pelecehan itu. Aku juga diposisikan sebagai yang bersalah,” kisahnya.

Collins pun pulang dengan tertunduk malu. Ia kembali ke kubangan rasa salah. Tapi, ia tetap menyimpan seluruh pengalaman buruk itu dalam hatinya.

Mendampingi Korban
Pada medio 1990-an, laporan tentang pelecehan seksual yang dilakukan kaum klerus mulai bermunculan. Collins menyimak kisah-kisah itu dengan antusias. Melalui aneka kisah itu, ia mengumpulkan energi untuk “melawan”.

Akhirnya, ia memberanikan diri datang ke keuskupan menemui seorang uskup agung. Ia mengisahkan semua pengalaman pahit yang ia alami. “Aku berkata, ‘Apakah itu benar secara moral?’ Dan uskup agung itu mengatakan bahwa semua itu tidak ada hubungannya dengan moralitas,” ujar Collins. Padahal sang pastor pelaku pelecehan seksual terhadap dirinya, ternyata melakukan hal serupa ke banyak anak-anak.

Dari pertemuan dengan uskup agung itu, Collins merasa ditolak. “Gereja tidak akan menutupi mereka yang mencuri dana paroki. Tetapi Gereja menutupi mereka yang telah memperkosa anak-anak kecil!” protesnya keras.

Sejak itu, Collins bertekad menjadi pendamping dan advokat bagi para korban pelecehan seksual, terutama yang dilakukan kaum klerus. “Ini bukan tentang keberanian. Tetapi aku sangat marah! Hidupku telah dihancurkan. Aku kehilangan masa selama bertahuntahun. Aku tak ingin orang lain memiliki pengalaman serupa aku. Aku bertekad melakukan sesuatu.”

Dan benar. Bersama para penyintas kasus pelecehan seksual, Collins menggalang solidaritas dan menempuh jalur hukum. Alhasil, sang imam yang melakukan pelecehan terhadap Collins dan anak-anak yang lain dibui pada 1997. Bagi Collins, ini bukanlah aksi balas dendam, tetapi sebuah konsekuensi bagi seorang pelaku kejahatan.

Semenjak itu, Collins menceburkan diri dengan mendampingi anak-anak korban pelecehan seksual, terutama di Irlandia. Melalui Yayasan Marie Collins, ia membantu anak-anak yang dilecehkan. Memanfaatkan berbagai media, ia berkampanye tentang perlindungan anak-anak, keadilan bagi korban pelecehan seksual kaum klerus, serta memberikan pemahaman tentang dampak buruk pelecehan seksual terhadap tumbuh kembang anak-anak. Pada 1985, Collins juga mendirikan komunitas “Aware”, yang memberikan dukungan bagi orang-orang depresi akibat pelecehan seksual.

Meski pernah mengalami pelecehan seksual, iman Collins tak surut. Ia justru membantu Keuskupan Agung Dublin mendirikan lembaga pelayanan perlindungan anak serta menyusun kebijakan perlindungan anak untuk Gereja Irlandia, yang diberi nama “Our Children Our Church”.

Pada 2010, Collins menerima penghargaan Irish Humbert Summer School. Ia juga menjadi anggota dewan pendiri komunitas advokasi dan konseling bagi para penyintas pelecehan seksual bernama “One in Four” di Irlandia.

Berbagai kasus pelecehan seksual dengan pelaku kaum klerus terus bermunculan menerpa Gereja Katolik. Para Kardinal menilai, ini sebuah masalah yang amat serius.

Desember 2013, Dewan Kardinal mengusulkan kepada Paus Fransiskus agar membentuk satu lembaga untuk menangani kasus-kasus ini. Bapa Suci pun merespon dengan menunjuk Uskup Agung Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, Kardinal Seán Patrick O’Malley OFMCap membentuk lembaga tersebut.

Lembaga itu kemudian dinamai The Pontifical Commission for the Protection of Minors. Kardinal O’Malley diangkat sebagai presiden komisi ini. Pada 22 Maret 2014, Paus Fransiskus menuliskan bahwa tugas komisi ini adalah memberikan nasihat kepada Paus tentang kebijakan yang efektif untuk perlindungan anak di bawah umur dan orang dewasa rentan, serta program pendidikan untuk semua yang terlibat dalam pekerjaan ini.

Pada saat itu, Paus Fransiskus menunjuk delapan anggota komisi yang pertama. Mereka dipilih dari berbagai latar belakang, pria dan perempuan, umat awam, religius, dan pastor. Nama Collins ada di daftar yang disodorkan Paus.

Collins merasa senang atas penunjukkan dirinya. Sosok Collins dianggap cocok berada di komisi itu. Ia seorang korban, sekaligus pendamping bagi para korban. Bersama anggota komisi lain, Collins rajin memberikan masukan, terutama dalam upaya penanganan para korban pelecehan seksual. Ia juga pergi ke berbagai negara untuk menyuarakan pencegahan pelecehaan seksual, terutama pada anak-anak dan perempuan.

Sejarah Mencatat
Meski demikian, Collins kerap bersua jalan terjal dan tembok kuat dalam Gereja. Tak jarang, upayanya memberikan masukan terhadap penanganan kasus pelecehan dengan pelaku kaum klerus mendapat penolakan hebat dari pejabat Gereja.

Puncaknya pada 1 Maret 2017. Ia memilih undur diri dari komisi tersebut. “Saya merasa tidak bisa berada di ‘dalam’. Saya memilih berada di luar, agar tetap bisa memberikan kontribusi bagi Gereja,” ujar Collins.

“Sejarah akan mencatat, apakah Gereja Katolik berani bertindak, atau hanya sekadar niat!” ucapnya, melanjutkan.

Y. Prayogo

HIDUP NO.47 2019, 24 November 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here