Merefleksi Diri

138
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Myengko Seo, seorang penulis tentang bagaimana Negara Indonesia mengurus agama, berpendapat bahwa di Indonesia agama lebih fokus kepada masalah administratif daripada sebagai sumber spiritualitas. Dia meneliti betapa kerasnya orang Indonesia mengurusi tentang masalah perpindahan agama, terutama yang berhubungan dengan pernikahan (Seo 2013).

Meski tidak sepenuhnya setuju dengan pemikiran seoa, tetapi saya melihat adanya realitas ketakutan di balik pemikiran ini. Hal ini berhubungan dengan ketakutan orang-orang beragama kalau-kalau saudara seimannya berpindah agama. Padahal, pertanyaannya yang lebih penting adalah, “Sejauh mana saya membantu saudara-saudara saya menemukan kerohanian yang mendalam sehingga ia tidak tertarik pada agama lain?” Pertanyaan ini terasa lebih menggugah hasrat berubah daripada pertanyaan, “Mengapa agama lain menarik saudara saya untuk berpindah ke agamanya?” Namun itulah masalahnya, di negeri ini yang lebih berkembang adalah isu-isu “Kristenisasi” dan “Islamisasi” daripada isu perjuangan agama agar imannya semakin dirasakan manfaatnya oleh umat dan masyarakat. Di sini saya lalu ingat sabda Yesus, “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah” (Mat 5: 15).

Beberapa hari ini, sebagian umat mengungkapkan kegelisahan karena ada banyak artis kristiani berpindah agama dan disiarkan di berbagai media sosial. Mereka bertanya, “Romo, mengapa agama lain suka sekali merebut umat kita?” Saya menjawab, “Kalau di dalam ada kehangatan, tidak mungkinlah mereka berpindah ke tempat lain. Mari bertanya, apakah komunitas kita masih hangat?” Diskusi lalu berlanjut dengan perbincangan tentang berbagai keprihatinan di kalangan umat dan Gereja. Saya mengungkapkan tentang munculnya “Para Anonim Gereja.” Mereka adalah orang yang ke Gereja natal dan paskah, bertahun-tahun tidak mengaku dosa, bertahun-tahun terpepet oleh pernikahan yang tidak sah, bertahun-tahun tidak pergi ke Gereja, atau hanya dibaptis tanpa menjalankan ajaran Katolik. Para anonim ini meliputi juga mereka yang karena keadaan tidak bisa datang dan terlibat di Gereja: orang-orang tua, para tahanan, orang-orang miskin, dan para pengungsi. Di satu sisi keterlibatan mereka dalam Gereja terbatas, sementara di sisi yang lain pelayanan Gereja kepada mereka pun tidak optimal.

Dialog kami menjadi lebih menarik. Daripada menyalahkan orang lain, peristiwa ini kami jadikan sarana berefleksi tentang pelayanan Gereja. Di era penyebaran informasi yang bebas ini tidak mungkinlah membatasi pemberitaan, termasuk pemberitaan agama. Banyak media sudah sampai ke ruang-ruang privat. Namun, satu hal yang tidak pernah bisa digantikan adalah pertemuan pribadi. Oleh karenanya, perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Dalam hal ini, baiklah mengikuti kata bijak, “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.”

Di dalam hal ini, saya tidak terlalu optimis bahwa pesan ini mudah diterima. Ketakutan akan invasi dari pihak lain menjadi ketakutan yang nyata. Di dalam teori sosial ini dikenal sebagai kepanikan moral yang lahir karena ada ancaman yang tampaknya sangat dekat dengan diri kita. Stanley Cohen mengatakan, “Kadang obyek panik ini memang hal yang baru, tetapi tak jarang merupakan hal yang sudah berlangsung lama, tetapi tiba-tiba tampak lebih jelas. Kepanikan ini bisa saja cepat berlalu, tetapi ada pula yang terus bertahan dan mengubah cara orang melihat dirinya sendiri dan masyarakatnya (Cohen 2011, 1). Dalam hubungannya dengan kehidupan sosial, isu perpindahan agama ini sangat rentan dipolitisir sebagai sarana untuk membuat orang menggambarkan orang lain sebagai ancaman. Namun, apakah kita harus menjadi kaum yang mengalami kepanikan moral?

Gereja Katolik memiliki begitu banyak sarana untuk membantu orang mencapai kehangatan spiritual. Mungkin kita saja yang belum cukup menggali kekayaan itu. Menurut saya, pilihan untuk melihat orang lain sebagai ancaman bukan cara bermasyarakat yang tepat. Pertanyaan yang lebih tepat adalah bagaimana menemukan kembali kehangatan spiritualitas dalam agama Katolik. Kalau kehangatan iman semakin dirasakan, bukan hanya umat kita yang akan mengalami berkah, tetapi juga umat dari berbagai agama. Namun, jika komunitas kita semakin dingin, bukan hanya orang lain yang tidak respek kepada kita, tetapi umat kita pun akan mempertanyakan, “Apakah saya berada di tempat yang tepat?”

Martinus Joko Lelono

HIDUP NO.47 2019, 24 November 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here