Agama yang Tetap Relevan

78
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Bagaimana agama-agama menempatkan diri agar tetap relevan di tengah dunia yang pluralistik? Mengupas pertanyaan besar itu, Uskup Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM membahasnya dalam beberapa bagian di bukunya Agama dalam Masyarakat Post-Sekular.

Bagian pertama buku diberi judul “Memberi Nama pada Zaman Ini: Post-Sekular ?” Mgr. Narko, sapaannya, menjelaskan, bahwa setiap agama dapat saling belajar satu sama lain sehingga masing-masing pihak memainkan peran yang tepat dalam negara demokratis (hlm. 16-17). Untuk konteks Indonesia, Mgr. Narko melihat, pilihan demokrasi yang khas Indonesia, dan perdebatan soal Dasar Negara pada awal kemerdekaan, menandakan secara normatif, konsep post-sekular sudah dihadapi bangsa ini.

Kedua , bagian yang berjudul “Agama di Ruang Publik: Antara Liberalis Medan Komunitarisme”. Pada bagian ini, Mgr. Narko mendiskusikan secara lebih spesifik tantangan masyarakat post-sekular terkait peran agama dalam percaturan kehidupan. Dalam kaitan dengan itu, ia menghadirkan perdebatan antara liberalis medan komunitarianisme. Liberalisme dalam arti tertentu memaksa agama untuk bermukim di ruang privat dan tidak mengotori ruang publik dengan simbolsimbol yang partiular. Sementara, kaum komunitarian mengklaim agama-agama punya andil dalam masyarakat, sebagai sumber pandangan hidup dan manusia riil selalu terikat dengan budaya, agama, etnis, dan lain-lain.

Ketiga, setelah mendiskusikan tantangan masyarakat post-sekular, penulis menyajikan, bahwa menentukan mana yang harus dipilih antara dua kutup perdebatan tersebut bukan kapasitas agama atau teologi. Yang mendesak ditanggapi oleh agama dan teologia adalah menentukan dan menemukan posisi epistemis atau rasionalitas iman di hadapan kenyataan agama dan pandangan hidup yang plural, otoritas ilmu pengetahuan.

Selain itu, agama dan teologi dituntut menemukan sikap yang tepat di hadapan fakta, bahwa yang berlaku dalam politik adalah bahasa-bahasa sekular. Dalam kerangka Gereja Katolik, Konsili Vatikan II dengan Dignitatis Humanae, ini merupakan upaya menemukan posisi epistemis atau rasionalitas iman itu.

Tantangan utama masyarakat postsekular adalah dalam menentukan peran agama di ruang publik. Akhirnya, tidaklah berlebihan kalau dikatakan, bahwa buku ini layak dibaca oleh semua kalangan. Pasalnya, buku ini menguraikan secara mendalam bagaimana seharusnya agama
atau teologi mengupayakan diri agar tetap relevan di zaman post-sekular ini.

Judul : Agama dalam Masyarakat Post-Sekular
Penulis : Prof. Dr. Adrianus Sunarko, OFM
Penerbit : OBOR, 2019
Tebal : XV+79 hlm

Rian Safio

HIDUP NO.47 2019, 24 November 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here