Menemui Keheningan

247
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Penghujung tahun 2019 lalu, , Tumpang, Malang, Jawa Timur, merayakan hari jadinya yang ke-40. Momentum ini dirayakan dengan Perayaan Ekaristi meriah. Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo menjadi selebran utama didampingi Uskup Malang, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm, Romo Yohanes Indrakusuma, CSE dan sejumlah imam lainnya. Hadir para suster dari Kongregasi Putri Karmel dan frater-imam dari Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE), dan umat dari beragam kalangan dan asal.

Pertapaan Karmel atau juga dikenal sebagai Pertapaan Ngadireso tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panggilan Romo Yohanes Indrakusuma. Awalnya imam yang tadinya menjadi anggota Ordo Karmelit (Ordo Fratrum Beatissimæ Virginis Mariæ de Monte Carmelo/ O.Carm) ini ingin hidup menyepi dan menyendiri di Ngadireso, tentu atas seizin pimpinan Ordo Karmelit pada masa itu. Ia ingin lebih mendalami spiritualitas para pertapa klasik dalam Gereja Katolik seperti Nabi Elia, Santo Yohanes dari Salib, Santa Theresia dari Avila, Santa Theresia dari Liseux, dan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus.

Cara hidup yang dijalani Romo Yohanes rupanya menarik minat beberapa suster dari tarekat lain yang secara sadar dan atas persetujuan tarekatnya untuk mengikuti cara hidup imam yang dikenal sebagai salah satu tokoh gerakan pembaruan Karismatik di Indonesia itu. Singkatnya, makin banyak orang muda (perempuan dan laki-laki) yang tertarik dengan spiritulitas baru ini. Romo Yohanes kemudian mendirikan tarekat untuk suster (Putri Karmel, 1982) dan frater-imam (CSE, 1986). Dua terekat ini kini berkembang dan berkarya di sejumlah keuskupan di Indonesia, juga di mancanegara. Selain itu, lahir pula komunitas khusus awam (Komunitas Tritunggal Mahakudus, 1987). Jumlah anggotanya bertumbuh pesat hingga saat ini.

Pertapaan ini memberikan pelayanan kepada setiap umat yang ingin mengalami pembaruan hidup rohani (pertobatan) atau pun penyembuhan luka-luka batin melalui beragam retret dan pelayanan rohani. Setiap tahun ribuan orang muda datang ke Ngadireso untuk mengikuti retret yang dilayani para suster Putri Karmel dan frater CSE.

Spiritualitas komtemplatif yang ditawarkan Romo Yohanes Indrakusuma tampaknya mampu menjadi salah satu jawaban, atas dahaga dan kehausan rohani manusia zaman ini. Begitu juga dengan komunitas (tarekat) yang ia dirikan, sebuah komunitas komtemplatif yang tidak menutup diri secara total tapi juga membuka diri pada pelayanan aktif. Entah umat yang datang ke pusat pertapaan atau mereka (Putri Karmel dan CSE) yang datang untuk memberikan pelayanan rohani berupa retret atau Misa penyembuhan bagi umat di pelbagai tempat, keuskupan, dan negara.

Manusia zaman saat ini tampaknya makin membutuhkan keheningan. Menarik diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan ‘menemui’ keheningan untuk menyadari kehadiran Allah yang penuh kasih dan kedamaian. Di Pertapaan Karmel, keheningan itu ditemukan.

HIDUP NO.03 2020, 19 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here