Menjembatani Ragam Perbedaan

17
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Selain menumbuhkembangkan iman umat, Gereja
berperan menjadi pemersatu tanpa menghilangkan identitas mereka sebagai Cina Benteng.

Dalam buku baptis 1948, Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Tangerang didirikan tahun 1952 dengan nama semula “Hati Maria Tak Bernoda”. Vikariat Apostolik Batavia saat itu, Mgr. Petrus Willekens mengutus Romo Jacobus Van Leengoed berkarya di Tangerang. Tepatnya 23 Mei 1948, dilakukan pembaptisan pertama atas nama
Erick Van Ameron.

Saat itu penduduk Tangerang terdiri dari dua suku besar yakni orang Cina Benteng dan orang Banten. Hal ini mendorong Mgr. Willekens menambah tenaga pelayan pastoral dengan mengutus Romo Laurentius Van Der Werf, SJ. Sebelumnya, Romo Van Der Werf berkarya sebagai Kepala Paroki
Mangga Besar, Jakarta Pusat. Hingga saat ini, Paroki Tangerang dilayani oleh para imam Serikat Jesus (Societas Iesu/SJ).

Gembala Baru
Berdasarkan buku Perziarahan Cisadane, sekitar tahun 1977 terjadi banyak perubahan di Tangerang. Lahan yang tadinya kebun karet berubah menjadi kompleks perumahan dan real estate. Maka tidak dipungkiri, kota ini mulai ramai didatangi pendatang yang mayoritas karyawan.

Begitu juga dengan Paroki Tangerang. Januari 1977 umat paroki ini mendapat seorang gembala baru yakni Romo F. X. Tan Soe Ie, SJ. Selama ini, selain limpahan umat dari luar daerah, pertumbuhan umat Paroki Tangerang dipengaruhi oleh penduduk asli dari kalangan Cina Benteng.

Menurut Irwan dan Mumu, Romo Tan, sapaan akrabnya Romo F. X. Tan Soe Ie, SJ, adalah pribadi yang terbuka. “Jika hendak membantu seseorang, Romo Tan tidak pikir lama, langsung ia lakukan, nothing to lose” jelas Irwan.

Hal yang sama yang diungkapkan Mumu. Setelah ibunya meninggal, Mumu yang masih duduk di bangku sekolah datang ke Romo Tan untuk meminta keringanan biaya sekolah. “Saat itu ia seperti tidak berpikir dua kali. Langsung membuatkan saya surat keterangan untuk diberikan ke TU sekolah,” ungkapnya.

Bahkan dulu, guru agama Katolik Mumu adalah Romo Tan. Mumu mengingat kenangan bersama Romo Tan. Beberapa kali, ia dan teman-teman diajak jalan-jalan. Salah satunya menyusuri Tanjung Kait. “Itu terdengar sampai di telinga keluarga kami. Dari situ kesan terhadap Romo, baik dan dekat dengan umatnya,” tambah Mumu.

Irwan mengatakan bahwa sosok Romo Tan menjadi contoh untuknya saat menjadi Ketua Lingkungan. “Didampingi oleh Romo William Kuyt, SJ, Romo Tan suka blusukan ke rumah umat. Kadang jam 11 malam pun ketok pintu rumah kami. Cara ini saya terapkan, saya kerap kali berkunjung ke rumah umat dan alhasil mengenal umat lingkungan saya dengan baik,” ungkapnya. Kunjungan yang dilakukan Romo Tan ini tidak hanya kepada umat Katolik saja tetapi juga dengan umat non Katolik sehingga membawa kesan yang
baik.

Penabur Benih
Selain peran paroki dan para misionaris,
berkembangnya jumlah umat Katolik di Paroki Tangerang tidak luput dari karya pendidikan yang dirintis oleh Sekolah Strada. Staf Marketing Strada Cabang Tangerang, Agustina Erry Ratna Dewi mengatakan, berdasarkan data, Strada membuka sekolah di Tangerang pada tahun 1955 dibawah naungan para romo dari Paroki Tangerang.

Dulu Strada dibangun di sekitar kompleks gereja. Di sini, paroki telah lahir lebih dahulu pada tahun 1948, sekolah menyusulkemudian. Dewi mengakui, dari dulu, sejak Strada berdiri, agama yang diajarkan adalah agama Katolik.

Sesuai data terkini, per Desember 2019, jumlah murid Strada 7.073 orang, terdiri dari berbagai agama, yakni Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan lainnya. Berdasarkan data itu pula, dari jumlah murid tersebut, sekitar 53 % adalah Cina Benteng

Dewi mengakui, pertumbuhan umat Katolik di Paroki Tangerang sangat kental dengan peran Romo Tan. Pada masa-masa tertentu, saat jumlah guru terbatas, Romo Tan terlibat dalam memberikan pelajaran agama. Alhasil, pembaptisan di Paroki Tangerang beberapa di antaranya diawali karena persinggungan siswa dengan kekatolikan di Sekolah Strada.

Menurut Dewi jumlah umat Katolik sangat diwarnai oleh proses pendidikan dari Strada, peningkatan jumlah umat Katolik, baptisan dan sebagainya. Sampai sekarang Strada masih menerima pelayanan katekumen di sekolah. “Jadi, guru agama mempunyai kewajiban memberikan
katekumen di sekolah bagi murid yang hendak masuk Katolik. Meskipun hanya satu sampai dua anak, tetap kami layani. Pembaptisan pun dilaksakan di paroki. Sehingga yang mendapatkan buah-buah rohnya, ya paroki,” jelas Dewi.

Siswa yang ingin dibaptis, Dewi menjelaskan, wajib menghubungi melalui guru agamanya. Tentu proses ini harus sepengetahuan dan izin orangtua, apapun latar belakang agama orangtuanya. “Jadi,
permintaan pembaptisan ini lebih ke individu,” pungkas Dewi

Iman dan Tradisi
Sejak Reformasi, tepatnya sejak tahun 1999, perayaan Imlek menjadi lebih bebas diadakan di kalangan komunitas-komunitas Tionghoa. Gereja menjadikan momen ini sebagai satu usaha inkulturasi dengan mengadakan Misa Perayaan Imlek. Dengan menempuh langkah ini, tradisi Imlek mendapat warna Katolik.

Di Paroki Tangerang, dengan jumlah umat Tionghoa yang cukup banyak, Misa Imlek diadakan setiap tahun. Romo Walterus Teguh Santosa, SJ mengira hal ini berkaitan dengan politik. Pada zaman Presiden K.H. Abdurrahman Wahid, warga
Tionghoa baru boleh merayakan Imlek, jadi Misa Imlek juga belum lama digelar di Paroki Tangerang.

Menurut Romo Teguh, Gereja hadir sebagai jembatan. Artinya dalam konteks perayaan Imlek saja, detail-detailnya kadang satu dengan yang lain menfasirkan berbeda. Misalkan, dalam menggunakan hio. “Tahun lalu penggunakan hio menjadi sebuah perdebatan. Ada umat yang bilang, memakai hio dilarang karena sudah menganut ajaran Katolik. Saya tanya balik, siapa yang bilang tidak boleh,” jelasnya.

Kemudian, Romo Teguh berusaha menempatkan dalam proporsi yang moderat. “Bukan masalah boleh atau tidak boleh, tetapi lebih pada mengapa kita menggunakan hio. Perannya untuk apa dalam konteks kita sebagai Katolik. Jadi memahami persoalan detail demi detail,” tuturnya. Termasuk lampion. Ada yang bilang, di gereja tidak boleh dipasang Lampion karena bukan Klenteng.

Romo Teguh menyadari, peran Gereja sebagai jembatan atas ragam perbedaan tersebut. Menurutnya, supaya masing-masing memahami duduk perkaranya. Tidak dijadikan pertentangan melainkan memahami sesuai dengan konteksnya.

Bagi Romo teguh, Gereja sebagai pastoral Katolik secara universal, di mana Katolik mengakomodasi adanya inkulturasi dalam liturgi. “Maka dalam konteks di mana Gereja Katolik berdiri, ya di situlah kebudayaan setempat dijunjung tinggi. Dalam hal ini adalah kebudayaan Cina Benteng. Mereka diberikan tempat seluas-luasnya sebagai
identitas paroki ini,” tuturnya.

Berkaitan dengan reksa pastoral, Romo Teguh menjelaskan, ini bukan persoalan dogma atau hukum Gereja. Soal hukum, ada panduan yang mengatur mana yang salah dan mana yang benar. Lain hal dengan kegiatan pastoral. “Pastoral itu
membantu umat semakin beriman secara dalam, semakin hidup dan memuliakan Tuhan. Jika tradisi dengan sarana dan prasarananya bisa membantu umat, kenapa tidak dipakai?” pungkasnya.

Kesan pertama Romo Teguh datang ke Paroki Tangerang tahun 2016 dan berbaur dengan umatnya adalah atraktif. Rasa nyaman dialami oleh Romo Teguh. Ia merasa umat menyambutnya dengan ramah, bersahabat, blak-blakan, dan murah
hati. “Saya sangat mengapresiasi mereka yang sukarela dalam menolong sesama salah satunya terkait bencana banjir awal tahun 2020 ini. Dalam sekejap langsung ada posko banjir dan seluruh bantuan tersedia,” ungkapnya.

Romo teguh menambahkan, dalam paroki yang mayoritas umatnya Cina Benteng, sikap-sikap spontan menjadi karakter khas yang sudah terbentuk di sini, kemudian dikembangkan dengan aneka macam kegiatan dan bentuk untuk mewadahi semangat solidaritas umat.

Karina Chrisyantia/Yanuari Marwanto

HIDUP NO.04 2020, 26 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here