Merawat Kesehatan Mental

96
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Perhatian kepada kesehatan mental mengemuka belakangan ini, di tengah arus perubahan dan perkembangan teknologi, yang demikian deras dan kerap tak terprediksi. Perubahan dan perkembangan teknologi, di satu sisi membuat sebagian orang semakin mudah meraih hidup sejahtera dan menemukan makna hidupnya; sementara di sisi lain, sebagian orang mengalami kebuntuan atau kesulitan. Mereka ini malah makin merasa frustrasi, stres, depresi, ketergantungan pada obat penenang sementara atau alkohol, anti sosial, dan lain sebagainya.

Sehubungan dengan yang disebut terakhir ini, munculnya “kerajaan-kerajaan” dan orang-orang yang memproklamirkan diri sebagai “raja” dan “ratu”, secara sosial ini dilihat sebagai fenomena yang mengkawatirkan di tengah arus ini. Achmad Munjid dari Universitas Gajah Mada mengatakan, “Alih-alih sekadar menertawakan dan menyalahkan, saya melihat, fenomena ini sebagai gejala, betapa masyarakat kita sedang sakit.” Banyaknya orang yang mau menjadi pengikut dari kerajaan-kerajaan jadi-jadian itu, dipandang sebagai tanda-tanda, bahwasanya ada yang tidak beres dalam kehidupan sosial masyarakat. Janji-janji muluk, mendapatkan uang, jabatan, dan lain-lain secara instan, yang dicetuskan para pendiri kerajaan tersebut, seakan menghipnotis mental masyarakat dari pelbagai kalangan.

Selain perubahan zaman, kekurang harmonisan dalam relasi (keluarga dan lingkungan), masalah ekonomi, dan persoalan-persoalan lain, disinyair pula sebagai faktor yang turut mempengaruhi kerentanan kehidupan mental masyarakat. Tentu situasi ini berpengaruh terhadap kehidupan keagamaan atau kerohanian kalangan umat tertentu. Dari perspektif ini, Gereja sebetulnya sudah mengantisipasinya. Setidaknya entah di level paroki atau keuskupan didirikan pusat konseling rohani, jikalau tidak sampai pada konseling psikologis dengan tenaga-tenaga profesional.

Pembentukan pusat-pusat pendampingan rohani atau psikologi dengan tenaga profesional seperti ini, diharapkan dapat menjadi ruang pastoral bagi umat yang mengalami gangguan kesehatan mental dalam kesehariannya. Tujuannya jelas, mereka diberi peneguhan, solusi
alternatif, atau hanya ingin didengar saja. Agar mereka tidak mudah putus asa, depresi, kehilangan orientasi hidup; tidak mencari jalan-jalan pintas untuk mengatasi tekanan hidup; tidak mudah tergoda oleh iming-iming yang justru bisa memerosokkan mereka ke dalam situasi yang lebih problematis.

Dalam konteks ini, perhatian utama Gereja terarah pada “Gereja-gereja” mini, yaitu keluarga-keluarga. Bagaimana menjadikan keluarga sebagai “mahkota” kehidupan. Di dalam keluarga yang sehat, setiap anggota keluarga dapat merasakan hadirnya orang-orang yang memberi dukungan total dalam segala persoalan hidupnya. Karena, keluarga yang sehat (baca: mengalami kahangatan cinta) akan menjadi fondasi yang kokoh dalam menghadapi perubahan dan dinamika sosial (modernitas), apa pun bentuknya. Keluarga yang sehat jasmani dan rohani, merupakan kekuatan yang tangguh untuk membangun negeri yang jauh dari rasa saling curiga, kebencian, ingin korupsi, mencari jalan pintas, dan lain-lain. Dalam keluarga yang sehat, terdapat pribadi yang kokoh menghadapi tantangan; di mana iman, harapan, dan cinta bertumbuh dengan subur.

HIDUP NO.05 2020, 2 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here