Sepenggal Narasi Anak Kampung Lintang Pelaman

27
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – “Saya agak risih bila memiliki kamar mewah sementara ada umat saya yang tidur tanpa alas. Jangankan kasur, mungkin ada yang tidurnya masih menggunakan tikar dengan bantal seadanya,” ujar Mgr. Agustinus Agus.

Bau asam kandis, rempah khas Kalimantan menyengat di hidung. Terasa benar aroma kandis bercampur daun jeruk dan bawang putih. Bila ditebak, seseorang sedang merebus daging. Hal ini bisa dicium dari bau percampuran daging dan rempah-rempah khas tradisional itu.

Bau itu datang dari dapur wisma keuskupan dan tercium di sekitar pintu utama wisma keuskupan. Ketika itu, HIDUP hendak bertemu Uskup Agung
Pontianak, Mgr. Agustinus Agus untuk wawancara.

Kami tiba di keuskupan pukul 09.00 WIB. Kami mencoba mengetuk pintu wisma keuskupan yang terletak di Jln. Arif Rahman Hakim 92A Pontianak. Hampir tiga kali kami mengetuk pintu kayu berwarna coklat, tidak ada suara yang merespons. Memang saat itu, kediaman uskup ini terasa lengang.

Keyakinan bahwa ada orang di dapur membuat kami berjalan memutar dari samping kanan wisma dengan melewati sebuah lorong kecil yang menghubungkan rumah uskup dan ruang parkiran Gereja Santo Yoseph Katedral. Di situ, ada sebuah pintu kecil yang langsung menghubungkan dapur keuskupan.

Ketika kami memasuki dapur sederhana berukuran tak lebih dari lima meter itu, kami terkejut. Ternyata Mgr. Agus sedang memasak daging. Agar tidak dianggap orang asing, kami segera memperkenalkan diri. Mgr. Agus menjabat tangan kami lalu mempersilakan kami ke ruang makan keuskupan.

Sekilas kami melihat, bumbu masakan Mgr. Agus sangat sederhana tapi terkesan mewah. Ia mampu menakar jumlah air rebusan daging dengan bumbu yang digunakannya. Bahkan ia sangat paham kapan persis daging olahannya benar-benar matang.

Sambil menunggu daging olahannya siap disantap, kami pun mengajak Mgr. Agus bercerita tentang pengalaman hidupnya.

Anak Kampung
Mgr. Agus membuka pembicaraan soal kegiatannya hari itu. Daging yang sedang dimasaknya sengaja dipersiapkan untuk acara kumpul bersama para wartawan Katolik Pontianak yang dilaksanakan pada Jumat, 24 Januari 2020 di Rumah PSE di Jln. WR. Supratman.

Sebuah kebetulan karena kami hadi tepat momen istimewa menyaksikan Mgr. Agus memasak. Ia bercerita, dirinya suka masak. Ia senang karena dengan masak, ia bisa memperkenalkan banyak hal soal dirinya dan Gereja kepada umat. Momen
memasak bisa mempersatukan setiap orang yang berbeda. Duduk mengelilingi tungku api bisa menjadi kesempatan berkatekese tentang kebaikan Tuhan.

Kami secara pribadi merasa sangat beruntung karena Mgr. Agus, dengan tangannya sendiri menyajikan semangkok daging yang sudah matang. Kami menikmati olahan Mgr. Agus. Duduk makan bersama para uskup tentu sudah biasa, tetapi menikmati masakan seorang uskup itu momen sangat langka.

Masakannya tidak pedas, baunya harum, ada asam manisnya, dengan rempah-rempah tradisional khas Kalimantan Barat (Kalbar). Daging olahannya juga matang secara menyeluruh, lembut, dan
bumbunya benar-benar meresap ke dalam daging. Kuahnya jernih, dengan tirisan jeruk untuk menambah sedikit asam pada kuahnya.

Saat menikmati sajian daging, Mgr. Agus bercerita, “Memasak itu kegemaran saya. Bila masak, saya selalu menggunakan rempah-rempah lokal khas Kalimantan. Maklum saya orang kampung.”

Kurang Percaya Diri
Penerimaan yang tak terduga ini membuat kami berpikir, Mgr. Agus seorang yang sederhana. Ia tidak pernah jaim melakukan pekerjaan yang kecil dan dianggap sebelah mata. Bukan sebuah kebetulan bahwa Mgr. Agus bisa memasak, tetapi pekerjaan-pekerjaan demikian sudah biasa ia lakoni sejak kecil.

Dengan rasa ingin tahu yang besar, kami mengulik banyak hal tentang peristiwa hidupnya. Ia mulai bercerita bagaimana anak kampung dari desa kecil bisa dipilih Tuhan menjadi gembala. Ia menguraikan permenungannya tentang anak kampung jadi uskup.

Ia berkisah dirinya tidak mengatasnamakan anak kampung pada umumnya, tetapi dirinya sendiri sebagai orang kampung mengalami banyak kesulitan. Bahkan sudah menjadi imam sekalipun, ia tetap merasa minder dan tidak percaya diri.
Kadang-kadang menyebut nama kampung saja ada perasaan malu karena pasti banyak orang Indonesia tidak mengenal di mana letak kampung itu.

Pengalaman tidak percaya diri ini membuat Mgr. Agus mulai belajar merasakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Ia mencoba selangkah demi selangkah untuk memastikan karya Tuhan dalam hidupnya. Sampai pada puncak refleksinya, ia berkata, “Ternyata anak kampung itu bisa jadi imam bahkan uskup agung.”

Ia menemukan bagaimana cinta Tuhan dalam hidupnya tidak saja sejak menjadi uskup. Cinta itu sudah dirasakan ketika dirinya mengenal Kristus. Pengalaman mengenal Kristus itu terasa ketika masuk Seminari Menengah Nyarungkop, Kalbar.

Kopi Hitam
Sejak menerima tahbisan imam dari tangan Uskup Keuskupan Agung Pontianak (KAP), Mgr. Hieronymus Bumbun OFMCap, pada 6 Juni 1977, Pastor Agus sudah menyiapkan diri untuk tidak menjadi imam yang biasa-biasa saja. Target hidupnya harus lebih tinggi dari sekadar imam biasa. Sebagai imam pribumi yang pertama di tahbiskan di Sekadau, bak buah sulung yang ranum, Pastor Agus, lalu mendapat tugas sebagai Kepala Paroki di Senangak, Keuskupan Sintang.

Hanya satu pemikirannya yaitu menjadi imam berarti melayani umat. Itu juga berarti harus belajar mengenal umat. Relasi dengan sesama imam dan umat menjadi hal yang meneguhkan panggilan meski sempat meredupkannya. Beberapa kali sempat terpikirkan untuk melepaskan panggilan itu, tetapi kemudian dirinya
sadar itu bukan keinginan Tuhan.

Sebelum melanjutkan pembicaraan terkait tantangan yang pernah di hadapi khususny kemelut yang terjadi di Sekadau, Mgr. Agus tiba-tiba berdiri. Kami pun agak terkejut karena rekaman dari recorder masih dalam keadaan on. Ia berdiri mengambil gelas dan langsung membuat kopi untuk kami. Kami terkejut karena tanpa diminta uskup langsung menyeduhkannya. Kami tersipu malu ketika kopi hitam hangat sudah dihidangkan di atas meja. Luar biasa, kami menjadi raja di rumah uskup.

Sambil menikmati kopi hitam itu, Mgr. Agus melanjutkan pesan-pesan spiritualnya. Menurutnya hidup itu menawarkan banyak pilihan. Di Sekadau ada yang suka kepada saya tetapi ada juga imam dan umat yang tidak senang. Tetapi kita tidak perlu membalas itu dengan perlakuan negatif. Semakin tidak disukai, Tuhan justru mencintainya. Buktinya Mgr. Agus dipilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Marygnoll School of Theology, University of State of New York, Amerika Serikat.

Bukan hal mudah dan mulus karena orang kampung harus ke negeri orang dengan budaya yang berbeda. Pengalaman di Negeri Paman Sam menggelitik pikirannya untuk membandingkan dengan realitas di tempat asalnya, khususnya Sanggau. “Ada satu semangat dalam diri saya ketika balik dari Amerika, saya ingin membangkitkan umat saya yang selama ini masih tertidur. Banyak umat tidak sadar akan imanny bisa saja karena ketinggalan zaman dan terpuruk,” jelasnya.

Kami menyaksikan tatapan Mgr. Agus yang penuh keseriusan. Dengan mengatupkan tangannya di dada, ia tegas berkata, orang-orang kecil juga pasti bisa. Di mata Tuhan tidak ada budak dan raja, tidak ada kaya dan miskin. Kita semua sama.

Usai pernyataan ini, Mgr. Agus agak terdiam berpikir tentang pengalaman pertamanya di Amerika. Ia pernah sedih dan takut gagal. Ia takut terus dianggap lemah oleh orang lain. “Saya selalu berdoa agarsaya bisa menyelesaikan tugas ini dengan sempurna,” ujarnya.

Cerita di Amerika sempat berhenti karena tiba-tiba Paulus, anggota Komisi Komunikasi Sosial (Komisi Komsos) KAP masuk bertemu uskup. Paulus juga dipersilakan bergabung di meja makan bersama kami. Di atas meja makan itu, kami dan
Paulus mendengar cerita langsung soal bagaimana dirinya ditunjuk Vatikan sebagai
Administrator Apostolik Keuskupan Sintang pada tanggal 21 Januari 1996.

Bukan Harapannya
Sekitar 10 menit Mgr. Agus bercerita soal kiprahnya sebagai Administrator Apostolik Sintang. Kami menangkap ada satu penegasan yang kuat tentang pilihan Vatikan pada dirinya. Bukan karena ia seorang dari Suku Dayak tetapi keutamaan hidup yang ia lakoni. Keteguhan, kesetiaan, dan tanggungjawab membawa sang imam sebagai administrator.

Saat itu, Sintang bukan semanis sekarang. Kondisi Gereja dan umat yang terpecah-belah karena banyak faktor. Bukan hal yang sudah mapan dan stabil dihadapi Mgr. Agus. Selalu saja muncul konflik internal dalam Gereja. “Tetapi saya menemukan cara-cara untuk menata kembali Gereja dan umat,” tuturnya.

Rupanya Vatikan memiliki penilaian khusus kepadanya. Tanggal 9 November 1999, hari bersejarah bagi Mgr. Agus. Ia diangkat sebagai Uskup Sintang. Berita pengangkatan ini menjadi berita gembira bagi umat Sintang, tetapi tidak bagi beberapa imam atau orang-orang yang tidak sejalan dengannya. Selalu ada kesan negatif dan
orang bertanya, kenapa harus dia?

Kehendak Tuhan kadang tak sejalan dengan harapan manusia. Pilihan Vatikan hampir mewakili kerinduan umat Sintang yang merasakan ada kehadiran Gereja lewat Mgr. Agus. Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ menahbiskan Pastor Agus
menjadi uskup. Saat itu tanggal 6 Februari 2000, ketika Mgr. Agus menginjak usia 50 tahun.

Mulai saat itu pula, ia menjadi pelayan umat di ladang yang lebih luas. Keuskupan Sintang perlahan dibenahi mulai dari struktur keuskupan, keuangan, hingga hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan umat. Dalam banyak hal, Sintang mengalami perkembangan soal pembangunan. Gereja-gereja dibangun hingga stasi dan seminari.
Ada tempat wisata rohani Bukit Kelam, Rumah Betang Baligundi, beberapa di antara yang dibangunnya.

Agar tidak ada pemisahan antara umat dan gembala, Mgr. Agus rajin mengunjungi umat. Kebersamaan dengan umat membuat ia bahagia. Ia adalah uskup yang mengumat. Semua umat mengenalnya karena hobinya berpantun, berkondan, main musik, mancing, menembak, olahraga, masak, dan jalan-ajalan. Ia selalu
menunjukkan kegembiraan di mana pun.

Waktu 18 tahun lebih bukan waktu yang singkat berkarya di Keuskupan Sintang. Meski cintanya kuat kepada umat Sintang, Tuhan punya cara lain. Takhta Suci kembali memilihnya untuk melanjutkan karya di KAP pada 3 Juni 2014. Pengukuhan sebagai Uskup Agung dilaksanakan pada 28 Agustus 2014 oleh Mgr. Bumbun.

Menjadi uskup agung itu tentu ada tantangan. Tetapi ia mencoba hidup sederhana, santai, menikmati relasi dengan siapa saja dan silakan Tuhan mau apa untuk dirinya. Ia tidak pernah sakit perut makan masakan umat. Tidak pula ada masalah dengan para pastor dari tarekat lain. “Saya menjadi pemimpin yang tidak suka diatur pengusaha, imam senior, atau tarekat-tarekat superior. Saya punya satu keinginan, KAP harus menjadi keuskupan yang hidup dari segala sisi,” ujarnya.

Apa Adanya
Di akhir pertemuan yang berlangsung dari pagi sampai siang itu, kami memperoleh kesempatan istimewa. Mgr. Agus mengajak kami melihat seluruh sudut wisma keuskupan. Wisma tidak begitu luas, tetapi memberi nuansa sejuk. Hanya
saja ketika Mgr. Agus membawa kami melihat-lihat ruang kerja dan kamar pribadinya, kami agak terperangah. Seolah tahu apa yang melintas dalam pikiran kami, Mgr Agus hanya tertawa dan berkata, “Saya sudah biasa tampil apa adanya.”

Kami melihat di seluruh sudut kamar buku-buku yang bergeletak begitu saja. Segala macam benda, baik perlengkapan Misa, maupun hadiah-hadiah dari umat, dan benda-benda bersejarah seperti mandao dengan berbagai jenis dari berbagai budaya Suku Dayak di Kalbar diikatkan pada jendela kamar. Di meja kerjanya, kami melihat ada banyak buku baik berbahasa Inggris maupun Indonesia, termasuk Majalah HIDUP.

Ketika di ruang tamu, pikir kami Mgr. Agus tidak mungkin meminta kami melihat-lihat kamarnya. Tetapi tak disangka ia mempersilahkan kami mengambil gambar tempat tidur dan kamar mandinya.

Ruang tidur tidak besar, hanya sekitar lima meter panjangnya dengan lebar dua meter. Melihat ini, kami hanya geleng-geleng kepala. Tempat tidur ukuran satu badan yang sederhana, bukan springbed tetapi kasur kapuk dengan satu bantal
kepala dan satu guling. Di sampingnya ada satu lemari pakaian dan satu meja kecil tempat doa. Dalam ruangan itu ada kamar mandi yang serba sederhana tanpa shower dan air panas.

“Ini kamar saya. Saya terbiasa hidup seperti ini. Saya agak risih bila memiliki kamar mewah sementara ada umat saya yang tidur tanpa alas. Jangankan kasur, mungkin tidur masih menggunakan tikar dengan bantal seadanya,” ujar Mgr. Agus menarik napas.

Di ujung pertemuan itu, lagi-lagi Mgr. Agus mengajak kami untuk menunggu santap siang. Kami tak kuasa menolaknya. Ia melayani dengan mengambil piring. Ikut bergabung Kepala Paroki Katedral, Pastor Alexius Alex dan Pastor Rekan Pastor Yosef Maswardi.

Seusai santap istimewa itu, kami mohon pamit kepada Mgr. Agus. Tak disangka-sangka, ketika kami mengulurkan tangan, uskup yang akan merayakan 20 tahun episkopatnya ini memberi berkat kepada kami. “Kamu mau melayani, maka buatlah dengan sungguh-sungguh. Jadilah pribadi
yang apa adanya, jangan sombong, dan punya hati untuk orang-orang sederhana. Dengan begitu anda akan dikenang,” ujarnya dengan sepenuh hati. Terima kasih, Monsinyiur.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.06 2020, 9 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here