Evaluasi Perjanjian Abu Dhabi

30
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Proyek gerakan damai bersama lintas agama telah mewarnai perjalanan negara-negara Teluk sejak ditandatanganinya Dokumen Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Para pemimpin antaragama berkumpul di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab untuk menandai satu tahun perjalanan bersejarah Paus Fransiskus ke Semenanjung Arab, Senin, 3/2/2018. Setahun lalu, ulama Muslim terkemuka berkumpul bersama Paus, pemimpin tertinggi umat Katolik. Mereka
mempromosikan perdamaian dunia.

Uni Emirat Arab (UEA) telah berupaya mempromosikan toleransi beragama selama setahun terakhir. Mayoritas penduduk Muslim negara itu sebenarnya bukanlah warga negara negara itu. Mereka adalah orang asing. Sebagian yang lain beragama Kristen dan Hindu.

Abu Dhabi, yang menjadi tuan rumah pertemuan pada Senin itu, memaparkan upaya berkelanjutannya dalam mempromosikan dialog
antaragama. Mereka bahkan tengah bersiap membangun sebuah kompleks tempat ibadat. Di dalam kompleks ini akan ada sebuah masjid, gereja, dan sinagoga yang berdiri secara berdampingan. Proyek yang disebut Rumah Persaudaraan Abrahamik ini dijadwalkan akan selesai pada 2022. Sedangkan di Dubai, sebuah vila telah diubah fungsinya menjadi sebuah sinagoga.

Tidak hanya itu, UEA dan Arab Saudi, bersama dengan negara-negara Teluk lainnya, telah memperluas jangkauan mereka ke kelompok-
kelompok Kristen, seperti evangelis, dan organisasi Yahudi. Upaya ini berjalan berdampingan bersama kepentingan politik dan ikatan yang lebih luas yang muncul antara negara-negara Teluk Arab dan Israel.

Selama pertemuan itu, Rabi Senior di Sidang Ibrani
Washington, Amerika Serikat, Rabi Bruce Lustig; Sekretaris Pribadi Paus Fransiskus, Mgr. Youannis Lahzi Gaid; Mohamed Hussein El Mahrassawy; serta mantan penasehat imam Masji Al-Azhar, Mohamed Abdel Salam duduk bersama di sebuah kursi belajar Islam Sunni berusia 1.000 tahun yang dihormati.

Selama pertemuan itu mereka membahas upaya
hubungan antaragama yang sedang berlangsung.
Rabi Lustig menegaskan, keikutsertaannya adalah
sebagai bagian dari forum perdamaian bagi seluruh keluarga manusia. “Saya senang ketika ada hubungan yang lebih besar dengan negara Israel. Saya senang ketika ada kesempatan untuk
membawa keadilan dan perdamaian kepada begitu
banyak orang yang memiliki begitu banyak ketidakadilan di dunia,” katanya kepada The Associated Press seperti dilansir Cruxnow, 3/2/2020.

Perjalanan Paus Fransiskus tahun lalu menandai
kunjungan Paus pertama ke Semenanjung Arab. Ia
mengakhiri perjalanannya dengan Misa bersama 180.000 orang Katolik di negara itu. Selama perjalanannya, Bapa Suci juga berpartisipasi dalam konferensi tentang dialog antaragama dan menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia untuk mempromosikan koeksistensi dan menghadapi ekstremisme dengan Imam Besar Al-Azhar, Ahmed el-Tayeb.

Tepat sebelum berangkat ke Abu Dhabi tahun lalu, Paus meminta diakhirinya krisis kemanusiaan di Yaman. Ia mengatakan, bahwa tangisan anak-anak dan orang tua mereka telah naik kepada Tuhan. UEA adalah anggota kunci dari koalisi pimpinan Saudi yang berperang melawan pemberontak Yaman yang berpihak kepada Iran. Konflik telah mendorong Yaman ke ambang kelaparan dan menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.07 2020, 16 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here