BERBENAH, BERGERAK, DAN BERBUAH

26
Ilustrasi seorang guru dalam proses mengajar di kelas.
(Dok. HIDUP)
Mohon Beri Bintang
Kebersamaan seorang suster dan peserta didik.
(Dok. HIDUP)

HIDUPKATOLIK.COM Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tahun 2008 menegaskan peran lembaga pendidikan Katolik sebagai media pewartaan kabar gembira yang unggul. Untuk itu  Sekolah Katolik mulai berbenah agar berubah dan berbuah.

Hasil penilaian diri selama dua tahun, Komisi Pendidikan  Kon-ferensi Waligereja Indonesia (Kom—dik KWI) mengeluarkan 13 Ases-men Standar Tata Kelola 2017-2018 yang dilakukan secara acak terhadap yayasan atau sekolah yang tersebar  di Indonesia. Tiga terbawah, yakni perkembangan te-na-ga pendidik atau SDM, strategi pro-mosi nilai, dan nilai Ajaran Sosial Gereja (ASG) dalam perkembangan karakter. Nilai-nilai karakter yang menjadi pen-ting untuk didalami yakni kejujuran, daya juang, solidaritas, cinta kasih, mar-tabat hidup, toleransi, dan merawat lingkungan. ASG menjadi karakter po-kok yang dapat dibilang sebagai jatidiri bangsa.

Menurut Sekretaris Eksekutif  Kom-dik KWI, Romo Thomas Becket Gan-dhi Hartono, SJ karakter dapat meng-gerakkan ele-men mata pelajaran. Mi-sal-nya, ulang-an Matematika membu-tuhkan ke-ju-juran. Ia mempunyai keya-kinan pu-la bahwa dengan berfokus da-lam tiga ma-salah itu dapat membantu bu-tir yang lainnya.

Romo Gandhi, saat ditemui di KWI, Jakarta Pusat, selaku  pelaku pendidik, memaparkan beberapa kategori sekolah.  Mulai dari Kategori A. Sekolah bisa dika-takan mandiri, artinya secara finansial terpenuhi. Kedua, sekolah masih di-min-ati dan melakukan seleksi. Ketiga  dilihat dari RAPB ada pengembangan guru. Keempat, investasi, memikirkan untuk pengembangan antara sarana dan prasarana. Punya subsidi silang.

Kategori B. Dalam kategori ini, masih ada “peminat” orang masuk tapi per-bandingannya kecil, yang masuk itu tak diterima oleh kategori A, mandiri tapi kemandiriannya hanya berlaku lima tahun, investasi tak dominan melihat dari RAPBN.

Kategori C, sekolah yang tidak ada pe-ru-bahan signifikan dan terancam ditu-tup. Dalam bahasa pendidikan, sekolah ber-kembang, stagnan, dan terpuruk.

Nilai Khas

Pendidikan tidak bisa sendiri. Hal ini dirasakan oleh Romo Gandhi. Pen-didikan harus membangun sebuah je-ja–ring. Maka, pertama-tama Komdik me—ngembangkan pendidikan dengan mem–bangun jejaring. Seperti yang dila-kukan di Konferensi Sekolah Katolik Indonesia 2020 pada Januari lalu di Yogyakarta. Karena dirasa tidak cukup link, Komdik menggandeng Majelis Na-sional Pendidikan Katolik (MNPK), Uni—versitas Sanata Dharma (USD), dan Yayasan Terang dan Garam (TEGAR). Salah satu tujuan Komdik dalam kon-ferensi ini adalah turut membantu me-ngembangkan atau menemani seko-lah yang ingin bergerak untuk berbenah se-hingga menghasilkan buah.

Adanya tantangan dalam pendidikan Katolik di Indonesia tentunya bukan menjadi sebuah rahasia lagi. Wilayah Indonesia sangat luas membuat pen-didikan di tanah air ini tidak dapat dipukul rata. Romo Gandhi me-nga-takan tentu ada perbedaan kultur setiap tempat dan mempengaruhi pen-di-dikan-nya juga. Secara umum, masih ada Se-kolah Katolik yang membayar upah kar-yawannya di bawah Upah Mini-mum Regional (UMR). Ada pula yang kesulitan mencari calon murid dan guru yang berkualitas.

Romo Gandhi mengatakan, sekarang ini, pendidikan karakter juga menjadi lemah saat muatan-muatan yang ditang-gung oleh tenaga didik. Misalkan, gu-ru wajib mengerjakan 20 halaman RPP. Kurang adanya waktu untuk guru ber-eksplorasi dan mencoba menggali me-tode-metode belajar yang lain. Namun sudah ada komitmen Gereja untuk men-didik umatnya berkarakter dan meng-hasilkan pribadi yang menjadi jati diri bangsa.

Secara spesifik, berdasarkan hari studi Kom-dik pada konferensi 2020 lalu, ma-sing-masing regio mendalami nilai-nilai ASG. Jika di Regio Sumatera, Romo Gandhi menuturkan, karakternya adalah fokus terhadap keprihatinan gender, budaya, dan suku. Konkretnya, saat mu-rid masuk TK akan di pekenalkan pakaian adat. Menurut Romo Gandhi di daerah Sumatera penghargaan pa-da budaya cukup berkurang namun ke-sukuan dirasa sangat kuat. “Maka men-jadi sulit berkembang,” ujarnya.

Lain hal di Regio Papua, masalah so-sial dan politik yang mendominasi men—jadikan regio ini berkonsetrasi meng-hasilkan guru-guru yang jujur dan men-cintai toleransi karena nilai yang di-fokuskan yakni peradaban cin-ta kasih. Regio Kalimantan terkenal de-ngan pen-cemaran lingkungan hidup kemu-dian mengkondisikan ASG diterapkan sejak PAUD.

Regio Nusra memilih fokus dalam ni-lai menghargai keutuhan ciptaan. Ber–beda dengan Regio Makassar-Am-boina-Manado (MAM). Di regio ini perdebatan antar budaya dan agama masih terasa. Maka nilai yang dibangun adalah persaudaraan kasih. Terakhir Regio Jawa. Di regio ini dijungjung nilai-nilai ke-ju-juran dan mencintai Pancasila. Karena nilai-nilai tersebut memudar seiring per-kembangan zaman.

Sekolah Unggul

Selain karakter, salah satu tantangan untuk pendidikan Katolik adalah ber-dasarkan Data Pokok Pendidikan (Da-podik) 2018, jumlah siswa Katolik dari TK hingga SMA se-Indonesia adalah kurang lebih 1.800.000 murid. Namun yang sekolah di Sekolah Katolik hanya 600 sekian murid. 1.065.672 murid yang beragama Katolik bersekolah di sekolah negeri. Artinya banyak siswa Katolik tidak sekolah di Sekolah Katolik. Me-reka lebih memilih sekolah negeri. “Ini mem-buktikan, sekolah-sekolah kita masih belum berdaya pikat,” ungkap Romo Gandhi.

Selain itu, ada suatu stigma bahwa sekolah Katolik atau swasta relatif le-bih mahal. Menanggapi hal ini Romo Gandhi mengatakan pada prinsipnya pendidikan berbiaya. Misalkan, negeri me-mang dibiayai oleh pemerintah te-ta-pi berbeda dari swasta. Namun kon–teks mahal atau tidaknya suatu insti-tusi pendidikan dapat dilihat dari ha-sil didikannya. “Bagaimana sekolah yang menghasilkan pendidikan yang ung-gul?” ungkapnya. Sekolah pasti mem-butuhkan guru dan tenaga didik lainnya. Selain mendidik anak didiknya, sekolah pun berusaha menyejahterakan mereka. Wajar, jika membutuhkan dana tidak murah.

Keunggulan, tambah Romo Gandhi, pada sekolah adalah ada aspek yang le-bih pada kompetensi pribadi, so-sial, dan profesional. Baginya, ketiga ini harus di–kembangkan. Maka keunggulan itu da-pat dikatakan ada jika keseimbangan antara  hati, nalar dan aksi (menghasilkan inovasi).

Kelahiran Klaten 1986 yang mengutip Santo Fransiskus ini menuturkan bahwa kekuatan hati atau rasa kemudian ke-kuatan nalar atau kognitif lalu dari per-jumpaan antara hati dan nalar itu, pe-serta didik mampu membuat sesuatu pe-rubahan. Itulah sekolah unggul.

“Akan menjadi pilihan jika hasil di-dikan–nya berkualitas. Orangtua pun akan memilih anaknya sekolah di tem-pat ter—-sebut,” ungkapnya. Baginya, ini akan berkaitan dengan murid unggul karena te-naga didik, tenaga didik unggul karena ma-nagemen sekolah atau yayasan.

Selain menanam bibit unggul, sekolah adalah tempat investasi. Dari segi pe-serta didik, SDM juga secara finansial. Menurut Romo Gandhi, sekolah seha-rusnya mencoba untuk fokus. Artinya ja-ngan buka cabang. Tentu, hal ini akan membuat SDM yang tadinya terbatas menjadi terpencar-pencar.

Berbagai tantangan memang tidak per–nah habisnya dalam ranah pendi-dikan. Entah dari pemerintah atau pun dari internal. Romo Gandhi pun meng-akui terjadinya persaingan antar Seko-lah Katolik. “Dalam mencari siswa, saya pikir wajar untuk berkompetisi,” ujar-nya.

Jadi, Romo Gandhi menambahkan, situasi persaingan ini tidak disalahkan karena suatu kewajaran. Baginya, pasti ada kebutuhan masing-masing sekolah dan menjadi kompetisi yang sehat. “Per-saingan masih dalam konteks yang positif tidak masalah karena kan memang se-dang jualan produk,” tutupnya.

Karina Chrisyantia/Yanuari Marwanto

HIDUP NO.07 2020, 16 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here