Layar yang Tak Pernah Surut

48
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Aroma-aroma Keraton Pakualaman Yogyakarta ternyata  mewarnai kelahiran organisasi kemasyarakatan Katolik, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Aroma ini berasal dari pendiri WKRI sendiri, yaitu

R. A. Soelastri. Ia adalah putri Pakualaman yang tak lain saudara ipar Ki Hadjar Diwantara dan masih memiliki hubungan darah dengan Pangeran Diponegoro. R. A. Soelastri berkenalan dengan para alumni Sekolah Mendut dan Van Lith Muntilan, Jawa Tengah, dan bergaul dengan para imam dan suster pada awal abad ke-20. Berjumpaan ini lalu bermuara pada lahirnya Poesara Wanita Katolik (PWK), 26 Juni 1924 –kelak menjadi WKRI.

Pada masa ini, kelahiran PWK juga dibarengi dengan munculnya organisasi-organisasi, baik independen maupun yang bernuansa agama, di tengah bangkitnya nasionalisme di Nusantara. Dalam konteks PWK sendiri, kelahirannya juga tidak terlepas dari semangat Ensiklik Rerum Novarum Paus Leo XIII (1891).

Di awal kelahiran PWK, satu yang amat menyentuh adalah kisah perjuangan aktivis-aktivis perempuan Katolik ini dalam perjuangan mereka membela nasib perempuan-perempuan di Yogyakarta, yang saat itu diperlakukan tidak adik dalam banyak aspek kehidupan. Untuk membela kaum perempuan ini, mereka membentuk komunitas-komunitas, sebagai wadah bagi kaum perempuan untuk saling mendukung. Yogyakarta memang menjadi “titik berangkat” PWK. Di sinilah mereka mulai “mengembangkan layar” yang dalam keyakinan mereka, layar ini tak akan pernah surut.

Tujuan PWK jelas, untuk menghadirkan Gereja di tengah masyarakat. Sejak awal, pelayanan PWK semata-mata ingin menghadirkan kasih Gereja di
tengah masyarakat, sebagai bagian dari pewartaan Kabar Gembira. Dalam mewujudkan tujuan ini, PWK tidak dapat dilepaskan dari peran tiga imam Serikat Yesus (Societas Iesu/SJ) Romo Franciscus Georgius Josephus van Lith, SJ; Romo J. A. A. Martens, SJ; dan Romo Henricus van Driessche, SJ.

Namun, untuk lebih mendaratkan pelayanan mereka di tengah keberagaman bangsa Indonesia. Maka pasca kemerdekaan, Romo Kanjeng atau Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, Vikaris Episkopal Semarang saat itu, mengusulkan perubahan nama
PWK menjadi WKRI. Tak sekadar “berubah kemasan”, perubahan nama ini mengandaikan semakin luasnya tanggung jawab dan karya pelayanan yang dijalankan WKRI.

Dalam buku ini, pembaca diajak untuk mengenal WKRI secara lebih utuh. Bagian sejarah menjadi bagian penting dari kisah perjalanan WKRI. Kisah tentang tokoh-tokoh yang terlibat “membidani”
kelahiran WKRI, semakin menunjukkan peran Gereja Katolik Indonesia dalam perjuangan meraih kemerdekaan dan kemudian juga ikut terlibat dalam “merawat” Indonesia. Inilah buku sejarah paling lengkap yang pernah ditulis tentang organisasi kemasyarakatan wanita Katolik tertua di Indonesia ini.

Judul : WKRI: Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut ke Belakang
Penulis : Triyas Kuncahyono dan Paulus Sulasdi
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, 2020
Tebal : XVI + 208 hlm

Antonius E. Sugiyanto

HIDUP NO.08 2020, 23 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here