Lebih Keras Lagi!

12
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dibawah penggembalaan Paus Fransiskus, Gereja sudah mengambil langkah-langkah tegas memberantas skandal pelecehan seksual di kalangan klerus. Meski begitu masih perlu usaha lebih keras lagi.

L’ARCHE International mempublikasikan hasil
penyelidikan independen yang merinci pelanggaran seksual yang dilakukan oleh pendirinya Jean Vanier. Dalam laporan yang dipublikasikan Sabtu, 22/2/2020 ini, Jean dituduh terlibat dalam pelanggaran seksual dengan enam wanita.

Selama ini, L’Arche dikenal sebagai organisasi sukarela swasta internasional berlatar belakang Katolik. Mereka selama ini dikenal karena programnya membangun rumah dan menginisiasi
program-program untuk membantu orang-orang yang memiliki cacat intelektual. Lembaga ini didirikan pada tahun 1964 ketika Jean, putra Gubernur Jenderal Kanada, Georges Vanier dan Pauline Vanier, menyambut dua pria penyandang cacat ke rumahnya di Kota Trosly-Breuil, Prancis.
Kini, organisasi ini memiliki 153 komunitas di 38 negara dan di lima benua.

Dalam laporan yang diterbitkan, Pemimpin L’Arche International, Stephan Posner dan Stacy Cates-
Carney mengutuk dengan tegas tindakan pendirinya ini. Dalam rilis yang diterima media tertulis, tindakan yang dilakukan Jean bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar L’Arche.

Laporan tersebut menemukan, bahwa tidak ada
perempuan yang dilecehkan yang cacat intelektual. Dalam investigasi ini yang dimulai April tahun lalu, L’Arche menugaskan GCPS, sebuah konsultan independen Inggris yang berspesialisasi dalam pelaporan eksploitasi. Selama penyelidikan, diperoleh kesaksian yang kredibel dan konsisten dari enam wanita dewasa. Wanita-wanita ini masing-masing melaporkan bahwa Jean memprakarsai perilaku seksual dengan mereka, biasanya dalam konteks pendampingan spiritual.

Beberapa dari wanita ini sangat terluka oleh pengalaman ini. Jean Vanier meminta masing-
masing perempuan untuk merahasiakan “acara spiritual” ini. Para wanita ini melaporkan fakta-fakta serupa yang terkait dengan penjelasan spiritual atau mistis yang sangat tidak biasa, yang digunakan untuk membenarkan perilaku seksual ini. Jean melakukan tindakannya ini selama selama periode lebih dari 30 tahun dari 1970 hingga 2005, demikian seperti diberitakan Catholic Herald, (22/2).

Laporan ini juga menemukan bahwa apa yang dilakukan Jean mengikuti pola perilaku yang ditunjukkan oleh seorang imam Dominikan, Pastor Thomas Philippe, yang oleh Kongregasi Vatikan untuk Ajaran Iman telah dihukum atas kesalahannya. Jean menganggap sang imam sebagai mentor spiritualnya. Pastor Thomas sendiri meninggal pada tahun 1993.

Setelah Setahun
Waktu pengungkapan kasus yang terjadi di dalam L’Arche ini tepat setahun setelah Paus Fransiskus mengadakan pertemuan bersejarah di Vatikan membahas pelecehan dan pertanggungjawaban
seksual para imam, pada 21-24 Februari 2019. Banyak langkah yang telah dilakukan Gereja, tetapi para advokat mengatakan, masih banyak yang dibutuhkan.

Sebulan setelah pertemuan di Vatikan tahun lalu, pada bulan Maret 2019, Paus Fransiskus menyetujui peraturan baru dan serangkaian pedoman “Tentang Perlindungan Anak-anak dan Orang Rentan”. Peraturan ini bertujuan memperkuat hukum pidana atas pelaku pelecehan dan mengamanatkan pelaporan pelecehan yang diketahui atau diketahui ke pengadilan Vatikan. Ini mencakup semua bentuk pelecehan fisik dan emosional – tidak hanya kekerasan seksual melalui pemaksaan – serta bentuk-bentuk penganiayaan, pengabaian, dan eksploitasi terhadap anak di bawah umur. Peraturan baru tentang perlindungan anak ini dimaksudkan untuk lebih mematuhi Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak.

Antonius E. Sugiyanto

HIDUP NO.09 2020, 1 Maret 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here