KEHIDUPAN YANG MENAWAR WAKTU

49
J. B. Sumarlin bersama istrinya, Theresia Yustina Sudarmi. (Dok. Keluarga)
Mohon Beri Bintang
J. B. Sumarlin dan Theresia Sudarmi saat menikah di Gereja St Yohanes Blitar Jawa Timur. (Dok. Keluarga)

HIDUPKATOLIK.COM Harus mengabdi kepada negara, waktu Sumarlin sangat minim bersama keluarganya. Di hari-hari akhirnya, ia melakukan segala yang sempat ia lewatkan.

Sabtu awal Februari lalu, saat sedang santap siang, Johannes Baptista Sumarlin tiba-tiba saja tak mengenali putranya Antonius Widyatma yang menemaninya makan. Pria 87 tahun itu, ternyata mengalami demensia. Sumarlin juga tidak bisa berjalan dan mengeluhkan sulit melihat. Setelah dilarikan ke RS Sint Carolus, hasil CT scan menunjukkan ada pemblokiran pembuluh darah.

“Dokter mengatakan itu stroke. Awalnya, saya tidak paham. Yang saya tahu tiba-tiba dia tidak mengenali saya,” tutur Anton. Dengan penanganan medis, Sumarlin segera membaik. Ingatannya kembali meski badannya tidak turut pulih. Meski dokter menyarankan masuk ICU, namun, Sumarlin menolaknya. “Asal masih bisa berkomunikasi dan berdoa Rosario itu cukup baginya,” ujar Anton.

Pensiun

Senin, 3/2, Sumarlin meminta suntik insulin dihentikan. “Sudah cukup,” katanya. Ia meminta bertemu dengan Boediono, mantan wakil presiden, orang yang dibimbingnya dan meskipun terpaut 11 tahun, menjadi sahabatnya dan keluarga. Esok hari, Boediono membesuknya. Keduanya ngobrol dengan penuh semangat dari jam delapan hingga 11 malam.

Perjumpaan itu berpengaruh positif. Kadar oksigennya dalam tubuh Sumarlin bertambah. Meski demikian, layar di monitor menunjukkan tubuhnya amat lemah. Kepada Boediono ia mengatakan, “I am retiring from this life (saya pensiun dari hidup ini).” Dengan gaya tuturnya yang lembut, Boediono menjawab, “Apa yang terbaik bagi Gusti Allah, saya doakan.”

Siang hari sebelum perjumpaan itu, Sumarlin telah melakukan pengakuan dosa. Kardinal Ignatius Suharyo lah yang memberikan pelayanan sakramen ini kepadanya, kira-kira satu jam lamanya. Lebih dari satu tahun belakangan, Sumarlin rutin melakukan pengakuan dosa, kira-kira setiap dua minggu.

Rabu, 5/2, ia kembali berjumpa dengan seorang sahabatnya. Ia mengulangi lagi kalimat yang ia ucapkan sebelumnya kepada Boediono. “I am retiring from this life.” Guru yang juga rekan guru besarnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Soebroto, menjawab, “Stay strong. Jika kamu pergi, saya akan kehilangan teman saat rapat dewan guru besar.” Namun, sekali lagi Sumarlin berkata, “No, I’m retiring from this life. Saya sudah melihat Ibu (Sudarmi, istrinya) dan Bunda Maria. Waktunya sudah tiba.” Usai pertemuan ini, ia berdoa Rosario dan beristirahat.

Sejak 2017, Sumarlin begitu intensif meletakkan tangan di bawah mantol Bunda Maria. Ia mendaraskan doa Rosario tiga kali sehari, pagi usai sarapan, siang sesudah makan siang, dan malam jelang tidur. Seperti wajib, doa ini pasti ditutup dengan lagu “Ndherek Dewi Maria”. Sore hari, ia menanyakan tanggal hari itu dan tanggal meninggalnya Sudarmi. Mengetahui istrinya meninggal 6 April lima tahun silam, Sumarlin menyampaikan, sepertinya waktunya bisa mundur.

Sumarlin ingin meninggal pada tanggal yang sama. Hari itu, Kepala Paroki St. Fransiskus Asisi Tebet yang juga pembimbing rohaninya, Romo Damian Doraman, OFMCap memberikan Sakramen Minyak Suci kepadanya. Keduanya ngobrol dan masih membahas Program Ayo Sekolah Ayo Kuliah (ASAK) di Paroki Tebet, di mana Sumarlin menjadi ketua dewan pembinanya. Romo Damian mengungkapkan, hari-hari Sumarlin dirawat, ruang rawat itu seakan diubah menjadi kapel.

Di hari itu pula, Sumarlin masih mengutarakan keinginannya berjumpa satu lagi orang yang pernah ia bina. Malam itu lewat jam 10, Anton pergi menyampaikan undangan sang ayah. Mereka pun bertemu esok paginya dari bercakap-cakap dari jam delapan pagi hingga jam satu siang.

Pada satu titik, Sumarlin lalu berkata, “Sudah waktunya.” Keluarga pun berkumpul berdoa bersama. Usai doa, seperti biasa, lagu “Ndherek Dewi Maria” diputarkan. Lalu lagu “Bapa Kami” dan sekali lagi “Ndherek Dewi Maria”. Belum selesai lagu itu diputar kedua kalinya, Sumarlin menghembuskan nafas terakhirnya. Sumarlin pergi dengan amat tenang.

Memilih Katolik

Sumarlin kecil kerap menghabiskan waktunya di sawah membantu ibunya bekerja di Nglegok, Blitar. Ia lahir dengan nama Katubin. Karena sakit-sakitan, dukun menyarankan namanya diganti menyerupai nama kakaknya, Sumarlan. Maka dipilihlah Sumarlin. Sebenarnya ia berasal dari keluarga Muslim. Sebagai anak petani muskin, ia dititipkan ke pamannya yang menganut agama Katolik. Namun, sepuluh tahun tinggal dalam keluarga Katolik – membantu pekerjaan rumah tangga dalam keluarga itu dan disekolahkan – tidak serta-merta membuatnya menjadi Katolik.

Sumarlin terlibat dalam Tentara Pelajar dan Palang Merah. Berulang kali, ia ditawan, bahkan nyaris kehilangan nyawa. Namun, berkali-kali itu pula, ia diselamatkan oleh Gereja. Itulah yang membuatnya berpikir memeluk Katolik. Ia mulai belajar katekumen di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta yang letaknya tak jauh dari kosnya saat ia menempuh pendidikan di SMA Negeri I Yogyakarta. Ia lalu dipermandikan dan menerima nama baptis Johannes Baptista.

Istrinya, Sudarmi juga datang dari keluarga Muslim. Sejak kecil ia bersekolah di lingkungan Katolik dan dibaptis pada 1955 dengan nama baptis Theresia Yustina. Keduanya bertemu di Kediri, hanya beberapa saat sebelum Sumarlin pindah ke Jakarta tahun 1951. Delapan tahun menjalin hubungan cinta jarak jauh dengan surat-menyurat, keduanya kemudian bertunangan. Tahun 1961 mereka mengikat janji suci di Gereja St. Yohanes, Blitar, Jawa Timur dan kemudian menetap di Jakarta.

Dari pasangan ini lahir tiga putra dan dua putri; Ignatius Widyantoko, Sylvia Efie Widyantari, Antonius Widyatma, Fransiskus Widyanata, dan Khristina Widyastuti. Karier Sumarlin terus menan-jak seiring pertumbuhan anak-anaknya. Hidupnya ia dedikasikan sepenuhnya untuk tugas negara. Anak-anaknya mengatakan mereka hampir tak punya waktu dengan sang ayah. Sumarlin menyerahkan urusan keluarga sepenuhnya kepada Sudarmi.

Efie mengisahkan, saat ayahanda memegang jabatan-jabatan penting negara, anak-anaknya, harus ke kantor untuk membuat janji untuk bertemu. “Itu pun dapat jam malam dan biasanya janji bertemu Daddy itu saat kami ada masalah,” ujar Efie saat ditemui di Gereja St. Fransiskus Asisi Tebet, 12/2.

Sosok yang Dirindukan

Kecuali Efie, tak pernah ada anak lain yang kelulusannya dihadiri sang ayah. Karena satu perkara, Efie pernah minggat dan mati-matian ingin melanjutkan SMA-nya di Amerika Serikat. Bapaknya menyodorkan pakta perjanjian berisi sembilan poin yang isinya adalah sanksi-sanksi, bila nanti ia tidak tahan dan meminta kembali. Salah satu sanksinya, ia akan dikirim sekolah di Blitar.

Tak puas, Efie menawarkan poin ke-10: bila dia berhasil lulus dengan nilai baik, ayahnya harus datang dan mengikuti wisudanya. Dua tahun berlalu, Efie memang lulus dengan nilai baik. Di hari wisuda, saat hendak naik ke podium, ia melihat ayahnya muncul di antara para hadirin. “Saat itu air mata saya jatuh. Saya begitu terharu, Daddy menepati janjinya,” kenang Efie.

Efie mengakui, sejak ia masih gadis kecil, ayahnya selalu mengajarkannya untuk menjadi perempuan mandiri. “Nduk, jadi anak perempuan itu harus lebih tangguh daripada anak laki-laki. Tidak boleh cengeng. Pikirkan, begitu kamu menikah, punya anak, suamimu sibuk, harus bertugas di suatu tempat berbulan-bulan, anak bergantung pada siapa kalau bukan ibunya? Suatu hari suami sudah tiada, anak-anak bergantung pada siapa kalau bukan ibu? Dan kalau mau suami maju, istrinya tidak boleh merengek-rengek terus, harus independen, sehingga suami tidak merasa terbebani saat menjalankan tugas,” tutur Efie menirukan sang ayah.

Sementara itu, si sulung Widy me-nuturkan, ia masih merekam memorinya bersama sang ayah. Ketika berusia 11 tahun, Widy kecil memberanikan diri untuk mengajukan dua protes kepada ayahnya, yang waktu itu menjabat Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara.

Pertama, Widy meminta agar tidak mendisiplinkan anaknya dengan hu-kuman, dan kedua, menyiapkan waktu bagi keluarga seperti ayah lain yang bisa pulang pada sore hari. Protes itu rupanya ditanggapi Sumarlin dengan serius. Widy terhenyak, melihat perubahan drastis sikap ayahnya, yang mau mendengarnya. “Bapak berubah dari yang keras mendidik anak, menjadi lembut dengan menggunakan kata-kata persuasif sebagai gantinya,” tutur Widy, 12/2 lalu.

Widy menambahkan, ayahnya bahkan menetapkan hari Sabtu menjadi hari wajib bersama keluarga. Mereka akan berkumpul untuk makan bersama dan pergi Misa di gereja. Hari Minggu, Sumarlin kembali bekerja. “Perubahan-perubahan itu mem-buat saya berpikir, kok bisa? Ternyata bapak mendengarkan masukan anaknya,” ucapnya. Relasinya dengan Sumarlin kian hangat, bak sahabat meski terpaut 30 tahun.

Widy tidak pernah melupakan falsafah hidup ayahnya; kerja keras, serius, dan berdoa. Sepanjang hayat Sumarlin, ia melihat pribadi penuh aksi. Perilaku Sumarlin menyuarakan nasihat kepada Widy untuk menjadi contoh bagi adik-adiknya. “Bapak tidak banyak omong dan memang tipikalnya orang yang lebih banyak aksi. Saya lebih reflektif. Bila ada hal yang harus dikritisi dari saya, dia akan beraksi agar saya beraksi,” jelasnya.

Secara konsiten pergi ke gereja bersama-sama juga menjadi satu kenangan manis masa kecil Anton bersama ayahanda. Anton mengenang Sumarlin sebagai ayah yang tak pernah melarang anaknya untuk menekuni minat mereka. “Tidak pernah ada larangan. Kami dibebaskan untuk aktif terlibat dalam berbagai kegiatan intra dan ekstra sekolah,” tutur Anton.

Beberapa kegiatan yang Anton ikuti saat kecil, antara lain melayani sebagai misdinar dan saat bersekolah di Kolese Kanisius dan menginisiasi Canimount (komunitas anak gunung di Kolese Kanisius). Ia juga mengisahkan, ayahnya menampung lebih dari 15 anak di rumah, dari berbagai daerah termasuk Larantuka, Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur untuk menyelesaikan sekolah.

Anton adalah anak yang tinggal seatap bersama Sudarmi dan Sumarlin hingga keduanya tutup usia. Di antara saudaranya, ia dinilai sebagai yang paling klop dan paling nyambung dengan Sumarlin. Ia juga anak yang mengikuti jejak Sumarlin menjadi pendidik. Dari ayahnya, ia belajar untuk menjadi orang yang tahu tempat dan porsi. “Bapak tidak banyak tampil, tetapi ia aktif di belakang layar, bahkan hingga saat ia tua,” katanya.

Masih jelas di ingatannya, saat ibunda masih bersama mereka, hampir setiap malam kedua orang tua ini berdoa bersama di ruang doa keluarga dan selalu terdengar lagu Ndherek Dewi Maria.

Spirit Fransiskan

Di hari tua, Sudarmi lebih banyak menghabiskan waktu untuk berziarah. Sementara Sumarlin mengisi hari-hari tuanya dengan segala urusan pribadi, yang ia lewatkan saat menjadi pelayan negara. Ia bermisi mencari keluarganya yang hilang, juga memperbaiki makam orang tuanya di Blitar.

Menjelang akhir masa hidup Sudarmi, Sumarlin berpesan kepada Anton, untuk mendekatkan ayahnya dengan Paroki St. Fransiskus Asisi Tebet. Spirit Fransiskan yang peduli pada kaum papa begitu menyentuh keduanya. Mereka memberi perhatian besar dalam program ASAK.

Sejak kepergian istrinya, Sumarlin menjadi sangat dekat dengan Gereja Fransiskus Asisi Tebet. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Romo Damian, yang kemudian menjadi teman spiritualnya. Dua setengah tahun terakhir, Romo Damian mendampinginya menyelami lebih dalam iman Katolik. Selain berdoa dan mendalami Kitab Suci, banyak pertanyaan kritis yang ia lontarkan kepada Romo Damian tentang ajaran Katolik. “Meski menjadi Katolik sejak lama, tapi benar-benar mendalami makna Katolik ia lakukan sejak 2017 karena mempunyai seorang mentor yang baik,” ungkap Anton.

Kepadanya, Sumarlin selalu meminta untuk memperhatikan ASAK dengan tidak hanya rutin berdonasi tetapi ikut mendampingi. Terkadang sebagai bentuk nyata perhatiannya, Anton bahkan ikut mengambil rapor anak yang ia damping. Ayahnya selalu ingin anak-anak ASAK bisa mandiri, tidak memberatkan orang tua mereka, dan bercita-cita tinggi.

Dua setengah tahun terakhir ini pula, topik iman Katolik menjadi bahasan utama setiap Sumarlin berkunjung ke rumah anak-anaknya. Efie, yang kerap kebagian kunjungan pada akhir pekan selalu bahagia menunggu kedatangan ayahnya. Tak jarang, ayah dan putrinya ini ngobrol dan berdebat soal apa artinya menjadi orang Katolik, sampai larut malam. “Banyak bahasan yang kadang membuat aku harus buka Google,” tutur Efie.

Sebagai seorang kakek, Sumarlin bukan sosok yang tak nyambung akibat terpisah gap generasi. Cucu Sumarlin, putri Efie, yang biasa disapa Gia menceritakan, kakeknya tak hanya menjadi sosok inspiratif, Sumarlin juga menjadi teman ngopi dan tempat curhat sulung dua bersaudara ini. Dari Sumarlin, Gia belajar banyak mengenai sejarah Indonesia. Ia mengaku terpukau dengan “Gebrakan Sumarlin”. “Kalau bukan karena Eyang, aku tidak tahu sejarah Indonesia akan seperti apa,” ungkapnya usai pemakaman di San Diego Hills, Karawang, 10/2.

Gia mengaku beruntung bisa ada ber-sama ibu dan kedua pamannya menemani sang kakek saat menghembuskan nafas terakhir. “Eyang adalah pekerja keras, setia kepada keluarga dan negara, penyayang banget kepada istri dan anaknya. Itulah nilai yang akan saya ambil, jaga, dan terapkan.”

Hermina Wulohering, Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.08, 23 Maret 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here