Dikhianati, Dianiaya, Disalib di Wuhan, Yohanes Gabriel Jadi Santo Martir Pertama dari Tiongkok

763
Dok. Catholic News World
Dikhianati, Dianiaya, Disalib di Wuhan, Yohanes Gabriel Jadi Santo Martir Pertama dari Tiongkok
5 (100%) 1 vote

KOTA Wuhan beberapa waktu belakangan mendapat sorotan dari seluruh penjuru dunia. Virus corona atau COVID-19 pertama kali merebak di Ibu Kota Provinsi Hubei, Tiongkok ini. Siapa sangka, orang kudus pertama dari Negeri Tirai Bambu menjadi martir dan disalibkan di kota yang kini terpadat di Tiongkok Tengah ini.

Adalah Santo Yohanes Gabriel Perboyre (Prancis: Jean-Gabriel Perboyre), imam Kongregasi Misi (CM), dari Prancis, yang dikhianati oleh salah seorang muridnya demi uang. Seperti penderitaan Yesus, Yohanes Gabriel diikat, diseret, ditelanjangi, dijemur, dirantai, disesah. Dia juga ditusuk dengan besi panas, dicekik dengan tali, dicambuki hingga akhirnya disalib dengan tubuh yang terkulai karena lehernya dijerat dengan tali. Yohanes Gabriel wafat tercekik di Wuhan pada 11 September 1840.

Yohanes Gabriel lahir pada 6 Januari 1802 di Le Puech (sekarang di sekitar Kota Montgesty), Lot, Prancis. Dia adalah sulung delapan bersaudara dari pasangan Pierre Perboyre dan Marie Rigal. Dari kedelapan bersaudara ini, tiga di antaranya menjadi imam CM, dua suster Puteri Kasih, satu suster Karmelit, dan dua yang lain menikah.

Awal panggilan menjadi misionaris terjadi tidak sengaja. Bermula saat dia mengantar adiknya, Louis, ke seminari. Rektor seminari yang adalah pamannya sendiri, P. Yakobus Perboyre, CM meminta Yohanes Gabriel tidak pulang dan menjaga adiknya yang masih kecil di seminari. Dia pun menetap di seminari dan akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Kelak, sang adik menjadi imam CM yang mendahuluinya pergi misi ke Cina tetapi meninggal dalam perjalanan kapal di sekitar Laut Jawa.

Ayah Yohanes Gabriel berharap si sulung dapat menggantikannya bekerja di ladang. Dari Seminari Montauban, dia menulis surat kepada ayahnya. “Aku mulai belajar bahasa Latin. Tetapi aku bersedia berhenti jika ayah menghendaki. Aku mengerti kebutuhan dan rencana ayah. Bagiku tidak sulit belajar. Satu-satunya yang membuatku susah ialah bahwa aku sekarang tidak bisa membantu ayah. Namun, jika panggilan Tuhan memang merencanakan aku menjadi imam-Nya, aku tidak bisa menolak panggilan-Nya,” tulisnya.

Yohanes Gabriel ditahbiskan sebagai imam CM pada 23 September 1825 di Kapel Suster Puteri Kasih oleh Uskup New Orleans. Tak lama kemudian, Yohanes Gabriel dikirim ke Seminari Saint-Flour untuk mengajar teologi dogma. Dua tahun kemudian, dia diangkat sebagai rektor seminari kecil. Suksesnya membuat ia ditunjuk sebagai wakil pemimpin novisiat di Paris, tahun 1832, kemudian direktur novisiat.

Kondisi kesehatannya kurang bagus. Namun, semangatnya bermisi ke Tiongkok amat berkobar. Dia berangkat ke Tiongkok tahun 1835. Dalam perjalanan, dia selalu mengingat sang adik, Louis, dan menyebutnya sebagai bintang di surga yang menerangi perjalanannya pada waktu malam di tengah laut.

Pastor Yohanes Gabriel Perboyre, CM tinggal di Makau sampai akhir Februari 1836, lalu melakukan perjalanan laut dan darat yang amat panjang. Perjalanan lama dan jauh, dengan pengalaman dan perjumpaan yang melelahkan, kesulitan, peluh keringat, semuanya terasa tidak berarti apa-apa baginya.

Lima bulan pertama berkarya di pedalaman Tiongkok, dia mengunjungi komunitas-komunitas Kristiani. Umat Kristiani belum begitu banyak, tetapi menurut laporan jumlahnya kira-kira hanya 1500-an umat yang tersebar di mana-mana. Untuk mengunjungi umat Yohanes Gabriel harus melakukan perjalanan lebih dari 1200 kilometer, jarak yang hampir sama jauhnya dengan keliling Prancis, asal negaranya. Ketika pindah ke Hubei, di mana Kota Wuhan berada, daerah pegunungan ini tergolong cukup berat medannya. Dalam suratnya, Yohanes Gabriel bercerita, banyak gerejanya sangat kotor, beratap jerami dengan kursi-kursi yang jelek dan kotor.

Pastor Yohanes Gabriel Perboyre wafat di salib. Dok. La Santa Sede

Kisah Yohanes  Gabriel berakhir ketika terjadi penganiayaan dan penangkapan yang dilakukan oleh raja setempat. Umat Kristiani terpaksa harus bersembunyi. Namun, salah seorang murid Yohanes Gabriel berkhianat. Murid yang tidak setia itu “menjual” sang imam dengan 30 ons perak. Pagi itu, murid yang bagaikan Yudas Iskariot itu, mengantar para serdadu mengepung Pastor Yohanes Gabriel Perboyre dan menangkapnya.

Yohanes Gabriel diikat, diseret. Ditelanjangi, dijemur. Dirantai, disesah. Ditusuk dengan besi panas. Dicekik dengan tali. Dicambuki. Dan, akhirnya disalib dengan tubuh yang terkulai karena leher dijerat dengan tali, dan wafat tercekik pada 11 September 1840. Dalam buku Sahabat-Sahabat Tuhan dan Orang Miskin, Seri Vinsensiana 1, disebutkan, rupa-rupa penganiayaan ini merupakan serial pengadilan yang tidak adil yang digelar oleh raja setempat. Semua penderitaan dia jalani dengan iman dan ketekunan seperti Yesus Kristus.

Tahun 1889, Paus Leo XIII menyatakannya sebagai beato. Dan tahun 1996, Paus Yohanes Paulus II menganonisasikannya sebagai Santo Martir pertama dari Tiongkok.

Hermina Wulohering

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here