Imam Ini Lebih Memilih Dipenjara daripada Meninggalkan Narapidana

124
Pastor Ron Cloutier memberikan komuni melalui celah kepada seorang tahanan di sel khusus di penjara Departemen Kehakiman Texas | CNS / Keuskupan Agung Galveston-Houston Correctional Ministries
Imam Ini Lebih Memilih Dipenjara daripada Meninggalkan Narapidana
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.COMSejak merebaknya pandemi Covid-19, sistem penjara federal Kanada ikut menutup semua kunjungan kepada para narapidana. Imbasnya pendampingan rohani untuk narapidana pun ikut dibatasi karena kecemasan yang meningkat atas bahaya yang dihadapi oleh narapidana dan sipir penjara. Namun, seorang imam Katolik secara sukarela “dipenjara” daripada meninggalkan narapidana tanpa pendampingan rohani.

Perwakilan Konferensi Waligereja Kanada untuk Pelayanan Penjara, Mgr. Gary Gordon membeberkan imam yang menolak disebutkan namanya ini memang menawarkan diri untuk pergi dan tinggal di penjara 1×24 jam. “Saya tidak dapat menghalangi niat baiknya. Ini adalah panggilannya dan ia memaknai komitmenya dengan sangat indah,” tuturnya terharu.

Sebagai penghubung resmi Konferensi Waligereja Kanada dengan pihak rumah tahanan Kanada, Mgr. Gordon berharap terus berupaya untuk membujuk para pejabat federal agar tidak sepenuhnya memotong hak tahanan untuk memperoleh pendampingan rohani dari para imam. “Jika seseorang sakit parah, maka imam harus diizinkan untuk memberikan sakramen pengurapan orang sakit dan viatikum,” ujarnya.

Direktur eksekutif Dewan Gereja tentang Keadilan, Bonnie Wapler berpendapat bahwa situasi di dalam penjara bisa sangat berbahaya. Ia membandingkan penyebaran Covid-19 di penjara dengan penyebarannya di rumah perawatan dan kapal pesiar. “Apa yang kamu harapkan terjadi? Sama seperti yang Anda lihat terjadi di rumah lansia. Jika satu orang terpapar, sejumlah besar akan terinfeksi,” ungkap Bonnie.

Sedangkan Menteri Keamanan Publik, Bill Blair mengarahkan Lembaga Pemasyarakatan Kanada dan Dewan Pembebasan Bersyarat Kanada untuk menemukan cara mengurangi populasi penjara melalui pembebasan awal. “Ontario juga secara proaktif melakukan peninjauan untuk semua tahanan menentukan kelayakan pembebasan awal,” imbuh Kristy Denette, juru bicara kantor jaksa agung. Ia melanjutkan juga akan mengantisipasi jumlah narapidana dalam tahanan dan dapat dipastikan akan terus menurun selama beberapa minggu mendatang.

Sementara pendampingan rohani telah diklasifikasikan sebagai layanan penting dan kunjungan pelayanan penjara masih diizinkan secara teknis di penjara Ontario, masing-masing lembaga sangat berhati-hati dalam membiarkan sukarelawan untuk masuk dan keluar.

Diakon Joseph Owusu-Afriye, yang selama 10 tahun menjadi pengunjung tetap di Pusat Pemuda Roy McMurtry di Brampton, diberitahu bahwa ia dapat melanjutkan kunjungannya asalkan penjara untuk remaja itu tidak dikunci dan ia merasa aman melakukannya. Semua  opsi telah dipertimbangkan dan memang ada beberapa risiko yang terlibat, tetapi selama Diakon Joseph yakin bahwa ia bukan sumber infeksi, ia dapat melanjutkan kunjungan penjara bulanannya. “Ini adalah waktu yang mungkin paling mereka butuhkan untuk dikunjungi secara teratur, untuk didengarkan dan berada bersama mereka. Untuk itu, ini bukan saatnya aku meninggalkan mereka,” ucap Diakon itu lirih.

Mengurangi pelayanan penjara dari penjara, bahkan untuk waktu yang singkat, dapat memiliki konsekuensi negatif bagi narapidana dan suasana di dalam tahanan. Profesor hukum Universitas Carleton, Rebecca Bromwich juga sependapat dengan berujar, “Ada banyak penelitian bahwa layanan rohani yang dibawakan para imam merupakan bagian integral dari kesehatan mental narapidana,” katanya

Maka dari itu, umat ​​Katolik pun diajak untuk terus mendoakan para tahanan. “Sepanjang pengetahuan kami, narapidana yang kami bina adalah mereka yang paling rentan kecanduan berdasarkan data yang kami terima. Untuk itu bagaimanapun juga persembahan doa bagi mereka menjadi elemen yang penting, “ pungkas Mgr. Gordon.

Felicia Permata Hanggu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here