MENCARI IMAN DI BENUA ANTARTIKA

34
Para peneliti di Pangkalan Belgrano II, Antartika Argentina.
Mohon Beri Bintang
Terowongan pangkalan awalnya menjadi tempat barang-barang kebutuhan. (Dok. Proyectoantartidaequipoescobar)
Umat yang berdiri di luar salah satu gereja, dekat Stasiun Bellingshausen
Rusia di Antartika. (Dok.World Atlas)

HIDUPKATOLIK.COM Pangkalan Belgrano II, Antartika Argentina, menyediakan tempat ibadah bagi umat Katolik di Gua Es.

Antartika adalah benua raksasa yang menakjubkan di kutub selatan dunia. Me-nantang suhu Musim Dingin lebih dari seratus derajat Fahrenheit di bawah nol, beberapa ribu orang tinggal di sana pada waktu tertentu. Seperti kebanyakan orang, mereka memi-liki kebutuhan rohani dan untungnya saja beberapa kapel di berbagai pangkalan pemerintah telah didirikan.

Ada sebuah kapel yang posisinya pa-ling selatan. Kapel Katolik milik Pangkalan Belgrano II Argentina yang terletak lebih dari 800 mil dari Kutub Selatan. Kapel ini memiliki atribut yang unik yakni diukir dari es murni.

Pangkalan Belgrano II adalah stasiun penelitian ilmiah yang diberi nama sesuai dengan nama salah satu Libertadores dan pencipta Bendera Argentina, Jenderal Ma-nuel Belgrano. Kapel ini terletak di Bertrab Nunatak, Pantai Confín, Coats Land.

Pangkalan yang dimiliki oleh Tentara Nasional Argentina ini merupakan pangkalan terjauh ketiga di dunia, dan diba-ngun di atas batuan padat. Hal ini membuat pangkalan ini sangat cocok untuk penelitian geologi. Belgrano II juga merupakan salah satu dari 13 stasiun penelitian di -Antartika yang dikelola oleh tenaga ope-rasional dari Angkatan Darat dan Angkatan Udara Argentina.

Kapel Gua Es

Kepala Pangkalan Belgrano II yang bertugas sekitar tahun 2012, Kapten Erik Dorado menceritakan dalam blog pribadinya, bahwa ada lebih dari satu pangkalan yang dibuat. Sebelumnya Pangkalan Belgrano I terletak pada koordinat 77º 47´S 38º 15´ di Teluk Comandante Piedrabuena. Pangkalan ini diresmikan pada tanggal 18 Januari 1955, oleh Kolonel Hernán Pujato. Fungsi pangkalan ini untuk memastikan keha-diran Argentina di selatan Laut Weddell. Pangkalan ini juga sebagai titik awal untuk ekspedisi ke Kutub Selatan.

Daerah ini adalah gurun yang hampir tanpa kehidupan. Hanya sedikit satwa yang hidup di daerah ini, bahkan nyaris tidak ada. Ekspedisi darat Argentina pertama ke Kutub Selatan, berangkat pada 26 Oktober 1965 dari pangkalan ini di bawah komando Kolonel Jorge Leal. Tim pertama ini mencapai tujuannya pada 10 Desember 1965. Dalam perjalanan, mereka mendirikan Pangkalan Sobral yang terletak 420 km ke selatan dari Pangkalan Belgrano.

Sejak tahun 1958, studi tentang atmosfer mulai dilakukan oleh pangkalan ini. Pada tahun 1970 Laboratorium Belgrano (LABEL) dibangun.  Sejak 1955 ini juga, di Pangkalan Belgrano I, banyak orang telah tinggal di dalam terowongan yang digali di dalam es.

Dorado mengungkapan, lapisan es di mana pangkalan itu dibangun ternyata -tidak stabil. Hal ini tentu memaksa mereka untuk pindah. Pangkalan Belgrano I harus ditinggalkan karena kondisi ini.

Militer Argentina kemudian berusaha menemukan tempat yang baik untuk pangkalan baru. Sebagian besar wilayah Antartika yang tertutup es menyulitkan penca-rian ini. Untungnya, pemerintah -Argentina menemukan sekitar satu hektar lahan bebas es. Di tempat inilah kemudian dibangun Pangkalan Belgrano II yang -mulai difungsikan pada 5 Februari 1979.

Angkatan Darat Argentina dengan -hati–hati mempelajari lokasi ini. De-ngan keberhasilan ini maka mereka dapat melanjutkan studi atmosfer, aurora, dan meteorologi. Setelah Belgrano I dinonaktifkan, semua peralatan ilmiah dipindahkan ke Belgrano II. Fasilitas di pangkalan ini juga diperkaya dengan peralatan yang lebih modern.

Sejak awal, pangkalan tersebut telah dilengkapi sistem terowongan. Awalnya terowongan ini berfungsi sebagai ruang -tempat semua produk pendingin disimpan. Kapten Dorado mengatakan, tero-wongan ini kerap difungsikan sebagai pe-nyimpanan bahan-bahan penelitian. “Ini adalah konstruksi di atas es, di mana gua-gua -dibuat dan agar dapat bertahan, perlu mempertahankan sekitar suhu sekitar -16º C di bawah suhu normal permukaan es,” ungkapnya.

Kemudian setelah berangsur lama, gua tersebut difungsikan sebagai kapel Katolik. Ketika mereka pindah, mereka membawa salib dari bekas pangkalan yang hari ini adalah monumen bersejarah di bawah Perjanjian Antartika. Kapel ini disebut Kapel Bunda Maria Ratu Salju (Chapel of Our Lady of The Snows) dan masih digunakan oleh para ilmuwan yang bekerja di pang-kalan sampai hari ini.

Selama proses pemindahan peralatan dari Pangkalan Belgrano I, salib yang  dimiliki oleh Kolonel Pujato yang diberdirikan pada tahun 1955 juga ikut dibawa serta. Bagi Dorado, salib ini cukup aneh. Meskipun turun salju lebat, salib tidak pernah tertutup es.

Bentang es yang meluas memenuhi sebagian besar benua Antartika. Sajuh mata memandnag hanya ada es. Maka tidak heran, Antartika dianggap tempat paling terpencil dan paling keras di dunia.  Kendati demikian, di medan es yang cukup menantang, para penjelajah dan ilmuwan masih menemukan waktu serta tempat untuk memenuhi kebutuhan spiritualitas mereka.

Kapel Bunda Maria Ratu Salju masuk dalam wolayah pastoral Keuskupan Agung Bahia Blanca di Buenos Aires, Argentina, yang dipimpin Uskup Agung, Carlos Azpiroz Costa, OP. Selain Kapel Bunda Maria Ratu Salju ada delapan gereja di Antartika. Dari semua kapel, ada empat kapel Katolik yang masih aktif. Kebanyakan kapel yang masih aktif ini didirikan oleh tentara Argentina dan menjadi bagian dari Pangkalan Militer Argentina.

Kapel Pertama

Kapel St. Fransiskus Asisi (Capila de San Francisco de Asis) yang menjadi bagian dari Pangkalan Esperanza dan terletak di Hope Bay, Semenanjung Antartika. Kapel pertama di benua es ini didirikan pada 18 -Februari 1976 oleh Pangkalan Esperanza yang dikelola Argentina.

Dibangun oleh Angkatan Darat Argentina, kepela ini berperan penting dalam memenuhi kebutuhan spiritual awak militer dan penduduk tetap di pangkalan Argentina. Kapel ini menjadi saksi beberapa pengalaman pertama di benua Antartika, seperti seperti upacara komuni pertama dan pernikahan yang dilakukan di Antartika. Salah satunya adalah Emilio Palma yang dibaptis di kapel ini.

Pangkalan Esperanza merupakan salah satu dari tiga belas pangkalan penelitian resmi yang dikelola oleh Argentina. Selain sebuah kapel, pangkalan penelitian ini juga memiliki sekolah permanen. Ada beberapa guru tetap yang mengajar di sekolah ini. Selain itu, ada  museum, serta rumah sakit yang juga menjadi fasilitas pangkalan ini.

Kapel kedua, Kapel St. Maria Ratu Damai (Capila de Santa María Reina de la Paz), Villa Las Estrellas, Pulau King George. Kapel Katolik terletak di stasiun penelitian Antartika di Villa Las Estrellas. Wilayah ini merupaka basis penelitian yang ada di Wilayah Antartika Chile. Struktur kapel berbentuk wadah logam besar dengan fasilitas listrik dan pemanas di bagian dalam. Kapel ini termasuk dalam wilayah pelayanan Gereja Militer Chile.

Kapel ini menjadi salah satu dari sedikit gereja di dunia yang terbuat dari kontainer logam. Dengan konstruksi semacam ini, bagunan ini terlihat sebagai tempat ibadah yang tidak biasa. Terletak di Pangkalan -Militer Chile di Pulau King George, kapel ini menjadi tempat berdoa bagi bagi bebe-rapa keluarga yang tinggal di sana, yang biasanya menetap selama dua tahun penuh sebelum mereka kembali ke daerah asal. Ibadat biasanya dipimpin oleh seorang diakon yang tinggal di pangkalan. Pang-kalan ini juga memiliki sekolah, asrama, kantor pos, dan bank.

Ketiga, Kapel Perawan Tersuci dari Lujan (Capila de la Santísíma Vírgen de Luján), Pulau Marambio. Kapel yang berdiri sejak 1996, terletak di Marambio yang merupakan basis militer Argentina di Pulau Seymour, Marambio, Antartika. Struktur kapel terdiri dari baja dan juga memiliki salib dan menara lonceng. Awak pangkalan Argentina kerap mengunjungi kapel ini untuk kebutuhan spiritual dan keagamaan mereka. Kadang-kadang, penjelanjah Antartika juga berkunjung.

Pastor Nicholas Daniel Julian diketahui menjadi salah seorang yang membantu kapel ini saat dibangun pertama kali. Pada saat pembangunannya, di daerah ini masih ada lapangan terbang pertama di Antartika, yang sering dianggap sebagaip “pintu masuk” menuju Antartika.

Karina Chrisyantia

HIDUP No.15, 12 April 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here