Resah dengan Perekonomian di Masa Pandemi? Hayati Kisah 8 Santo Santa ini

187
Resah dengan Perekonomian di Masa Pandemi? Hayati Kisah 8 Santo Santa ini
1 (20%) 1 vote
HIDUPKATOLIK.COM — Masih berhubungan dengan pandemi covid-19. Pandemi ini membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan para pemilik usaha juga ikut khawatir mengalami kejatuhan hingga gulung tikar.
Simak kisah singkat beberapa orang Kudus yang mengalami kesulitan menjalankan sebuah usaha dan diyakini mereka dengan senang hati akan menjadi perantara.

Santo Abraham dari Harran (350-422) adalah seorang biarawan yang menjadi pengusaha untuk keselamatan jiwa-jiwa. Setelah mendengar bahwa ada sebuah desa yang membutuhkan pertobatan, ia membuka kios buah di sana sehingga ia dapat bertemu orang-orang. Tetapi penduduk desa lebih menghargai hasil dagangannya ketimbang khotbahnya. Justru khotbahnya membuat warga desa sangat marah sehingga Abraham mulai resah akan hidupnya. Namun semua perlahan berubah ketika ia rela membayar pajak dan hutang-hutang mereka hingga membebaskan mereka dari penjara. Warga desa tersebut sadar dan bertobat. Kemudian meminta Abraham tinggal sebagai imam mereka. Abraham tinggal selama tiga tahun sampai dipanggil menjadi uskup di kota di sekitar daerah itu.

Santo Homobonus (1111-1197) adalah pelindung para pengusaha. Pedagang kain yang telah menikah ini melihat bisnisnya sebagai cara melayani Tuhan melalui praktik bisnis yang adil dan kemurahan hati kepada orang miskin. Meskipun seorang pengusaha yang sukses, sedekahnya yang terus mengalir membuat sang istri khawatir mereka jatuh miskin. Tetapi Homobonus memercayai Tuhan telah menyediakan, baik melalui filantropinya maupun melalui arahan yang diterimanya dalam kehidupan doanya yang kuat.Walaupun bukan seorang uskup atau mistikus, hidup sucinya begitu jelas sehingga Homobonus dikanonkan hanya dua tahun setelah kematiannya.

Santa Marguerite d’Youville (1701-1771) dibesarkan dalam kemiskinan, yang semakin memburuk setelah ia menikahi seorang tukang sepatu boot yang kerap mabuk-mabukan. Marguerite bertahan dalam pernikahannya selama delapan tahun. Selama ia melahirkan enam anak dan mengubur empat. Ketika suaminya meninggal, Marguerite tidak memiliki apa-apa selain hutang. Akhirnya, ia membuka toko agar dapat melunasinya. Ia cukup sukses sebagai pemilik bisnis dan memberi lebih banyak kepada orang miskin daripada ia simpan sendiri. Setelah tujuh tahun mengelola toko, Marguerite meninggalkan toko untuk melayani orang miskin sepenuh waktu bersama sekelompok sahabat, yang kemudian menjadi biarawati di Montreal.

Peter Wu Guosheng (1768-1814) merupakan martir Cina pertama. Ia pemilik sebuah hotel. Wu dikenal memiliki semangat yang sangat tinggi. Setelah ida mendengar tamu-tamunya berbicara tentang Yesus, Wu ingin sekali membagikan Injil kepada semua orang. Dia mulai menarik oraang dan membuat mereka duduk di hotelnya untuk mendengar Injil. Agar tidak tertangkap,  Wu mendirikan hotelnya sebagai pusat komunitas Kristen di wilayahnya dan membawa 600 orang menjadi pengikut Yesu. Namun pada akhirnya, ia ditangkap dan dibunuh.

 

Pasangan suami istri,  Louis Martin (1823-1894) dan Zélie Martin (1831-1877) paling terkenal karena menjadi orang tua Santa Thérèse dari Lisieux, tetapi mereka dinobatkan sebagai Orang Kudus dengan kisah mereka sendiri. Louis adalah seorang pembuat jam tangan. Bahasa Latinnya yang kurang mumpuni membuatnya tidak belajar menjadi imam. Sedangkan,  Zélie seorang penjahit. Ia memiliki kondisi tubuh yang lemah dan membuatnya tidak masuk biara. Mereka menikah dan segera mendapati bisnis pembuatan kerajinan tangan. Zélie begitu sukses sehingga Louis memutuskan untuk menutup usahanya dan fokus membantu istrinya. Zélie menjalankan pekerjaannya di rumah, sementara Louis membantu dalam penjualan serta desain artistik. Mereka memperlakukan karyawan mereka seperti keluarga dan menghasilkan cukup uang sehingga ketika Zélie meninggal. Louis dapat pensiun ke Lisieux untuk membesarkan anak perempuannya di dekat keluarganya.

Beato Salvador Huerta Gutierrez (1880-1927) adalah ayah dari 12 anak ini mengelola sebuah toko mekanik di Meksiko. Meskipun awalnya miskin, ia dikenal sebagai montir terbaik di Guadalajara. Ia mempekerjakan delapan pria dan seorang Kristiani yang saleh . Setiap pagi, ia mengunjungi Sakramen Mahakudus dalam perjalanannya ke tempat kerja. Selama Perang Cristero, ia dibunuh karena keimanannya bersama dengan saudaranya Blessed Ezequiel Huerta Gutierrez.

Yang Mulia Jan Tyranowski (1901-1947) berharap untuk bekerja sebagai akuntan, tetapi penyakit kronisnya membuat bekerja di kantor menjadi suatu hal yang tidak mungkin. Sebaliknya, ia bergabung dengan ayahnya sebagai penjahit dan menjalankan bisnis keluarga. Ia bujangan yang tinggal bersama ibunya. Tetapi sebuah kisah yang mengesankan bahan pemimpin pemuda ini mengubah kehidupan seorang Karol Woytyla dan dunia. Paus St. Yohanes Paulus II menyimpan foto Tyranowski di atas mejanya selama masa kepausannya karena Tyranowski membantu dalam panggilannya.

Sumber: Aleteia

Karina Chrisyantia

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here