Berbuat Baik, antara Pamer dan Menginspirasi – Renungan dari Anne Avantie

627
Anne Avantie membuat baju APD gratis untuk tenaga medis yang menangani pasien virus corona. Dok. Anne Avantie
Berbuat Baik, antara Pamer dan Menginspirasi – Renungan dari Anne Avantie
3.7 (73.33%) 3 votes

MAJALAH HIDUP edisi ke-16 yang terbit 19 April 2020, memuat cerita Anne Avantie dalam rubrik Kesaksian. Perancang busana ternama Indonesia ini, sejak pertengahan Maret lalu, berhenti membuat kebaya dan gaun-gaun pesanan di rumah produksinya di Semarang, Jawa Tengah.

Tempat tersebut disibukkan dengan pembuatan baju alat pelindung diri (APD) yang belakangan sangat dibutuhkan oleh tenaga medis di tengah krisis wabah virus corona.

Hari ini, Minggu, 19/4, pagi, Anne Avantie membagikan sharing-nya, melanjutkan obrolannya dengan Fr Nicolaus Heru Andrianto yang menulis kisahnya. Pesan ini dikirim kepada HIDUP melalui WhatsApp, pukul 05:28 WIB.

Kemarin saya dimuat dalam majalah HIDUP terbaru, sebagai seorang Katolik yang terpanggil mewartakan kasih karunia Tuhan dalam membuat alat pelindung diri. Seorang frater hebat di seberang sana yang menulis. Kami pun melalui komunikasi jarak jauh, mencoba menyatukan hati, hingga terwujudlah tulisan indah beliau.

Setelah majalah HIDUP yang terus semakin bersolek itu terbit, ada satu pertanyaan Frater yang menggelitik hati saya dan ingin saya bagikan.

“Bu Anne, kalau ada orang Katolik yang menginspirasi untuk bisa saya tulis, mohon diinfokan pada saya ya. Kami sangat butuh untuk memberikan kekuatan dan peneguhan iman Katolik dalam kehidupan nyata.”

Saya menjawab…

Kalau saya pribadi ya, Frater, sudah lebih dari 20 tahun memenuhi panggilan Tuhan berkarya di bidang kemanusiaan. Dari awal dulu saya dirasanin (digunjingkan) macam-macam sampai nggak ada rasanya, sampai masuk telinga pun tidak! Dan itu berjalan puluhan tahun; dibilang cari popularitas.

Saya jawab: Saya sejak kecil cita-cita ingin populer. Jadi saya hidup memang untuk mencari popularitas, supaya bisa menginspirasi banyak orang, menjadi saksi kemuliaan Tuhan.

Jadi apapun saja kegiatan saya, saya tulis, saya dokumentasikan, saya posting. Bahkan punya tiga orang tim khusus mengelola media sosial. Saya ceritakan semua betapa luar biasanya Tuhan dan tidak peduli. Tidak ngaruh juga mau diomongin apa pun. Karena yang ngomongin itu tidak berbuat apapun, apalagi menyumbang. Maka kenapa saya pikirkan? Habis-habiskan waktu dengan percuma dan menambah dosa.

Orang kita itu lucu, Frater. Tidak bisa membedakan mana yang pamer dan mana yang menginspirasi. Kurang cerdas dalam menanggapi sesuatu. Semua seperti dipukul rata. Bahkan banyak orang yang berbuat dan punya pelayanan bagus, misi visinya jelas… memilih mundur. Tidak kuat sama omongan orang.

Sayang sekali mentalnya tidak kuat, pijakannya tidak kokoh. Kata orang kuno, “Iman abal-abal kok dibahas.” Benar juga ya.

Saya bersyukur bermental baja; otot emosi terlatih dan darah tidak mudah mendidih. Pakai kaca mata kuda  dan ndablek (cuek). Mau dibilang apa saja monggo kerso (terserah).

Ketika saya yakin apa yang saya lakukan, baik pribadi maupun atas nama Yayasan Anne Avantie, baik dan bermanfaat bagi sesama dan banyak orang, maka saya jalan terus. Lurus … dengan mematuhi rambu-rambu lalu lintas Tuhan. Juga harus patuh traffic light. Kalau merah harus berhenti. Kalau kuning berarti saya harus hati-hati. Dan kalau lampunya hijau saya akan terus berjalan. Apalagi, pakai uang.. uang saya sendiri. Kenapa saya harus pikirkan orang omong apa?

Surat Bunda Teresa juga menulis, “Hai orang baik, jangan kamu terus bersembunyi. Pahami firman Tuhan dengan utuh. Yang tidak boleh itu kalau menonjol dengan tujuan pamer. Maka kalau kamu berbuat baik dengan cara yang benar, tegaklah berdiri supaya kamu terlihat. Sehingga orang-orang yang menderita tahu di mana mereka akan mencari pertolongan. Kalau semua penolong atau orang baik bersembunyi, maka dunia ini akan dipenuhi energi negatif. Mari kita ajarkan tangan kiri sebaik tangan kanan. Dan bersatu untuk memuliakan nama Tuhan.”

Penggalan surat itu sungguh memberkati karya kemanusiaan saya – untuk tidak takut menonjol. Dan itu bisa dilatih perlahan-lahan dengan jalan mengubah sudut pandang, cara berpikir.

Begitu Frater, kalau saya berbeda pemikirannya. Maka kalau Frater bertanya, siapa orang Katolik yang mau ditulis atau ditokohkan, pasti sulit. Karena kebanyakan orang Katolik takut pada suara manusia, bukan suara Tuhan.

Maaf.
Berkah Dalem,
Anne Avantie

Hermina W.

Klik di sini untuk mendapatkan majalah HIDUP edisi ke-16.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here