SAATNYA KITA BERGERAK BERSAMA

11
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM “DI sini ada sekitar dua puluhan suster. Mereka selama ini hanya mengandalkan ‘pendapatan’ dari pembelian hosti dan lilin, serta orang-orang yang datang rekoleksi, retret, atau kegiatan lain. Dengan tidak adanya Misa di gereja, otomatis tidak ada yang memesan hosti dan lilin. Begitu juga dengan peserta rekoleksi, retret, atau aktivitas kantor lainnya. Aktivitas lumpuh total. Ke depan, para suster tidak tau harus berbuat apa agar operasional dan biaya hidup mereka tercukupi saban hari.”

Demikian kurang lebih percakapan awak redaksi ini dengan seorang frater yang mem­beritahukan situasi terkini, Selasa, 7 April 2020 di Biara Kontemplatif Klaris OSCCap di Sikeben, Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Menurut frater tersebut, para suster kini hanya berharap pada kemurahan hati orang-orang yang telah mendengar informasi ini. Baru saja, kata frater, ada keluarga yang da­tang mengantar sekian kilogram beras dan sayur-sayuran dari Brastagi.

Biara para suster yang mengkhususkan diri untuk berdoa, bertapa, dan bekerja di dalam biara ini, barangkali hanya salah satu dari biara Katolik yang mengalami dampak langsung dari karantina (bekerja dan dan beribadah) di rumah, yang diberlakukan di Indonesia saat ini. Bahwasanya ke de­pan, dampak ini akan makin dirasakan, tidak hanya oleh biara seperti di Sikeben, tapi juga oleh institusi-institusi Gerejani lain. Begitu juga dengan para karyawan lepas, yang tak memiliki pilihan lain, yang bekerja hanya mengandalkan kemurahan orang lain.

Hari-hari menjelang Paskah 2020 ini, kita menyaksikan mulai munculnya ge­rak­an-gerakan aksi-aksi sosial belarasa yang ditunjukan pelbagai kalangan, termasuk ta­rekat-tareket. Ada yang membagikan ma­kanan gratis kepada para pekerja ha­rian, tukang becak, supir angkutan umum ko­ta dan antar propinsi, ojek online, dan lain sebagainya. Ada pula yang mem­be­rikan sembako, masker, dan lain-lain. Ha­rapannya, bahwa aksi belarasa ini akan terus berjalan di hari-hari yang akan da­tang, hingga pandemi virus korona ini benar-benar bersih dari bumi Nusantara dan dunia.

Supaya gerakan belarasa ini dapat ber­ke­sinambungan, diperlukan semacam koor­dinasi di antara hierarki Gereja dan pa­ra pimpinan organisasi kemasyarakatan, lem­baga lain yang ada linkungan Gereja. Me­nyusun semacam strategi dan langkah bersama bagaimana menghadapi situasi, yang belum bisa dipastikan kapan berakhirnya ini. Tentu saja bukan hanya memikirkan, atau memberi prioritas ke­pada umat Katolik saja, tetapi juga upa­ya-upaya yang bisa dijalankan bersama de­ngan tokoh agama atau pimpinan ormas beragama lain, dalam memberikan bantuan bagi setiap warga, khususnya masyarakat yang sungguh-sungguh kehilangan mata pencaharian.

Kita bersyukur, pemerintah sudah pu­­nya rencana tersendiri bagi warga yang terdaftar di RT/RW sebagai warga prase­jahtra (punya kartu/tercatat). Tapi, masih banyak warga yang sama sekali belum tercatat di RT/RW, dusun, atau kampung. Siapa yang akan memperhatikan mereka? Maka, sembari mendata dan memberi ban­tuan darurat kepada umat internal seperti di Sikeben, saatnya Gereja Indonesia me­nun­jukkan darma baktinya bagi bangsa dan negara ini kendati Gereja juga berke­ku­rangan.

HIDUP NO.16, 19 April 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here