Pekan Suci dan Paskah Gereja Katolik Timur

402
Pastor Olex saat membawakan homili di depan keranda kain kafan (Dok. Lembaga Penelitian Santo Dimitry)
Pekan Suci dan Paskah Gereja Katolik Timur
4.4 (88%) 10 votes

HIDUPKATOLIK.COM KRISTUS bangkit! Sungguh Dia telah bangkit! Inilah salah satu ungkapan umat Katolik Timur memberikan ucapan selamat Paskah kepada sesamanya. Umat Katolik Timur merayakan Paskah pada Minggu, 19/4/2020. Berbeda dengan umat Katolik Barat (Roma) yang merayakan Kebangkitan Kristus sepekan sebelumnya. Ini terjadi karena umat Katolik Barat menggunakan kalender Gregorian, sementara umat Katolik Timur menggunakan penanggalan Julian.

Kalender Julian dimulai oleh Julius Caesar pada 46 SM.  Sedangkan Kalender Gregorian yang digunakan oleh Gereja Katolik Roma merupakan kalender Julian yang dirombak oleh Paus Gregorius XIII pada Oktober 1582.  Akibat penggunaan kalender yang berbeda, maka penanggalan antara Gereja Katolik Timur dan Barat berbeda.

 

Pekan Suci

Keranjang Paskah di depan Ikon Kebangkitan (Dok. Lembaga Penelitian Santo Dimitry)

Paskah dalam Gereja Katolik Yunani-Ukraina  (GKYU) yang menaungi komunitas Katolik Timur di Indonesia  dirayakan dalam konteks rangkaian Pekan Suci dimulai Sabtu Lazarus. Pada masa itu, Katolik Timur membaca Injil tentang Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus setelah meninggal selama empat hari.

Dalam liturgi ini secara khusus umat Katolik Timur juga mendoakan Panakhida (ibadat khusus untuk orang-orang yang telah meninggal).  Umat mendoakan mereka yang telah meninggal agar “kekallah kenangannya”, yakni mereka yang meninggal diingat senantiasa oleh Allah sehingga boleh menikmati kehidupan abadi di surga.

Rangkaian berlanjut dengan Minggu Palma. Pada tahun ini perayaan itu bertepatan dengan Minggu Paskah di Gereja Katolik Roma.  Pada Minggu Palma, umat Katolik Timur mengenangkan Yesus masuk ke Yerusalem dan disambut oleh penduduk di sana. Pada Liturgi ini juga diberkati daun palma yang dianyam membentuk salib.

Berbeda dengan Gereja Katolik Roma, pada hari itu Gereja Katolik Timur tidak ada pembacaan kisah sengsara.  Kisah sengsara baru dibacakan pada Jumat Agung dan Suci.

Pada Senin, Selasa, dan Rabu dalam pekan suci, didoakan Ibadat Mempelai.  Dalam ibadat ini, umat Katolik Timur mendalami misteri Kristus sebagai mempelai pria yang datang secara tidak terduga-duga, dalam rupa yang tak disangka.

Pada hari-hari tersebut tidak dirayakan Liturgi Ilahi (Misa, istilah yang dipakai oleh Gereja Katolik Roma).  Pada Rabu sore dirayakan Ibadat Penyembuhan.  Dalam ibadat ini, umat Katolik Timur mendoakan kesembuhan bagi pribadi masing-masing, dari segala penyakit, baik jasmani maupun rohani. Dalam ibadat ini pula diberkati minyak yang akan digunakan untuk mengurapi orang-orang sakit.

Pada akhir ibadat ini, semua orang akan diurapi dengan minyak tersebut, baik mereka sakit maupun tidak, karena dalam konsep Byzantin, dosa dipandang sebagai penyakit, sehingga semua orang perlu penyembuhan tanpa kecuali.  Minyak ini juga didistribusikan kepada umat agar dapat digunakan untuk mengurapi yang sakit.

Pada Kamis Agung dan Suci (sengaja tidak digunakan istilah Kamis Putih karena warna Liturgi yang digunakan adalah berkelir gelap, biasanya merah), umat Katolik Timur mengenangkan institusi Ekaristi.  Sama seperti Gereja Katolik Roma, Injil yang dibacakan diambil dari Injil Yohanes, yang mengisahkan tentang pembasuhan kaki.  Yang berbeda adalah imam tidak pernah melakukan ritual pembasuhan kaki.  Hanya seorang uskup yang melakukan ritual ini, dalam suatu ibadat khusus di mana uskup membasuh kaki 12 imam.

Pada Jumat Agung dan Suci, ada beberapa rangkaian ibadat yang dilaksanakan.  Pada ibadat pertama, disebut Ibadat 12 Injil, dibacakan 12 perikop tentang kisah sengsara dari keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) dalam konteks matin (Ibadat Fajar).  Setelah ibadat ini, disambung dengan Ibadat Jam Rajani, yang terdiri dari Ibadat Jam Pertama, Jam Ketiga, Jam Keenam, dan Jam Kesembilan yang digabung menjadi satu ibadat panjang.

Pada hari-hari biasa, ibadat ini hanya dilakukan di biara-biara, namun pada Jumat Agung, menjelang pesta Natal, dan menjelang pesta Epifani, umat diwajibkan menghadiri ibadat ini; bahkan pada zaman dulu, kaisar dan keluarganya diwajibkan menghadiri ibadat ini.  Dalam ibadat-ibadat ini, umat Katolik Timur diingatkan, sebagai manusia senang berdosa, dan oleh karena dosa-dosa itulah, Kristus menderita sengsara yang demikian hebat bagi manusia.

Pada malam hari, dilaksanakan Ibadat Pemakaman.  Ibadat ini bukanlah mengenangkan pemakaman Yesus, namun membawa umat ke Yerusalem 2000 tahun lalu ketika Yusuf dari Arimatea memohon kepada Pilatus supaya boleh mengambil jenazah Yesus. Umat, bersama-sama dengan Maria Bunda Yesus, Rasul Yohanes, Yusuf dari Arimatea, Nikodemus, dan para wanita yang berduka, turut memakamkan Yesus.

Dalam ibadat ini, kain kafan (plaschinitsa) diarak mengelilingi gereja, dan setelah perarakan, kain ini ditempatkan di tengah gereja agar umat dapat menghormati kain ini. Dalam kain tersebut terdapat ikon yang menuliskan (menggambarkan) tentang pemakaman Yesus.  Dalam ibadat pemakaman ini pula, dinyanyikan kidung yang dicintai semua orang tentang Yusuf dari Arimatea, yang mengambil tubuh Yesus dari salib.

Setelah ibadat tersebut, umat Katolik Timur melangsungkan Ibadat Ratapan, yang merupakan sebuah rangkaian ayat-ayat ratapan yang diselipkan ke dalam Mazmur 118, yang merupakan Mazmur paling panjang.  Nyanyian ratapan ini sendiri cukup panjang (sekitar satu jam), namun bagi sebagian orang ini menjadi puncak dari seluruh Ibadat Jumat Agung dan Suci.

 

Sabtu Agung dan Suci

Isi keranjang Paskah adalah makanan-makanan yang dipantangi selama masa puasa agung dan puasa Minggu sengsara(Dok. Lembaga Penelitian Santo Dimitry)

Pada Sabtu Agung dan Suci, dirayakan Liturgi Vigili pada pagi atau siang hari, yang mengkombinasikan Ibadat Sore dengan Liturgi Ilahi.  Saat Liturgi ini dimulai, imam mengenakan pakaian liturgis berwarna gelap, karena Gereja masih berada dalam duka karena kematian Kristus.

Liturgi ini bukan merayakan Kebangkitan Kristus namun merayakan “pengobrak-abrikan neraka”, dimana Yesus turun ke neraka dan menghancurkan neraka dan sang maut itu sendiri, serta menyelamatkan para nabi dan orang kudus yang masih menunggu di tempat penantian.

Saat pembacaan Injil, imam mengganti busana liturgis dengan kelir putih karena bacaan yang dibacakan adalah Injil tentang kebangkitan.  Mulai dari liturgi ini pula, selama pekan terang (sama seperti oktaf Paskah), dinyanyikan Kidung Baptisan sebelum bacaan Epistola. Kidung ini berbunyi “Semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Alleluia”.  Kidung ini akan terasa tidak asing bagi mereka yang mempelajari perjanjian baru karena diambil dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia (Galatia 3:27).

Pada malam hari dirayakan Ibadat Fajar Paskah.  Inilah puncak perayaan Pekan Suci dalam Gereja Katolik Timur. Perayaan ini dimulai dengan memuliakan Tritunggal Mahakudus yang satu dalam hakikat dan memberi hidup.  Setelah ini langsung dilanjutkan dengan menyanyikan troparion (antiphon) Paskah yang berbunyi “Kristus bangkit dari maut, wafat-Nya t’lah menginjak-injak maut, dan yang dalam kubur, diberi hidup.”

Troparion ini akan terus dinyanyikan berulang-ulang selama masa Paskah dalam Ibadat dan Liturgi Ilahi.  Dalam ibadat ini imam berulang-ulang menyapa umat dengan sapaan “Kristus bangkit” dan umat menjawab “Sungguh Dia telah bangkit”.  Pada akhir ibadat ini dibacakan homili Paskah yang disampaikan oleh Santo Yohanes krisostomos, Uskup Agung Konstantinopel pada abad keempat.

Setelah itu diberkati roti, telur, dan segala macam daging, produk daging, susu dan produk susu yang tidak dikonsumsi selama masa Prapaskah.  Ibadat selanjutnya berpindah ke meja makan di mana umat merayakan Paskah dengan mengkonsumsi jenis-jenis makanan yang tidak dikonsumsi selama masa Prapaskah, dan berpesta oleh karena kebangkitan Tuhan.

 

Paskah Tuhan

Pada Minggu pagi, dirayakan Liturgi Ilahi untuk memperingati Paskah Tuhan kita.  Dalam perayaan ini tidak dibacakan Injil tentang kebangkitan, namun dibacakan prolog Injil Yohanes (Yohanes 1). Prolog ini mungkin menjadi salah satu perikop Injil yang paling sulit dipahami.  Liturgi dirayakan seperti biasa, namun ada banyak kidung yang digantikan oleh troparion Paskah, seperti yang akan terjadi terus selama 40 hari berikutnya, sampai menjelang Hari Raya Kenaikan Tuhan kita.

Pekan suci yang dirayakan dalam Gereja katolik Timur sarat dengan makna dan kekayaan liturgis serta teologis.  Teksi liturgi soal perayaan tersebut bisa diunduh di www.byzantinitas.org atau bila ingin melihat video mengenai Gereja Katolik Timur dapat berkunjung ke Facebook Lembaga Penelitian Santo Dimitry.

 

Davin Pannaausten

Ketua Yayasan Rumah Byzantin Indonesia

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here