IBU PEMERSATU DI TIMUR SEMENANJUNG ARABIA

21
Sejumlah pemimpin agama berpose di depan Masjid Mariam Umm Eisa. (Emirates News Agency)
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM Putra Mahkota Abu Dhabi mengubah nama salah satu masjid. Tujuannya untuk mengeratkan hubungan kemanusiaan antarpemeluk agama.

PEPOHONAN palem raja (Roystonea Regia) menjulang di hampir setiap ruas jalan. Saking banyaknya, tumbuhan dari suku pinang-pinangan (Arecaceae) itu terpancak, masyarakat setempat mengatakan, jalan-jalan di wilayah ini berada di dalam selubung pohon palem. Saat siang hari, terutama, para pejalan kaki atau pengemudi, bakal menyaksikan, “emas hitam nan mulus itu” dibungkus bayangan pohon palem.

Rumput hijau, lembut, dan tertata apik juga meranggas di sejumlah permukaan tanah di wilayah ini. Saat senja menjemput, sekelompok anak sekolah bermain bola di hamparan “permadani” hijau itu. Ini adalah Al Mushrif, sebuah distrik yang berjarak sekitar 1,5 kilometer di sebelah tenggara pusat Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

Gulf News menyebut, Al Mushrif atau Mushrif merupakan wilayah yang ramah keluarga. Kendati daerah itu masih termasuk kota dan terus mengalami transformasi, Al Mushrif tak kehilangan pesonanya, yakni ketenangan dan kenyamanan. Suasana seperti itulah yang melatari Jiss Paul, warga negara India, untuk tinggal di sana bersama keluarga sejak sembilan tahun lalu. “Sejak pindah ke sini, hidup kami terasa sangat nyaman. Di sini (juga) amat tenang dan aman untuk membesarkan anak kami,” ujarnya kepada Gulf News, Jumat, (13/5/2011).   

Bagian depan Masjid Mariam Umm Eisa (www.gulfnews.com)
Salah satu wilayah pemukiman di Distrik Mushrif, Abu Dhabi, UEA. (www.mushrifvillage.ithradubai.com)
Patricia Endang Sri Agustini di samping Masjid Mariam Umm Eisa. (Dok. Pribadi)
Paus Fransiskus dan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohammad Bin Zayed Al Nahyan di UEA. (Vatican News)

Hidup Berdampingan

Salah satu agen properti yang berbasis di Dubai, Bayut, dalam situs resminya menu-lis, selain sebagai kawasan pemukiman, Mushrif juga terkenal sebagai “rumah” bagi banyak gereja. Di Mushrif paling kurang terdapat empat rumah ibadah untuk umat Kristiani (Katolik maupun beberapa denominasi Gereja-Gereja Reformasi), yakni Katedral St. Yosef, Gereja Ortodoks St. Gregorius, Gereja Anglikan St. Andreas, dan Gereja Apostolik Tamil. Masing-masing gereja itu hanya berjarak sepelemparan batu. Kawasan ini bertambah ramai mulai malam Jumat hingga Minggu, serta Natal dan Paskah.

Beberapa langkah dari gereja-gereja itu terdapat masjid terbesar di Kota Mashrif. Rumah ibadah ini memiliki empat menara dan tiga kubah, sementara dinding-dindingnya terukir aneka sulur.

Masjid yang dibangun pada 1989 itu semula bernama Mohammad Bin Zayed. Penyebutan itu diambil dari nama Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohammad Bin Zayed Al Nahyan. Ia adalah putra Sheikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan, yang disebut sebagai Bapak Bangsa dan Presiden pertama UEA.

Pada Rabu, 14 Juni 2017, bertepatan dengan hari ke-19 Ramadhan, nama masjid tersebut berubah menjadi Mariam Umm Eisa. Umat Islam menyebutnya Maria Bunda Isa. Sementara dalam ajaran Kristiani, Maria adalah Ibu Yesus. Perubahan nama tersebut dilakukan atas permintaan sang pangeran, yang sekaligus Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA.

Seperti dikutip dari Gulf News, Jumat (16/6/2017), ada tujuan mulia di balik pergantian nama tersebut, yakni untuk mengeratkan hubungan kemanusiaan antarpemeluk agama. “Inisiatif tersebut memberi teladan yang mencerahkan, sekaligus mencerminkan keindahan tole-ransi, di mana antarumat beragama hidup saling berdampingan di Uni Emirat Arab,” kata Menteri Toleransi UEA pada masa itu, Sheikha Lubna bint Khalid Al Qasimi.

Mohammad Mattar Al Kaabi, Kepala Badan Urusan Islam dan Wakaf juga menyambut baik inisiatif itu. Ia mengatakan, sejak era kekuasaan Emir Zayed Bin Sultan Al Nahyan, toleransi terus terjaga. Para pemeluk keyakinan yang berbeda-beda pun hidup rukun dan damai. “Ini didasarkan pada keadilan dan persaudaraan di antara semua orang yang tinggal di Uni Emirat Arab,” kata Al Kaabi.

Keluarga Kudus

Vikaris Apostolik Arabia Selatan (meliputi UEA, Oman, dan Yaman), Mgr. Paul Hinder, OFMCap mengaku gembira dengan nama baru masjid tersebut. “Sebab, St. Yosef, pasangannya (Maria), menjadi nama pelindung katedral. Kini, kami telah memiliki pojok keluarga kudus,” ujar uskup kelahiran Lanterswil-Stehrenberg, Swiss, seperti dilansir Aleteia, Jumat, (16/6/2017).

Masjid Mariam Umm Eisa bertetangga dengan sejumlah gereja, salah satunya Gereja Katedral St. Yosef. Jarak antara katedral dengan masjid tersebut hanya sekitar 52 meter. Atau, hanya berkisar satu menit dengan berjalan kaki.

Bunda Maria, menurut Mgr. Hinder, merupakan salah satu figur yang menonjol dalam Kitab Suci dan Al-Quran. Kehadiran dan peran Bunda Maria dalam buku terpenting agama Samawi itu menjadi ikatan atau hubungan penting antara umat Kristiani dengan Muslim. Karena itu, sang uskup mengapresiasi keputusan Mohammad Bin Zayed tersebut. Baginya, putra mahkota telah memberi kontribusi pada perdamaian dan saling pengertian antarumat beragama, tak hanya di UAE tapi juga untuk negara-negara lain. 

Usaha Putra Mahkota Abu Dhabi dalam mempererat hubungan antara umat beragama, serta menjaga toleransi ini pun juga menuai pujian dari Pemimpin Gereja Anglikan St. Andreas, Pastor Andrew Thompson. “Kami senang dapat merayakan hal yang serupa di antara perbedaan keyakinan kami. Maria, sebagai Ibunda Yesus, adalah tokoh spesial dalam komunitas kami. Dia adalah wanita yang menggambarkan kepatuhan terhadap Tuhan.”

Pastor Thompson berharap, kesepa-haman antarumat beragama di UEA, khususnya Muslim dan Kristen kian meningkat. Seorang warga negara Indo-nesia dan umat Gereja Anglikan di sana, Darwanto Simatupang, mengaku, meski letak gerejanya dan masjid itu persis bersebelahan dan memiliki waktu ibadah yang sama setiap Jumat, namun semua berjalan aman. “Kami saling pengertian dan bertegur sapa bila berpapasan. UAE telah melakukan walk the talk, lead by example soal kerukunan. Tuhan memberkati seluruh penduduk UAE,” ujar Simatupang lewat akun Instagram-nya, @darwantosimatupang.

Kesan serupa juga diakui oleh Patricia Endang Sri Agustini. Diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk UEA ini merasakan, bahwa negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam ini amat toleran dan menjunjung tinggi keberagaman. “Sejauh ini, saya merasa aman tinggal di Abu Dhabi, sebagai warga asing perempuan dan non Muslim,” ungkap Endang, dalam pesan WhatsApp, Kamis, (23/4/2020).

Istri Hariyadi Wirawan ini bersyukur mendapat kesempatan untuk tinggal dan berkarya di salah satu negara di Timur Tengah yang maju dan sangat toleran. Penempatannya di Abu Dhabi merupakan penugasannya yang kelima, sepanjang kariernya sebagai Aparatur Sipil Negara di Kementerian Luar Negeri, sebelum dirinya pensiun nanti.

Ia memiliki sebuah pengalaman ber-kesan sejak menetap di Abu Dhabi pada akhir Januari 2020 lalu. Suatu ketika, ia bertemu dengan Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri UEA, Anwar bin Mohammed Gargash. Saat itu, kebetulan dirinya mendampingi Duta Besar RI untuk UAE, Husin Bagis.

Dalam perjumpaan itu, Anwar me-ngatakan, Islam merupakan agama universal. Karenanya, kita tak bisa memaksakan satu model untuk agama Islam. Islam, lanjut Anwar, tak hanya ada di negara-negara Arab, namun juga dianut oleh sebagian orang Eropa, Amerika, dan Asia. Mereka memiliki sejarah budaya tersendiri. “Orang harus memahami betul ajaran inti Islam melalui Qur’an dan bukan dari penafsiran-penafsiran sekelompok orang atau malah politikus yang me-manfaatkan agama Islam secara tidak benar,” pesan Anwar, seperti diceritakan kembali oleh Endang.

Promosi Toleransi

UEA baru berusia 48 tahun. Angin perubahan berembus di negara yang berada di pantai timur Semenanjung Arabia ini. Andreas Gerry Tuwo, dalam laporannya “Masjid ‘Maria, Bunda Isa’ Simbol Toleransi di Uni Emirat Arab”, yang dimuat di Liputan6.com, menulis, negara federasi yang terdiri atas tujuh emirat (Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, dan Umm al-Qaiwain) kian gencar mempromosikan keberagaman dan toleransi. Mereka yang menentang kebijakan itu, menghadapi risiko penangkapan bahkan penahanan.

Sejak Februari 2016, Pemerintah UEA membentuk Kementerian Toleransi. Sheikha Lubna bint Khalid Al Qasimi menjadi menteri perdananya. “Pada 2016 kami membuka Kementerian Toleransi di samping Kementerian Kebahagiaan yang sudah ada terlebih dulu. Tujuannya adalah mempromosikan toleransi sebagai nilai dasar hidup bermasyarakat di Uni Emirat Arab,” jelas Pemimpin Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum seperti dikutip dari Newsweek.

Program Toleransi Nasional yang digalakkan didasarkan atas tujuh pilar: Islam, konstitusi, warisan Zayed dan etika Uni Emirat Arab, konvensi internasional, arkeologi dan sejarah, kemanusiaan, dan nilai-nilai bersama. Selain Muslim, umat beragama lain juga berpartisipasi dalam mempromosikan toleransi. Misalnya, pada awal Juni 2017, sebuah gereja di Al Ain membuka pintu untuk umat Islam yang tak punya tempat untuk salat Magrib.

Para pengelola gereja menggelar karpet di lantai kayu agar lebih dari 200 Muslim dari Asia bisa melaksanakan ibadah salat. Setelah mendengar kabar tersebut, beberapa pejabat senior Emirat mendatangi gereja itu, untuk menyampaikan penghargaan. “Ini adalah kali pertama, setidaknya di UEA, sebuah gereja membuka pintunya untuk menjadi tempat salat umat Muslim,” kata Bobin Skariya, pekerja di Katedral Simhasana Ortodoks St. George Jacobite Suriah.

Setahun lalu, persisnya Februari 2019, Paus Fransiskus berkunjung ke UAE. Kehadirannya di negara itu tak hanya amat bersejarah, tapi juga penuh makna simbolis bagi dialog antariman, perda-maian, dan terlebih kemanusiaan. Paus Fransiskus merupakan penerus Takhta St. Petrus pertama yang datang ke wilayah Semenanjung Arab.

Di Abu Dhabi, secara khusus di sebuah masjid terbesar dan ikon negara itu, Masjid Agung Sheikh Zayen, pemimpin umat Katolik sejagat dan Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb, bertemu dan menandatangani Dokumen Pesaudaraan Umat Manusia atau dikenal juga dengan Dokumen Abu Dhabi.

Dokumen tersebut mengingatkan akan panggilan semua umat manusia untuk menjalin persaudaraan dan perdamaian sebagai sesama anak-anak Allah. Umat beragama sudah seharusnya menolak kekerasan, apalagi kekerasan yang meng-atasnamakan Allah atau pun agama.

Mencintai, Mempersatukan

Paus Fransiskus juga memiliki devosi mendalam kepada Bunda Maria. Saat memimpin Perayaan Ekaristi di Basilika St. Maria Maggiore, Roma, Italia, akhir Januari 2018, Paus menyebut Maria sebagai ibu bagi setiap anak, “tempat” bernaung, dan penghiburan setiap orang dalam segala situasi.

Setahun kemudian, ketika perayaan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa, Paus, dalam doanya, menyebut Maria bukan hanya sebagai seorang ibu yang tak pernah berhenti untuk mencintai anak-anaknya, tapi juga penuh rahmat yang memantulkan sinar cahaya Kristus, yang bangkit dari dalam kegelapan yang paling dalam. Dengan berkat itu, kata Paus, manusia tidak lagi menjadi budak dosa, tetapi bebas untuk saling mencintai, membantu sebagai saudara, meskipun berbeda satu dengan yang lain.

Maria Bunda Yesus atau Mariam Ibu Isa telah hadir di Mushrif, Abu Dhabi. Semoga kehadirannya di sana semakin mempersatukan seluruh anak-anaknya, terlebih antara umat Islam dan Kristiani.

Yanuari Marwanto

HIDUP NO.18, 03 Mei 2020

3 Mei 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here