Beata Katarina Lucia de Mattei Broccadelli (1487-1547) : Karunia Kekudusan Perawan Desa

159
Beata Katarina Lucia de Mattei Broccadelli (1487-1547) : Karunia Kekudusan Perawan Desa
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Kemiskinan tak menyurutkan semangatnya. Ia percaya bahwa jika dekat dengan Tuhan, segala sesuatu bisa terjadi.

Masa kecil Katarina Lucia de Mattei Broccadelli (Lucia dari Narni) sangat memprihatinkan. Rumahnya hanya berupa gubuk tua, berlantai tanah, beratap jerami. Rumah itu sangat tidak layak ketika memasuki musim dingin. Sebagian dinding yang berlubang membuat hawa dingin begitu cepat menusuk masuk ke dalam rumah itu.

Rumah yang berada di wilayah Piedmont, bukan satu-satunya rumah yang memprihatinkan. Akibat perang yang berkepanjangan, daerah di Barat Laut Italia ini menjadi desa mati. Masyarakat terpapar kemiskinan. Kelaparan dan kejahatan sosial merajalela di Piedmont.

Buruknya lingkungan tempat tinggal juga dibarengi dengan buruknya kondisi keluarga Katarina. Sang ayah, sebelum pecah Perang Dunia I merupakan tukang kunci yang cukup sukses. Sayang, perang
ini membuatnya menjadi pengangguran hingga depresi. Demi bertahan hidup, sang ibu menyokong perekonomian keluarga dengan memintal pakaian kasar seadanya.

Katarina dan saudara lelakinya hidup dalam kepahitan karena percekcokan orangtua ditambah suara mesin pemintal tua yang ribut. Kedua orangtua tak bisa menerima kenyataan atas kemiskinan yang mereka alami. Akibatnya, Katarina dan sang adik menjadi korban pelampiasan kemarahan orangtua.

Sang ayah, Broccadelli, setiap kali kembali dari luar selalu dalam keadaan mabuk. Selain sang ibu yang mendapat siksaan fisik, Katarina dan adiknya juga
tak luput dari kekejaman ayah.

Siksaan fisik dari sang ayah mulai dialaminya sejak usia empat tahun. Kondisi ini nampaknya tidak ideal bagi perkembangan kekudusan. Di saat jiwa
terarah kepada Tuhan, hati menjerit karena kekejian sang ayah. Entah bagaimana, gadis kelahiran Piedmont, 1487 ini menerima semua siksaan itu. Baginya ini adalah jalan mengalami
penderitaan Kristus di salib.

Di umur lima tahun, Katarina sudah mulai menerima pengalaman-pengalaman mistik yang berlanjut seumur hidupnya.

Bertemu Bunda Maria
Dalam otobiografi yang ditulis Pater Jarige, OP tahun 1999, disebutkan bahwa Katarina bukan seorang gadis yang memiliki karakter doa yang
kuat. Satu hal yang menjadi kekuatannya adalah memiliki jiwa seperti Bunda Maria. Ada kerendahan hati dalam pribadinya untuk menerima
semua pengalaman duka sebagai bagian dari pengalaman penderitaan Kristus. “Seperti Maria,
Katarina mengikuti jalan salib Kristus lewat duka dan ketulusan hatinya,” tulis Pater Jarige.

Inilah alasan sejak usia lima tahun, Bunda Maria menampakan diri kepadanya. Dalam sebuah penglihatan Katarina, Bunda Maria memintanya untuk tidak menikah. Bunda Maria berpesan bahwa Katarina akan ‘dijodohkan’ dengan Yesus. Pesan ini lalu ditanggapi serius oleh Katarina dengan mengikat janji untuk menjaga keperawanannya. Di hadapan patung Santo Hieronimus, Santo Petrus dari Verona, dan Santa Katarina dari Siena, gadis kecil ini mengucapkan
janjinya. Ketiga orang kudus ini kemudian diperkenalkan Bunda Maria sebagai pelindung bagi Katarina.

Sejak penglihatan pertama itu, Katarina mulai dikarunia sejumlah ekstase dan penampakan. Suatu waktu, Katarina tak sengaja memecahkan cangkir kesayanangan ibunya. Ia menangis karena takut akan dimarahi sang ibu. Tiba-tiba Kanak-Kanak Yesus muncul dan memungut serpihan cangkir itu lalu mengembalikannya pada keadaan
semula.

Di lain waktu, Kanak-Kanak Yesus muncul lagi dengan memanggul salib. Katarina yang melihat peristiwa itu, merasa iba dan menawarkan diri
membantu-Nya. Salib begitu berat dan kasar hingga menimbulkan luka di bahunya. Sampai akhir hayatnya, luka di bahu Katarina tak pernah sembuh. Setiap kali masa Pra Paskah dan Jumat Agung, luka itu terus mengeluarkan darah.
Pengalaman lain adalah Yesus secara ajaib
memberikan uang dan menggandakan makanan ketika keluarga Katarina tidak memiliki uang.

Bertemu Roh Kudus
Tidak hanya Kanak-Kanak Yesus yang menampakan diri kepadanya. Banyak orang kudus juga hadir dan menyapanya. Saat menginjak usia 14 tahun, Katarina berdoa subuh-subuh pada hari Santo Stefanus, martir pertama. Intensinya agar membantu Katarina dalam usaha menjaga keperawanan. Santo Stefanus lalu menampakan diri kepadanya dan mendorong Katarina agar terus berani menjaga kesucian karena doa-doanya sudah didengarkan Tuhan.

Di usia yang sama, Katarina memohon kekuatan kepada Roh Kudus untuk mendampinginya. Sebelum berakhir doa-doa itu, Roh Kudus turun ke atasnya dan terlibat tiga cahaya turun ke atas Katarina dibarengi sebuah suara yang berkata, “Aku datang untuk tinggal dalam engkau. Aku akan menyucikanmu, menerangimu, mengorbankanmu, dan menggerakan jiwamu.”

Disebutkan dalam otobiografinya, Roh Kudus turun ke atasnya dalam berbagai rupa. Kadang-kadang dalam bentuk burung merpati, sekali berbentuk awan terang, dan sekali lagi berupa lidah-lidah api. Pengalaman ini persis seperti apa yang dialami oleh Yesus.

Tidak berhenti sampai di situ. Pada suatu malam Natal ketika Katarina sedang hening mengontemplasikan kelahiran Juru Selamat, malaikat pelindung memindahkan Katarina ke Betlehem. Di situ, ia mampu memandang bahkan
menggendong Kanak-Kanak Yesus dari tangan Bunda Maria. Dalam penglihatan itu juga, bayi Yesus memasukan tangan-Nya ke dalam jantung Katarina dan menarik ke luar jantung itu dan membersihkan dan menyucikan dengan tanggan-Nya sendiri. Setelah disucikan, Yesus memasukan lagi jantung itu dalam tubuh Katarina dan nampak sebuah tulisan emas tertera di jantung itu, Jesu,
spes mea, “Yesus Pengharapanku”.

Tempat Terakhir
Dengan mata iman ini, Katarina terpanggil menjadi seperti idolanya Santa Katarina dari Siena untuk menjadi anggota Ordo Ketiga Dominikan. Lewat banyak pertentangan dari keluarga, ia akhirnya bisa memakai jubah ordo yang ia dambakan. Lambat laun, ia menjadi terkenal karena kepribadian dan kesuciannya.

Setiap kali ia hadir, selalu memberi suasana baru disertai banyak pengalaman-pengalam mistik. Inilah alasan banyak orang merasa takut kepadanya. Kolega satu komunitasnya bahkan menyebarkan gosip miring tentangnya. Hal ini
sehubungan dengan suara misterius yang terdengar dari kamarnya. Banyak orang mempertanyakan otentisitas karunia supranatural yang dimiliki Katarina. Ketika jawaban Katarina tidak mengenakan mereka, ia dilecehkan dan dianggap sebagai penipu dan tukang cari perhatian.

Begitu tajam cibiran dan fitnah itu hingga sampai ke telingah superior ordo. Orang yang dianggap bijaksana justru memperlakukannya secara keji. Katarina dianggap jijik dan keputusan ordo mengusirnya dari kampung halamannya. Katarina terpaksa pindah dari Piedmont ke Racconigi, tempat terakhir hingga ajal menjemputnya.

Di tempat baru ini, Katarina makin mengalami kesucian. Meski ragam cibiran jahat kepadanya, Katarina tetap percaya bahwa dengan mata iman semua hal bisa terjadi. Ia yakin Kristus telah mengarunia kepadanya kemampuan unik dalam menyelamatkan para pendosa. Seringkali dalam doanya ia dipindahkan secara ajaib ke rumah-rumah para pendosa dan memperingatkan mereka
akan bahaya rohani yang mengancam. Doa dan laku silih Katarina mampu melepaskan jiwa-jiwa yang terkurung dari Api Penyucian.

Karya kerasulan Katarina begitu mengagumkan. Ia mendapat tempat istimewa di hati Kristus. Hal ini tentu mendatangkan kedengkian di hati sang penggoda, iblis. Seakan Allah mengizinkan iblis untuk menyerang dan menyiksa fisik Katarina. Meski iman tak tergoyahkan, fisik manusiawi tetap lemah.Ia senantiasa bertekun dalam doa, matiraga, dan karya amal hingga Tuhan mengizinkannya bersatu dalam kekekalan abadi pada 4 September 1547 dalam usia 62 tahun. Ia meningal karena
kesehatannya yang parah.

Mereka yang menganiaya Katarina semasa hidupnya menjadi sadar akan kemurniannya setelah ia meninggal. Di muka publik, mereka mencabut semua fitnah itu dan menyatakan diri
menjadi pendoa bagi orang-orang di Api Penyucian. Katarina di beatifikasi oleh Paus Pius VII tahun 1820.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.01 2020, 5 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here