Pater Paul de Blot, SJ : Mantan Pasukan Sekutu

175
Pater Paul de Blot, SJ : Mantan Pasukan Sekutu
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Serikat Jesus (SJ) di Belanda dan Indonesia, Senin, 16/12/2019, termasuk keluarga besar Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Bandung: meninggalnya Pater Paul Chauvigny de Blot, SJ. Pater Paul, sapaannya, adalah pendiri sekaligus ketua PMKRI Bandung pertama: 14-12-1947 sampai 14-12-1948. Para alumni PMKRI yang mengenal sosoknya mengatakan, dia bukan hanya imam melainkan aktivis tulen, cendekiawan, guru, dan teladan.

Pater de Blot lahir di Kutowinangun 15 Mei 1924.
Sempat bergabung dengan Pasukan Sekutu selama Perang Dunia II dan dipenjara selama 5 tahun. Tahun 1948 ia bergabung dengan SJ. Ia menyelesaikan studinya di Indonesia meliputi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, budaya Timur, filsafat, politik, kimia. Ia melanjutkan studi teologi, psikologi, fi lsafat sains dan budaya, spiritualitas
dan administrasi bisnis di Belanda.

Sebelum beranjak dari Indonesia, ia pernah bekerja
sebagai ahli kimia di sebuah industri gula, pengawas industri tekstil dan keramik. Di dunia akademisi ia menghabiskan waktunya untuk mengajar sekolah dasar dan menengah di Yogyakarta, mengajar filsafat dan teologi di Universitas Negeri Yogyakarta, kemudian politik, teknologi ekologi dan etika kedokteran di Akademi Angkatan Laut.

Tahun 1947 Paul menempuh pendidikan di Technisch Hogeschool alias Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil jurusan Teknologi Kimia. Waktu itu ada 15 mahasiswa anggota Bandung Student Corps atau BSC yang Katolik. Mereka membentuk organisasi kemahasiswaan atas dasar prinsip Kristiani. Paul mengagas kelompok studi Thomas Aquinas sebagai kegiatan pelengkap dari BSC.

Pada 19 Oktober 1948 Paul mengikuti novisiat SJ
di Muntilan. Kemudian belajar filsafat, teologi dan
fisika sampai selesai, hingga melanjutkan studinya
di Jerman dan Belanda. Ia sempat menjalani praktik pastoralnya di Lebanon dan Israel. Sebelum kembali ke Indonesia dan mengajar kembali di Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Gajah Mada. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 30 Juli 1960 dan menyelesaikan pendidikan Jesuitnya tahun 1962. Di tahun yang sama, ia diangkat menjadi pastor mahasiswa di Yogyakarta dan dosen di UGM merangkap pastor militer ALRI. Pasca tragedi G/30/S 1965, ia mengabdi di bidang HAM untuk membela para korban politik yakni para tapol Pulau Buru.

Tahun 1978, ia berangkat ke Belanda untuk belajar
psikologi dan kerohanian sekaligus mengambil Ph.D bidang business management di Universiteit
van Nijmegen. Dia memulai kariernya di Universitas Bisnis Nyenrode tahun 1979. Tahun 2004, ia meraih gelar Doktor di Universitas Bisnis Nyenrode dalam bidang administrasi bisnis. Tahun 2006, dikukuhkan menjadi profesor inovasi organisasi dengan spesialisasi business spirituality. Tahun 2009, ia menerbitkan buku
‘’Manajemen Krisis Ignatius van Loyola.’’ Ia sangat
produktif dengan spesialisasinya sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Business Spirituality Nyenrode dan secara berkala mengisi laman spitualitas di weblognya www.pauldeblot.nl Pada 1 Juli 2010 ia dikukuhkan sebagai profesor kehormatan. Ia juga aktif dalam pelayanan pastoral untuk orang sakit, pelajar dan orang Indonesia yakni mendampingi Keluarga Katolik Indonesia  yang tinggal di Belanda. Selamat jalan, Pater!

Marz Wera Mofferz, almuni PMRKI Bandung

HIDUP NO.01 2020, 5 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here