Beata Benigna Cardoso da Silva (1928-1941) : Remaja Oiti, Martir Kemurnian

178
Beata Benigna Cardoso da Silva (1928-1941) : Remaja Oiti, Martir Kemurnian
2 (40%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Usianya masih teramat muda, 13 tahun. Meskipun masih belia, ia menjadi teladan rohani bagi para remaja. Ia rela mengorbankan nyawanya demi kemurnian diri.

Senja baru merayap. Mentari belum tenggelam sempurna. Seperti biasa, Benigna pergi mengambil air di perigi dekat rumah. Raul Alves yang sedang naksir Benigna Cardoso da Silva, mengendap-endap di semak belukar. Ia mengawasi setiap gerak Benigna.

Saat jalanan mulai sepi, Raul menyergap Benigna. Raul mendekati Benigna penuh nafsu. Benigna paham yang hendak dilakukan Raul. Ia meronta;
menolak. “Tidak!” teriaknya. Benigna menolak disentuh Raul. Teriakan itu justru membuat Raul kalap. Ia menarik parang, lalu mengibaskan ke arah Benigna hingga jari-jari gadis itu pun terluka.

Benigna terus meronta sekuat tenaga demi mempertahankan kemurniannya. Raul semakin gelap mata. Ia mengibaskan parang beberapa kali ke arah Benigna. Dahi, punggung, dan lehernya terluka parah. Tubuhnya tersungkur di tanah bersimbah darah. Benigna tiada seketika.

Raul ketakutan. Ia lari tunggang langgang. Tapi, polisi segera menemukan tempat persembunyiannya. Ia pun langsung dijebloskan ke dalam bui. Raul menyesali seluruh perbuatannya yang berakibat hilangnya nyawa Benigna.

Keesokan pagi, jenazah gadis berusia 13 tahun itu dimakamkan di Pemakaman Umum São Miguel di Santana do Cariri, Brasil. Pastor paroki sekaligus
pendamping rohani Benigna, Pastor Cristiano Coelho Rodrigues menuliskan, “Dia mati syahid pada pukul 16:00, 24 Oktober 1941, di Oiti. Dia pahlawan kesucian. Semoga jiwanya yang suci
mengubah paroki dan melindungi anak-anak dan keluarga paroki ini. Inilah doa yang saya buat untuk ‘santa’ kita ini.”

Situs pemakamam itu pun tak pernah sepi pengunjung. Doa-doa mengalir melalui perantaraan Benigna. Kemartirannya senantiasa dikenang hingga sekarang. Proses penggelaran kudus Benigna baru dimulai 2011. Hingga Rabu, 2 Oktober 2019, Paus Fransiskus mengesahkan dekrit kemartiran Benigna. Upacara beatifikasi tinggal menanti jadwal.

Pribadi Memikat
Benigna lahir 15 Oktober 1928 di Oiti, Santana do Cariri (Ceará), Brasil. Ia putri pasangan José Cardoso da Silva dan Thereza Maria da Silva. Ayah dan ibundanya wafat saat ia masih kanak-kanak. Benigna diasuh oleh saudara ayahnya.

Masa kanak-kanaknya diliputi kegembiraan. Ia menari diiringi lagu riang, bermain boneka, atau jalan-jalan di kebun bersama saudara angkatnya, Tetê dan Irani.

Tubuh Benigna ramping, matanya cokelat, rambut yang bergelombang menghiasi wajah bundarnya. Ia kerap mengenakan gaun berlengan pendek.
Benigna amat suka mengenakan baju terusan berkelir merah dengan motif bulat-bulat berwarna putih. Pakaian itulah yang menjadi “saksi” kemartiran Benigna.

Selain ceria, Benigna juga memiliki sikap ringan tangan. Tanpa diminta, ia akan senantiasa membantu orang-orang di sekitarnya. Itulah yang membuat saudara dan rekan-rekannya terpikat dengan pribadi Benigna.

Satu hal yang juga menonjol dari pribadi Benigna ialah kehidupan doa. Ia tak pernah melewatkan perayaan Ekaristi harian. Saban Jumat Pertama dalam bulan, ia pasti berada di bilik pengakuan doa untuk menerima Sakramen Tobat. Ia bisa berjam-jam bersimpuh sembari mendaraskan doa.

Benigna juga pribadi yang mencintai alam. Ketika berjalan menuju ke sekolah, ia selalu mencegah teman-temannya yang hendak mencabut tanaman, memetik bunga, atau mematahkan ranting-ranting
pepohonan. Ia juga tak segan melarang teman-temannya yang menyiksa hewan piaraan.

Menjelang usia 12 tahun, Benigna telah lancar membaca dan menulis. Ia juga mulai digoda oleh teman-teman pria, salah satunya Raul Alves. Bahkan, Raul pernah mengajaknya berkencan. Namun Benigna menolak.

Karena kerap digoda Raul, Benigna menemui Pastor Cristiano Coêlho untuk berkonsultasi. Sang imam memberi sebuah Alkitab bergambar. Benigna amat suka. Ia menyimpan Alkitab itu di meja di samping tempat tidurnya. Ia merawat Alkitab itu dengan hati-hati dan penuh cinta. Benigna amat menyukai gambar-gambar dalam Alkitab itu. Dari kisah-kisah Alkitab itu, Benigna memiliki kekuatan rohani untuk menolak setiap
godaan Raul.

“Mukjizat” Benigna
Tapi tragedi itu tak bisa dielakkan. Kisah kemartiran Benigna tak lekang zaman. Ia terus dikisahkan hingga kini. Benigna menjadi teladan rohani bagi para remaja di Brasil.

Hampir setiap tahun, kisah kemartiran Benigna dikenang. Menjelang tanggal 24 Oktober, situs Oiti, tempat Benigna wafat, selalu ramai dikunjungi peziarah. Dan tepat pada 24 Oktober digelar perarakan dari Cagar Alam Benigna menuju Gereja
Senhora Santana, dan ditutup dengan perayaan Ekaristi konselebrasi puluhan imam. Lebih dari 20 ribu umat selalu mengikuti peziarahan ini.

Seperti Benigna yang hendak mengambil air di perigi, para peziarah biasanya juga mengunjungi sumur air itu untuk mengambil airnya. Mereka akan membasahi tubuh atau minum dari sumber air itu. Bahkan, ada pula yang membawa pulang air tersebut.

Banyak orang percaya bahwa air itu memiliki “daya penyembuhan”. Seperti kesaksian peziarah bernama Maria de Lourdes de Cosmo, 63 tahun. Ia membawa pulang air dua liter. “Ini untuk anak saya yang kecanduan alkohol. Saya mohon melalui perantaraan Benigna agar Allah menghentikan kecanduan anak saya. Saya percaya, Benigna akan membantu saya,” ujarnya.

Beda lagi dengan kisah Ana Francisca dos Santos. November 1983, ia hamil dengan risiko tinggi. Ia berdoa melalui perantaraan Benigna. Dan ketika hari persalinan tiba, Ana dan jabang bayinya selamat. Ia memberi nama putri cantiknya, Cristiane Benigna.

Neide Santos Alves juga punya kisah. Ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya patah. Ia pun tak bisa bekerja seperti biasa. Ibundanya berinisiatif datang setiap hari ke situs Oiti dan berdoa melalui perantaraan Benigna.
Tak diduga, proses pemulihan Neide Santos lebih cepat dan ia bisa kembali bekerja.

Lain lagi dengan Antoniete Vasconcelos da Silva yang berdoa demi kesembuhan ibundanya. Ibundanya telah bertahun-tahun menderita infeksi kulit yang akut. Beragam obat telah dicoba, namun selalu tak memuaskan. Derita infeksi itu terus berlangsung. Akhirnya, Antoniete berdoa melalui perantaraan Benigna. Berangsur-angsur, rasa sakit akibat infeksi itu mulai berkurang. Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih, Antoniete mengunjungi situs Oiti.

Meskipun “mukjizat-mukjizat” itu tak pernah diteliti dan diperiksa secara mendalam oleh Gereja, namun kehadirannya membuktikan Allah yang berkarya melalui perantaraan Benigna. Ada aneka “mukjizat” yang mengalir berkat doa melalui perantaraan Benigna. Bagi warga di sekitar Oiti, Benigna telah menjadi “santa”, orang kudus yang kisah kemartirannya senantiasa dikenang dan diperingati. Ia telah menjadi teladan bagi para remaja putri; seorang martir yang rela mengorbankan nyawa demi kemurnian diri.

Y. Prayogo

HIDUP NO.02 2020, 12 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here