CAVIDO CHOIR: MENGERATKAN KEKELUARGAAN

9
Cavido saat bertugas di Paroki Blok B, Jakarta Selatan. (Dok. Cavido)
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM Bukan hanya suara yang sempurna yang dibutuhkan sebuah paduan suara, tetapi sebuah relasi layaknya sebuah keluarga.

BEBERAPA tahun sebelumnya, Misa paling pagi di Paroki St. Yohanes Penginjil Blok B, Jakarta Selatan terasa sunyi. Ini karena tidak adanya iringan musik dan lagu. Di antara umat yang rutin mengikuti Misa setiap pukul enam pagi itu, ada dua orang sahabat yang merasa terpanggil untuk semakin memeriahkan Misa itu.

Keduanya pun terpanggil membentuk kelompok paduan suara yang selalu siap bertugas dalam setiap Misa pagi di Paroki Blok B. Rencana ini pun terwujud. Tak berselang lama, terbentuklah Paduan Suara Dasa Pria. Sejak itu, Dasa Pria mengisi kekosongan paduan suara pada setiap Misa pagi.

Awalnya, mereka terdiri dari 10 orang siswa SMA Pangudi Luhur, Jakarta Selatan. Seiring berjalannya waktu, anggota Dasa Pria semakin beragam. Tidak hanya anak sekolah, tetapi juga mahasiswa dan beberapa pekerja. Atas bebagai usulan, nama Dasa Pria dirubah menjadi Cavido Choir pada 21 April 1978. Nama ini adalah akronim dari “Cantent in Viis Domini” yang berarti ‘bernyanyi sambil menempuh jalan Tuhan’.

Serius tapi Santai

Sebelum berganti nama menjadi Cavido, paduan suara ini mulai memasukkan beberapa anggota perempuan. Mereka mengajak para siswi SMA Tarakanita. Dua dari beberapa siswi yang bergabung pada saat itu adalah Maria Savitri dan Dambong Wardhani. Tak hanya itu, mereka juga menghubungi Susteran Carolus Borromeus (CB) dan meminta (Alm.) Suster Franceline menjadi pelatih.

Awalnya memang Cavido melayani secara rutin Perayaan Ekaristi setiap Minggu pukul 06.00 WIB dan dilanjutkan dengan latihan di siang hari. Sekitar 20 tahun setelahnya, jam tugas Cavido ber-geser ke pukul 07.30 WIB. Begitu pula dengan dengan waktu latihannya. “Seiring dengan berkembangnya paduan suara di paroki, untuk jam bertugas juga bervariasi. Hal ini juga, karena melihat anggota yang semakin beragam, untuk mengatur waktu berlatih menjadi lebih sulit,” jelas Vitri.   

Saat ini Cavido latihan setiap Jumat malam. Bagi Vitri dan Dambong, bukanlah waktu yang sebentar, yang telah mereka jalani dalam pelayanan mereka di dalam Cavido. Betah, ungkap mereka. Walaupun mereka pun pernah mengalami situasi sulit.

“Anggota yang naik turun itu kami rasakan. Dulu pernah saat tugas, sopran tinggal empat, alto dua, tenor satu, bass satu. Wah itu sering. Kemudian sempet ditinggal organis juga. Tapi prinsipnya kami pelayanan jadi kami tetap bertahan,” tambah Vitri.

Cavido tidak berpikiran untuk selesai begitu saja, justru mencari cara bagaimana mendapatkan anggota baru. Kendati demikian, Vitri dan Dambong merasakan bahwa paduan suara ini berbeda. Karena bergabung sejak duduk di bangku SMA, bagi Dambong, Cavido seperti rumah. “Bayangkan saja kalau punya teman dari SMA, kepengennya kumpul terus,” ungkapnya.

Selama latihan pun, Dambong merasa enjoy. Di Cavido, tambahnya, anggota tidak terpatok harus suara bagus. Jika diminta untuk menjadi paduan suara untuk Misa pernikahan pun, Cavido tidak meminta bayaran. Hal ini disetujui oleh Vitri. Anggota Cavido bukan selayaknya penyanyi profesional, namun yang penting bernyanyi yang baik. “Memang jika ada keperluan pelayanan seperti di luar Ekaristi, suara kami akan diolah. Tapi tidak setiap minggu,” ujar Dambong. 

Salah satu anggota Cavido dalam bakti sosial “Sembako Kasih Cavido Choir” pada 25 April 2020. (Dok. Cavido)
Perayaan Lima Windu Cavido Choir, April 2018. (Dok. Cavido)

Seperti Keluarga

Endah Rini Warastuti juga bergabung sejak dari SMA. Awalnya ia bergabung karena tidak sengaja. “Saat itu ada tahbisan salah satu romo dan Cavido diminta bertugas, tetapi meminta bantuan dari beberapa orang dari wilayah untuk bergabung. Lalu aku bergabung sebagai perwakilan wilayahku. Ternyata, ya, me-nyenangkan berproses di Cavido sampai sekarang,” ujar Endah. 

Bagi Endah yang pernah menjadi Ketua Cavido selama lima tahun, mengikuti latihan rutin merupakan bagian dari refreshing. Untuk anggota yang sudah berkerja, datang setiap Jumat untuk bernyanyi dan berkumpul dengan anggota lainnya merupakan sebuah anugerah tersendiri. “Walaupun sekarang ini anggota Cavido semakin bervarisasi dari segi usia, namun tetap terjalin tali kekeluargaannya,” jelasnya.

Selain melayani dan berlatih, Cavido mempunyai kegiatan lain seperti ziarah, rekoleksi, dan acara keakraban. Ke depan Cavido akan membuat bakti sosial. Endah meyakini, berkat kegiatan-kegiatan inilah, anggota semakin erat dan kompak.

Relasi antaranggota yang hangat ini menjadi sebuah ramuan yang mujarab bagi Cavido untuk terus berkarya.

Pengalaman berbeda dialami Benedictus Berardus Angga Prasetyawan. Tahun 2012, tepatnya malam Natal, Angga mendengarkan Cavido bernyanyi dan langsung jatuh cinta. Baginya, Cavido merupakan keluarga Katolik pertamanya karena kebetulan yang menjadi bapak-ibu baptis Angga adalah sang pelatih dan Vitri. “Waktu itu aku deketin salah satu dari anggota Cavido. Lalu aku tanya, apa syaratnya bergabung dan tidak ada tes kalau mau gabung,” jelasnya.

Mulai Regenerasi

Atok Djoko, sebagai pelatih Cavido, mempunyai dinamikanya tersendiri selama melatih paduan suara ini. Baginya, mempertahakan anggota itu tidak mudah. Atok berterus terang, ia bahkan hampir putus asa karena yang latihan hanya empat sampai lima orang saja. Tetapi karena senang melatih kor, tidak ada dalam benak Atok meninggalkan Cavido. Atok membuat aransemen lagu baru untuk Cavido. Dengan begitu, lagu-lagu yang dilantunkan semakin bervariasi.

Menurut Atok, mayoritas anggota bisa bernyanyi tetapi memang harus terus latihan. Hal ini dikarenakan masih banyak yang belum bisa membaca notasi lagu. “Menyanyi itu adalah dua kali berdoa, jadi kita harus menyanyi sebaik mungkin. Maka latihan sesering mungkin,” ujarnya.

Atok dan Ketua Cavido, Angga meng-harapkan, Cavido selalu ada untuk melayani Tuhan tanpa pamrih. Untuk itu, Cavido sudah mulai regenerasi. Mulai ada tim khusus dalam lima tahun terakhir yakni tim partitur. Kemudian, sudah ada beberapa dirigen dan organis.

Endah mengungkapkan, beberapa anggota Cavido yang pindah ke Yogyakarta, akhirnya juga membentuk paduan suara di sana dan menamainya Cavido Yogya. Mereka kurang lebih ada 10 orang dan mulai melayani rutin di Wisma Domus Pacis Puren. Tetapi, mereka belum merambah ke gereja karena berbeda paroki.

Tahun ini, Cavido sudah berusia 42 tahun. Untuk mencapai usia ini bukanlah suatu hal yang mudah bagi sebuah komunitas. Setiap tahunnya, paduan suara ini merayakan hari jadinya dengan membuat acara bersama sebagai wujud syukur. Namun, tahun ini sungguh berbeda. Di umur yang baru ini, Cavido turut berbelarasa dan prihatin atas situasi pandemi virus korona yang melanda di seluruh dunia. 

Cavido membuat program donasi bertema “Sembako Kasih”. Cavido mem-bagikan paket bahan makanan kepada masyarakat yang membutuhkan di bebera-pa titik jalan di sekitar Jakarta. Dari hasil donasi yang mereka kumpulkan, mereka dapat membagikan 200 paket bantuan pada 25 April 2020. Walaupun dalam situasi saat ini mereka tidak dapat melayani sesama dengan suara, tetapi melalui uluran tangannya, Cavido tetap berkarya.

Karina Chrisyantia

HIDUP NO.20, 17 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here