Saudara St. Yohanes Paulus II Wafat saat Merawat Pasien Wabah

194
Edmund Wojtyła | Public domain
Saudara St. Yohanes Paulus II Wafat saat Merawat Pasien Wabah
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM— St Yohanes Paulus II mengalami banyak penderitaan sepanjang masa kecilnya. Pertama ia kehilangan ibunya ketika berusia sembilan tahun kemudian satu-satunya saudara lelakinya, Edmund, beberapa tahun kemudian.

Edmund Wojtyła adalah seorang dokter medis dan teladannya tentang cinta tanpa pamrih memiliki dampak abadi pada adik lelakinya itu. Edmund menerima gelar medis dari Universitas Jagiellonian pada tahun 1930. Pada tahun 1931, ia mulai bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Pemerintah di Bielsko. Ia dikenal sebagai seorang dokter yang penuh dedikasi.

Pada saat itu, ada epidemi demam scarlet yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang sama dengan penyebab sakit tenggorokan. Meskipun berisiko terhadap kesehatan pribadinya sendiri, Edmund tetap melanjutkan praktiknya. Ia berani menempatkan dirinya dalam bahaya.

Menurut Alessandro Gissoti dari Vatican News, Edmund dikenang sebagai orang Samaria yang baik hati. Allesandro menuturkan Edmund sebagai seorang dokter yang melayani Polandia. Ia memberikan hidupnya merawat seorang gadis muda dengan demam Scarlet – penyakit yang, pada saat itu, belum ada vaksinnya. Dokter muda itu tahu konsekuensi yang mungkin terjadi, tetapi seperti orang Samaria yang baik hati, ia tidak pernah memperhitungkan untung rugi, ia hanya peduli untuk merawat mereka yang membutuhkan. Seperti yang diingat oleh calon Paus ini bertahun-tahun kemudian, kematian Edmund menjadi kejutan baginya, bukan hanya karena keadaan dramatis yang mengelilinginya, tetapi juga karena Karol telah tumbuh lebih matang sejak kematian ibunya. Contoh kemartiran saudara lelakinya yang bertugas itu tetap terukir dalam ingatan Karol Wojtyla selamanya.

Edmund meninggal pada usia 26 tahun. Kematiannya memiliki dampak mendalam pada diri St. Yohanes Paulus II sebab menunjukkan kepadanya apa artinya mengorbankan hidup demi kebaikan orang lain.

Maka tidak mengherankan bahwa sepanjang seluruh kepausan dan pelayanan imamatnya, St. Yohanes Paulus II menjadikan kunjungan rumah sakit dan orang sebagai prioritas khusus. Sebagai contoh, sang santo sering mengunjungi Rumah Sakit Gemelli di Roma selama masa kepausannya sebagai pengunjung dan sebagai pasien. Dia bahkan bercanda menyebut rumah sakit tempat tinggal paus ketiga, yakni Vatikan III.

Sang Santo dikenal senantiasa memiliki kekaguman yang besar terhadap pekerja kesehatan selama sisa hidupnya dan selalu menyanjung mereka ke mana pun ia pergi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here