MELALUI TANAH AIR MENUJU GEREJA

50
Paus Yohanes Paulus II mencium landasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, saat mendarat pada 8 Oktober 1989. (www.saltandlighttv.org)
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM Spiritualitas St. Yohanes Paulus II terinspirasi dari Santo Yohanes Maria Vianney. Ia selalu mencium “bumi” yang ia kunjungi.

ADA yang sedikit aneh pada lawatan Paus Yohanes Paulus II (YP II) ke Benua Afrika bulan September 1988. Dalam 10 hari, ia mengunjungi negara-negara yang berbatasan dengan Afrika Selatan, yaitu Botswana, Mozambik, Swaziland, Zimbabwe, dan Kerajaan Lesotho. Sedangkan Afrika Selatan sendiri malah “dilewatkan”.

Namun, cuaca buruk mengubah semuanya. Dalam penerbangan dari Botswana menunju Maseru, Losotho, pesawat Boeing 707 kepausan dihantam badai. Situasi semakin mencekam, karena sistem komunikasi bandara Maseru juga rusak total akibat badai yang lebih dahsyat. Pesawat harus kembali ke Botswana. Namun, bahan bakar tidak cukup. Akhirnya, pesawat diarahkan ke Yohanesburg, Afrika Selatan.

Ketika situasi itu disampaikan ke Bandara Yohanesburg, pemerintah Afrika Selatan menyambut Paus dengan penuh semangat. Mereka akhirnya dikunjungi oleh YP II, meski karena keadaan darurat. Dengan sukacita, Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Roelof F. “Pik” Botha (1932-2018), beserta rombonganya, menunggu di bandara. Karpet merah digelar. YP II pun turun. Namun, di luar kebiasaannya, YP II “tidak mencium tanah Afrika Selatan”. Setelah upacara dan mengucapkan terima kasih, rombongan Paus dengan mobil langsung meneruskan perjalanannya ke Lesotho, 410 km arah selatan Yohanesburg.

Tujuh tahun kemudian, pada 1995, YP II berkunjung ke Afrika Selatan. Kali ini, kunjungannya direncanakan matang. Afrika Selatan sudah berubah. Apartheid, atau kebijakan politik yang membedakan penduduk berdasarkan warna kulit dan ras, telah dihapus. Nelson Mandela (1918-2013), yang lama dipenjara karena menentang apartheid, kini menjadi presiden republik itu. Di bandara Yohanesburg, YP II mencium tanah Afrika Selatan, yang dibawa oleh beberapa murid SD di sebuah keranjang. Kala itu, kondisi fisik Paus menghalanginya untuk berlutut dan mencium tanah. Ia baru saja dioperasi.

Cium Bumi

YP II tidak pernah menjelaskan secara lugas, mengapa ia selalu mencium tanah dan bumi setiap negara, yang dikunjunginya. Orang pun berspekulasi. Banyak yang mengatakan, YP II mencium tanah negara yang dikunjunginya, sebagai tanda penghormatan terhadap kedaulatan politik negara tersebut.

St. Yohanes Paulus II dalam kunjungannya ke Afrika Selatan setelah tumbangnya Apartheid. (www.dioknox.org)

Spekulasi itu pun memicu debat berkepanjangan. Salah satunya ketika YP II hendak mengunjungi Indonesia pada 8-12 Oktober 1989. Sempat muncul pertanyaan, apakah YP II akan mencium tanah Timor Timur (Timtim) saat ia sampai di Bandara Dili? Sejak 17 Juli 1976, Timtim memang sudah menjadi provinsi ke-27 dari NKRI.

Namun, sejak 1975, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa sudah berkali-kali mengeluarkan resolusi, minta agar Indonesa menarik kehadirannya dari Timtim. PBB menuntut Indonesia mengakui hak penentuan nasib sendiri dari rakyat Timor Leste, serta kewibawaan Portugal sebagai penguasa administratif wilayah itu.

YP II akhirnya tiba di Jakarta. Begitu kakinya menginjak landasan Bandara Halim Perdanakusuma, ia pun mencium bumi Nusantara.

Yohanes Maria Vianney

Saat Karol Wojtyla (nama lahir YP II) belajar di Roma (1946-1948), ia sempat mengunjungi Desa Ars, Prancis. Di tempat ini, St. Yohanes Maria Vianney (1786—1859) berkarya. Ketika memasuki sebuah gereja tua di Ars, dua hal segera memberi kesan mendalam pada dirinya. Yang pertama, adalah pelayanan PAstor Vianney di kamar pengakuan.

“Setiap hari, lebih dari 10 jam, ia berada di kamar pengakuan, melayani pengakuan dosa umat, sebagai pemenuhan bagian paling esensial panggilan imamatnya. Secara sukarela, ia menjadi ‘a prisoner of the confessional’. Itulah pengalaman yang tak terlupakan; saya selalu membawanya saat mendengarkan pengakuan dosa umat,” kata Karol (lih. Gift and Mistery, 1996).

Yang kedua, YP II melihat kebiasaan setiap subuh yang dilakukan “gembala umat Ars” itu. Pastor Vianney bertiarap dan mencium lantai halaman gerejanya, sambil berdoa:  “Tuhan, berilah kepadaku pertobatan untuk parokiku. Aku bersedia menderita selama hidupku, agar umatku bertobat” (lih. Francis Trochu, Le Curé D’ars, 1925).

Karol melihat, pelayanan pengakuan dosa, dan kebiasaan mencium bumi paroki yang dilakukan oleh Pastor Vianney itu adalah wujud penghayatan atas spiritualitas imitatio Christi. Dalam karya-Nya di Galilea, Yesus selalu menaruh “pertobatan” atau metánoia (perubahan orientasi hidup) sebagai fokus pertama.

Pertobatan adalah syarat pertama dan utama, untuk mampu menerima anugerah iman (lih. Mrk. 1:15). Hanya setelah bertobat dan mohon pengampuan — pengakuan terhadap Allah yang Maha Rahim –, hati manusia bisa terbuka menerima rahmat iman Injili, yaitu bahwa Allah adalah Immanuel, ‘berada besama kita’, guna menyelamatkan semesta.

Di sini, Karol, yang memiliki devosi kepada Bunda Maria, langsung ingat pada  pesan Ibu Yesus kepada Bernadette Soubirous. Pada penampakan yang kedelapan pada 24 Februari 1858 dan penampakan ke-10  pada 27 Februari 1858) di Lourdes, Bunda Maria berpesan, “Berdoalah untuk para pendosa. Pergi dan ciumlah tanah bagi pertobatan para pendosa.” Mencium tanah bagi pertobatan para pendosa, adalah perintah Bunda Maria.

St. Yohanes Maria Vianney (1786—1859). (www.catholicfunfacts.com)

Melalui konteks ini, bisa dipahami, mengapa saat harus “mendarat darurat” di  Afsel tahun 1988, YP II tidak mencium “bumi” negeri itu. Kepada para wartawan, ia mengatakan, Apartheid adalah ungkapan visi rasis mengenai ketidaksetaraan manusia. Selama itu masih menjadi sebuah policy resmi negara, sangat sulit muncul sebuah pertobatan yang konkret. Namun, keadaannya berbeda ketika Afrika Selatan sudah dipimpin oleh Nelson Mandela. Ia sangat menekankan pengampunan dan pertobatan, yang secara positif menghindarkan rakyat Afrika Selatan, untuk saling membalas dendam, khususnya antara kelompok Afrika, campuran, dan kulit putih.

Bertobat dan Mohon Pengampunan

Sikap untuk selalu bertobat dan mohon pengampunan berasal dari warisan Polandia, tanah air Karol. Negeri itu memilliki sejarah getir pada Abad XVIII dan XIX. Tahun 1794, 1830, dan 1863, Polandia dijajah, “dicabik-cabik”, dan disengsarakan oleh tiga tetangga mereka, Prusia/Jerman, Austria, dan Rusia. Situasi yang sangat berat itu membuat rakyat Polandia tidak pernah memikirkan sebuah “balas dendam”. Yang ada hanyalah meratap dan memohon pembebasan, seperti orang-orang Yahudi di pembuangan Babilonia. “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion” (Mzm. 137:1).

Mereka meratap bukan hanya karena kehilangan tanah air, kebebasan, dan kemerdekaan politik, tetapi juga karena budaya dan bahasa mereka dirantai dan dihabisi. Seperti kaum buangan, mereka hanya mengandalkan belas kasih Tuhan, bertobat, dan mohon pengampunan. Tujuh Mazmur, yaitu Mzm. 6; 32; 38; 51 (Miserere); 102; 130 (De profundis), dan 143, sangat dihafal oleh rakyat Polandia.

Sebagai pribadi, yang sangat erat bersatu dengan sejarah negerinya, keyakinan Karol, bahwa pertobatan dan pengampunan adalah yang paling utama dalam mewujudkan Kekristenan, dibuktikannya saat menjadi Uskup Agung Krakow. Tahun 1966 adalah peringatan 1.000 tahun Polandia menjadi Katolik. Primat Polandia, Kardinal Stefan Wyszyński (1901-1981), Uskup Agung Gniezno, dan Uskup Agung Warsawa, ingin agar para uskup sedunia hadir pada perayaaan tersebut. Waktu itu, Polandia berada dalam pemerintahan komunis.

Maka, sejak akhir 1965, undangan mulai dikirim. Ada “undangan khusus”, yang disiapkan oleh para uskup Polandia — di mana Karol adalah perancangnya –, bagi para uskup Jerman. Dalam undangan itu, setelah pengantar  mengenai penderitaan bangsa Polandia di bawah kekuasaan Jerman, dan penderitaan warga Jerman akibat perbuatan bangsa Polandia, kemudian muncul sebagai penutup kalimat ini, “Kami mengampuni, dan kami mohon pengampunan dari kalian” (lih. G. Weigel (1999), 178-179).

Pemerintah Komunis Polandia sangat marah dengan penutup undangan itu. “Gereja telah berkhianat terhadap sejarah”, kata mereka. “Kami tidak akan melupakan, dan kami tidak akan mengampuni!”, begitu kampanye pemerintah. Kaum buruh pun digerakkan untuk menentang para uskup mereka. Demo pun digelar, termasuk dari para buruh pabrik kimia Solvay, di mana Karol, pada zaman pendudukan Nazi-Jerman, pernah menjadi buruh angkut batu kapur.

Namun, Karol dan para uskup tetap bersikukuh mengirimkan surat permintaan maaf itu kepada Gereja Jerman. Alasannya sederhana, pertobatan, permohonan ampun, serta pengampunan, menyatukan kita semua dalam kerahiman Allah. Ia menjadi sarana beriman yang baru, di mana yang dicari bukan kebenaran manusia, tetapi kebenaran Ilahi. Inilah modal iman dan budaya Gereja Polandia, yang telah terbukti mampu memelihara iman umat saat dikungkung oleh Tirai Besi komunisme internasional. Modal itulah, yang kemudian disuarakan oleh YP II dalam homili inaugurasi kepausan 22 Oktober 1978. “Jangan takut untuk menyambut  Kristus, dan menerima kekuasaan-Nya!”

Karol Wojtyla (kedua dari kanan) dengan skapulir “Bunda Kita dari Bukit Karmel”, saat menjadi buruh angkut batu kapur di pabrik kimia Solvay, 6,5 km selatan Kraków, Polandia. (www.tomperna.org)

Yang kemudian terjadi, justru budaya “bertobat dan mohon pengampunan” ini sangat “ditakuti” oleh banyak penguasa negara di luar Vatikan, terutama karena sebagai Paus, YP II selalu mengalami lawatan pastoralnya dengan lebih dahulu “mencium tanah bumi negeri” itu, sesuai dengan semangat Pastor Vianney.

Sejarahwan George Weigel, penulis biografi YP II, Witness to Hope (1999), dan The End and The Beginning (2010), mencatat, sekurang-kurangnya Cina dan Uni Soviet menolak dengan halus kunjungan YP II. Rupanya mereka tahu, banyak pemerintahan otoriter dan diktatorial yang jatuh, “berubah rupa”, atau bertransformasi, setelah dikunjungi oleh YP II. Sekadar contoh, setelah Polandia dikunjungi pada 1979, komunisme di negara-negara Eropa Timur mulai runtuh; demokrasi mulai menjadi warna baru. Kemudian, pada April 1987, YP II mengunjungi Chile, Amerika Selatan, tiga tahun kemudian, pada 1990, pemimpin Junta Militer Chile, Jenderal Pinochet Ugarte (1915-2006), diturunkan melalui pemilu demokratis. Begitu pula dengan Kuba, yang dipimpin oleh Fidel Castro (1926-2016). Negeri itu dikunjungi oleh YP II pada Januari 1998. Sedikit demi sedikit Kuba pun berubah, dan pada Februari 2008, Fidel Castro mundur.

Bagaimana Indonesia? YP II datang ke Jakarta pada 1989. Tak sampai 10 tahun kemudian, reformasi melanda Indonesia pada 1998 dan Presiden Soeharto (1921-2008) lengser.

Per Patriam ad Ecclesiam

Memang, pada setiap kunjungannya, YP II selalu melawan tirani dengan cara mengembalikan kepada rakyat yang ditindas, sejarah, budaya, dan identitas mereka yang otentik. Ketiganya itu berasal dari “bumi”, “tempat mereka tinggal”, dan dibentuk melalui kesadaran serta budaya patriotisme, kecintaan pada patria, ‘tanah air’. Dari patria inilah, Gereja yang konkret dibangun, Per Patriam ad Ecclesiam.

Saat pertama kali “pulang” ke Tanah Air-nya pada 2 Juni 1979, YP II mengatakan, “Wołam, ja, syn polskiej ziemi”, ‘Aku menyebut, anak dari Bumi Polandia’. Ungkapan itu mencerminkan pengalaman dan keyakinannya, bahwa Bumi dan tanah, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, adalah tempat bibit iman yang disebarkan oleh Sang Penabur Utama (lih. Mrk. 4:1-20). Bagi orang beriman, Bumi di mana ia berpijak, adalah tempat persemaian iman. Dari kesatuan dengan Bumi itulah — dengan sejarah, budaya, dan identitasnya — setiap manusia dibentuk untuk menjadi anggota umat Allah, menjadi sebuah Ecclesia. “Hendaknya Roh-Mu turun, dan baruilah muka Bumi, dunia ini,” kata YP II dalam khotbah di Warsawa 2 Juni 1979.

Apa maknanya bagi kita? “Menjadi Indonesia” adalah dasar yang paling utama untuk “membangun, mengembangkan, dan memelihara” Gereja Indonesia. Ensiklik Centesimus Annus (CA, 1991) mengatakan, budaya moral publik me-rupakan prioritas untuk membangun masyarakat yang merdeka dan bermarta-bat. Dasar budaya itu adalah “patria” di mana orang berpijak, serta iman yang dihidupi secara konkret. Keduanya menjadi alat untuk mendisiplinkan, mengarahkan, dan mengembangkan energi kemanusiaan yang sejati (lih. CA, 46).

Inilah panggilan setiap Gereja lokal atau nasional, yaitu membangun budaya, termasuk patriotisme, yang memberi kemampuan bagi setiap orang beriman untuk mengembangkan hidup pribadi dan sosialnya dalam cakrawala moral yang transenden (lih. CA, 44-52).

H. Witdarmono, penulis buku, Aku, Anak Bumi-ku. Per Patriam ad Ecclesiam. Biografi Spiritual Paus Yohanes Paulus II, 2015.

HIDUP No.21, 24 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here