PASANGAN KURANG BERGAIRAH

68
PASANGAN KURANG BERGAIRAH
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM PENGASUH yang terkasih, saya sudah menikah selama lima bulan. Ketika berhubungan intim dengan istri, sebetulnya saya mengharapkan ia lebih bergairah dan agresif. Tetapi, hal itu belum pernah terpenuhi. Saya sudah membicarakan hal ini dengan dia, tetapi sama saja. Bagaimana mengatasi hal ini?

Daniel Bogor, Jawa Barat

Mas Daniel yang baik, saya bisa memahami persoalan yang Mas alami. Sebelumnya, ada informasi yang ingin saya ketahui. Apakah istri bekerja di kantor atau perusahaan atau ibu rumah tangga? Apakah istri termasuk tipe orang pendiam atau periang? Apakah Mas dan istri tinggal di rumah sendiri atau bersama dengan orangtua atau mertua? Informasi tersebut penting untuk mendiskusikan persoalan ini. Meski demikian, saya tetap akan mencoba beberapa saran.

Masalah hubungan intim adalah ma-salah yang bisa dianggap sepele da-lam hubungan suami-istri. Namun, bisa menjadi masalah yang serius. Bahkan bisa menjadi pemicu persoalan-persoalan lain, terutama jika interaksi dari hubungan tersebut tidak memuaskan bagi satu pihak atau keduanya.

Masalah hubungan intim bisa dianggap sebagai sesuatu yang ditabukan, sehingga pantang untuk dibahas, dianggap kurang penting, namun terus dicari dan dieksplorasi karena memicu rasa ingin tahu. Tak jarang, antarpasangan juga enggan membahas karena dianggap tahu sama tahu, meski sebenarnya bisa jadi keduanya sama-sama tidak tahu atau bahkan tidak paham.

Pandangan tentang hubungan intim dipengaruhi oleh latar belakang seseorang. Dalam hal ini: pendidikan, nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga, pengalaman masa lalu, atau bahkan pengetahuan tentang seks itu sendiri. Semua ini turut membentuk pandangan seseorang tentang seks dan bagaimana interaksi dalam hubungan suami-istri.

Terkait dengan persoalan Mas, perlu dipahami bahwa pernikahan kalian belum lama, bisa dikatakan masih da-lam masa bulan madu. Masa ini adalah masa mengenal antarpasangan secara lebih mendalam. Tentu saja pernikahan akan sangat berbeda dengan masa berpacaran.  Mungkin saja istri masih enggan untuk diajak bereksplorasi, karena masih malu atau ragu. Yang paling tepat adalah sabar menunggu, tak memaksa atau bahkan menuntut. Karena ini hanya akan menimbulkan antipati dan memperburuk relasi.   

Komunikasi yang sudah Mas bangun dengan istri sebenarnya adalah langkah yang sangat baik. Karena dengan demikian Mas bisa menyampaikan apa yang dikehendaki sekaligus mengetahui pandangan istri mengenai hal itu. Pemahaman istri tentang seks itulah yang rasanya perlu Mas kenali, agar tahu persis mengapa dalam relasi intim istri kurang bergairah.

Mungkin juga perlu dipahami, bahwa hubungan intim tak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan. Yang terpenting adalah ungkapan rasa sayang antarpasangan. Terkait hal itu, perlu diawali dengan aktivitas ringan yang menyenangkan dan mendekatkan. Seperti mengobrol ringan, mungkin dengan memijat pasangan hingga suasana rileks tercipta. Semua itu untuk membangun hubungan yang lebih dekat, personal, dan emosional positif.

Dalam konteks berkeluarga, masalah hubungan intim seyo-gyanya tidak didudukkan sebagai yang utama, apalagi satu-satunya. Jika ini terjadi, muncul ketidakpuasan dan memicu persoalan lain. Hubungan intim hanya akan terjadi jika ada landasan kuat yaitu kasih dan saling percaya. Keduanya perlu dibangun bersama dari hari ke hari. Perbedaan pandangan tentang hubungan intim ini bisa dijembatani dengan saling memahami antarpasangan, saling mengenal, belajar dan meng-eksplorasi bersama. Jadi, saya rasa kesabaran dan me-mahami pasangan adalah langkah pertama yang perlu di-bangun. Selamat mencoba.

Th. Dewi Setyorini Dosen di Fakultas Psikolog Unika Soegijapranata, Semarang, Jawa Tengah

HIDUP No.21, 24 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here