MENGAPA TUHAN BERDOA

139
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM Romo, iman Kristiani percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Namun, dari beberapa bagian Injil, kita dapat membaca kisah saat Yesus berdoa pada saat-saat tertentu. Mengapa Yesus masih harus berdoa, bahkan mengajarkan doa kepada para murid padahal, Dia sendiri adalah Tuhan?

Julie Hany Bogor, Jawa Barat

TENTU, kita akan bertanya-tanya dan terkejut ketika kita membaca, mengamati, dan memperhatikan di dalam Injil mengapa Yesus yang adalah Tuhan itu berdoa. Secara spontan, mungkin kita akan mengatakan, “Sungguh aneh, mengapa Tuhan berdoa pada diri-Nya sendiri?” Seolah-olah tindakan Dia berdoa ini memberi per­nyataan: bahwa Dia itu bukan Tuhan, sehingga kita menjadi ragu akan kebenaran Dia, yang adalah Allah yang la­yak di­sembah dengan mem­per­ta­nyakan: “Apakah mungkin Dia itu Tuhan kalau Dia itu berdoa?”

Baiklah, pertama-tama ma­­­ri melihat Injil terle­bih dahulu, kapan dan ba­­gai­mana Yesus itu ber­doa. Kemudian, kita baru me­ma­hami Dia berdoa sebagai manusia meskipun Dia Allah.

Injil mencatat beberapa kali Dia berdoa. Tindakan ini menjadi bagian keseharian-Nya. Bisa dika­ta­kan, kebiasaan pagi dan malam, Dia selalu berdoa. Hal ini tercatat dalam ki­sah, bahwa  “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana”  (Mrk 1:35; lih juga Mat 14:23).

Selain kegiatan harian itu, Dia melakukan doa ketika pada situasi yang berat, terutama waktu Ia hendak ber­hadapan dengan kematian diri-Nya. Dia pun pergi ke taman Getsemani untuk berdoa kepada Bapa-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalaulah Engkau mau, ambilah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42).

Catatan kisah dalam Injil tentang Yesus berdoa dapat dipahami dengan baik berdasarkan keyakinan iman Kris­tiani bahwa Dia sungguh Allah dan sungguh manusia. Dia menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia (bdk 1 Tim 3:6), sebagaimana yang disampaikan dalam Injil Yohanes, yang menjadi dasar iman kita (bdk. Yoh 1:14).

Paulus pun menegaskan, Dia adalah benar-benar ma­­nusia; Dia mengosongkan diri-Nya, agar Dia bisa me­ra­sakan hal yang sama dengan manusia, termasuk meng­alami penderitaan (bdk. Fil 2:7). Dia rela untuk merasakan ke­le­mahan manusia, karena Dia hendak membebaskan ma­nusia, yang adalah saudara-saudara-Nya (bdk Ibr 2:10-11). Itulah sebabnya, Dia berdoa pula demi dan untuk manusia meskipun Dia adalah Allah. Ia berdoa kepada Bapa-Nya yang mengutus-Nya ke dunia karena relasi diri-Nya dan Bapa adalah satu (Yoh 14:10). Dia tak terpisahkan dengan Allah Bapa meskipun Dia adalah manusia.

Berdoa bagi Dia bukan se­ka­dar menunjukkan, bahwa diri-Nya berdoa kepada Ba­pa, tetapi Dia sebagai ma­nusia dan Allah, hendak meng­­ajarkan kepa­da pa­ra murid, bagai­mana ha­­­rusnya berdoa. Dia  meng­ajarkan doa “Ba­pa Kami” ketika para mu­rid berkata: “Tuhan, aja­rilah kami ber­doa” (Luk 11:1). Dia pun tidak sekadar menga­jarkan doa “Bapa Ka­mi”, tetapi me­nunjukkan ba­­gaimana seorang memiliki si­kap doa yang benar, yaitu su­paya ketika seorang berdoa, tidak bersikap seperti seorang yang munafik, tetapi membuka hati di ha­dapan Allah dengan sikap yang be­nar. Ia mengajarkan, agar orang berdoa dengan “masuk dalam kamar, menutup pintu, dan ber­doa kepada Bapa di tempat tersembunyi” (bdk. Mat 6:6).

Akhirnya, doa bagi Dia adalah doa bagi semua orang yang percaya kepada Dia supaya tetap bersatu. Karena itu, dia mendoakan para murid-Nya supaya terpelihara di dunia (bdk Yoh 17:1-19). Dia juga berdoa agar mereka yang percaya dan telah mendapatkan kemuliaan mera­sakan kesatuan dan mendapatkan kesempurnaan (bdk Yoh 17:23).

Pastor Yohanes Benny Suwito Dosen Teologi Istitut Teologi Yohanes Maria Vianney Surabaya

HIDUP No.21, 24 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here