Emerensiana Lilywati Wijaya dan Paulus Wibisono Sidiadinoto: BUNDA YANG SELALU MENDENGARKAN

1925
Emerensiana Lilywati Wijaya dan Paulus Wibisono Sidiadinoto (Dok. Pribadi)
Emerensiana Lilywati Wijaya dan Paulus Wibisono Sidiadinoto: BUNDA YANG SELALU MENDENGARKAN
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM Bunda Maria selalu hadir di titik-titik krisis dalam kehidupan. Ibu Sang Juru Selamat itu telah menjadi bagian dari sejarah kehidupannya.

EMERENSIANA Lilywati Wijaya mengenang, doa Rosario baru menjadi tempat “pelarian” dirinya saat masih berusia 21 tahun. Ketika itu, Lily, sapaannya, merasa hidupnya buntu. Pada tahun ketiga kuliah, Lily yakin, kuliah yang diambil tak cocok dengan bidang yang digelutinya. Lily stres berat. Sementara bronkitis yang tengah dideritanya, membuat fisiknya kian layu. Ia akhirnya ambruk.

Ia ingin pindah jurusan, tapi bingung menentukan pilihan. Sementara hati dan batinnya tertumbuk kepada orangtua. Lily tak tega kepada orangtuanya yang sudah mengeluarkan biaya tak sedikit. Maka sepanjang sakit, ia saya berdoa Rosario setiap hari. Di hadapan sang bunda, ia menumpahkan segala kesedihan dan gundah gulananya.

Tiga bulan berlalu, penyakitnya tak kunjung sembuh. Ia menjalani pengobatan dan perawatan di kota lain. Ketika di rumah sakit, tak dinyana, ia berjumpa dengan kawan SMA yang juga sama-sama dirawat. Temannya itu banyak bercerita tentang pengalaman selama belajar di universitas. Setelah mendengarkan cerita-cerita rekannya, Lily menyadari, bahwa kampus yang diceritakan temannya itulah yang ia cari. Cerita itu juga membawanya ke sana.

Keguguran Berulang

Setelah sembuh, dengan seizin orangtua, Lily mendaftarkan diri ke universitas tersebut. Proses perpindahan dan penerimaan berjalan lancar. Di universitas itu, ia benar-benar menemukan bidang dan lingkungan belajar yang membuatnya sangat bahagia. Bidang keahlian itu pula yang menjadi modal Lily untu memasuki dunia kerja.

Tidak lama setelah menikah, Lily pun hamil. Sayang, kehamilan itu bermasalah dan hanya dapat bertahan selama 12 minggu. Setahun kemudian, ia hamil lagi, tapi kembali bermasalah. Hal tersebut, Lily alami selama empat tahun berturut-turut.

Pengalaman masuk kamar bersalin untuk dikuret sama sekali tidak menyenangkan. Dalam kesedihan, setiap kali dirinya didorong masuk ke sana, ia senantiasa memanjatkan Salam Maria berulang-ulang.

Setiap tahun pula, ia dan sang suami, Paulus Wibisono Sidiadinoto,  beralih dokter. Mereka berupaya untuk mencari dokter yang lebih ahli. Empat kali kegagalan mau tidak mau memaksa mereka untuk berhati-hati. Mereka mulai menerapkan sistem KB kalender, agar Lily jangan sampai hamil, sebelum masalah atau gangguan ditemukan dan diobati.

Sementara itu, selama bertahun-tahun setiap malam, pasangan suami-istri ini setia berdoa Novena tiga kali Salam Maria. Ujubnya sederhana: memohon anak yang sehat dan penuh dengan berkat Tuhan.

Akhirnya mereka berkonsultasi dengan seorang profesor yang terkenal piawai mengatasi kasus-kasus sulit. Di sela-sela proses terapi, Lily dan Wibisono ziarah ke Lourdes, Prancis. Kepada Bunda Maria dari Lourdes, mereka berdoa dan berjanji, jika mendapatkan anak, maka anak itu pasti akan dibawa ke Lourdes dan mempersembahkannya kepada Bunda Maria.

Usai baptisan Ansel Joseph di Gereja Santo Yakobus Kelapa Gading, Keuskupan Agung Jakarta, Juni 1997. (Dok. Pribadi)

Tak Putus Asa

Selama masa pengobatan, Lily bersama suami juga berkonsultasi dengan seorang dokter  lain, yang menganalisis kondisi genetika darah mereka. Hasilnya, ada kelainan dalam gen Lily, yang menyebabkan keguguran. Namun, hal itu tidak membuat pasutri ini putus asa. Tak berhenti berdoa, berusaha pun terus.

Setelah Lily menjalani operasi dan pengobatan, profesor yang sudah sepuh itu mengatakan, “Sekarang Nyonya siap untuk hamil lagi, tetapi yang terpenting, itu juga tergantung kepada yang di Atas,” ujar Lily mengulang pendapat dokter yang mendampinginya.

Sekitar tiga bulan kemudian, Lily hamil. Kali ini sama sekali tanpa masalah. Dengan bahagia, ia dan suami menyambut kelahiran putra pertama menjelang akhir tahun ke delapan pernikahan. Mereka menamai sang buah hati, Arnold Maria Adinugroho.

Ketika Arnold berusia satu setengah tahun, Lily hamil lagi. Sayangnya, kembali bermasalah, yang berakhir dengan keguguran pada minggu ke-11-12. Menginjak usia 22 bulan, baby Arnold mereka ajak untuk berziarah ke Lourdes, Prancis. Mereka memenuhi janji kepada Bunda Maria dari Lourdes.

Intensi Lily dan suami dalam doa Novena benar-benar dikabulkan. Sejak dilahirkan, Arnold sehat, cerdas, dan lucu. Satu kali, Arnold pernah berkata kepada ibundanya, mengapa namanya menggunakan nama Maria? Menurutnya, nama itu adalah nama perempuan. “Saya katakan, ‘Karena kamu adalah anak Maria’,” jawab Lily.

Ketika mengalami lagi keguguran untuk keenam kalinya, Lily dan suami melepaskan niat memiliki anak kedua. Mereka sudah sangat bersyukur memiliki satu keajaiban, yaitu Arnold. Namun, suatu hari ketika berusia sekitar empat tahun, Arnold minta adik.

Apa yang harus Lily katakan? Bahwa ayah dan ibunya sudah melepaskan harapan untuk punya anak lagi? Tentu tidak mungkin mengatakan hal yang demikian kepada anak sepolos itu. Maka setengah menghindar Lily berkata, “Bagaimana kalau kamu saja yang berdoa minta adik?”

Di sisi lain, trauma enam kali keguguran sebelumnya, membuat ia dan suami enggan melepaskan sistem KB kalender.Walaupun setiap malam saat doa bersama, Arnold tidak lupa berdoa sendiri di depan salib, “Uhan ‘Ecus, Ano’ nta ade’ dong (Tuhan Yesus, Arnold minta adik dong),” ujar Lily, mengenang.

Tak terasa setahun berlalu, suatu hari Arnold complain, “Percuma berdoa, adik tidak datang-datang.”

Keluhan itu menusuk hati nurani Lily. Bagaimana jika Tuhan benar-benar akan mengabulkan doanya? Walaupun menurut nalar orang dewasa, tak mungkin terjadi. Namun, Lily menyadari, bahwa bisa saja dirinya akan mengalami keguguran untuk ketujuh kalinya, tetapi bukankah hanya dengan kerja sama, Tuhan dapat mengabulkan doa putra mereka? Mereka pun mengambil risiko.

Sungguh “ajaib”, begitu Lily dan suami melepaskan sistem KB kalender, Lily langsung hamil. Kehamilan yang sehat pula.  Anak kedua mereka, Ansel Joseph, dijadwalkan lahir pada minggu pertama bulan Maret. Namun, akibat placenta privea, pada minggu ke-36, ia harus segera dilahirkan dengan operasi caesar.

Ansel Joseph lahir pada pada hari Santa Maria dari Lourdes. Begitu menyadarinya, Lily langsung merenung dan mensyukuri kebaikan Bunda Maria. Sepertinya tanggal kelahiran Ansel adalah tanda, bahwa Bunda Maria dari Lourdes sebagai pelindung dan ibu rohani Arnold telah mengambil peran dalam terjadinya “keajaiban” yang kedua ini. Seluruh keluarga sungguh amat bersyukur.

Anggota keluarga Lily dan Wibisono bertambah satu lagi. Dari kiri ke kanan: Paulina Felicita (istri Arnold), saya, Arnold, Wibisono (suami saya) dan Ansel. (Dok. Pribadi)

Bersama Maria

Tidak hanya sekali itu Bunda Maria menyatakan kehadirannya kepada Lily lewat tanggal. Lima tahun yang lalu, ayahnya yang sudah sangat sepuh sakit sampai berulang kali keluar-masuk rumah sakit. Akhirnya diketahui ada kanker ganas di dalam ususnya dan tak ada harapan untuk sembuh.

Seseorang lalu memberitahukan tentang doa kepada Bunda Maria yang Berdukacita. Dengan perantaraan Bunda Maria, Lily dan keluarganya berdoa kepada Tuhan, agar sang ayah dibebaskan dari penderitaannya. Mereka berdoa setiap hari. Setelah dua minggu dirawat, ayah Lily berpulang dengan tenang pada 15 September.

Baru kemudian Lily mengetahui, tanggal tersebut merupakan hari Bunda Maria yang Berdukacita. Lily semakin yakin, Bunda Maria selalu mendengarkan doa anak-anaknya. Bunda Maria juga dekat dengan putra-putrinya, seperti dirinya dekat dengan Puteranya, Yesus Kristus.

Yanuari Marwanto

HIDUP NO.22, 31 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here