BERTRANSFORMASI SEBAGAI OBOR

33
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM PENTAKOSTA sering dihubungkan dengan hari kelahiran Gereja lantaran mengingatkan akan sebuah memoria bagaimana komunitas Kristiani perdana di Yerusalem akhirnya berani bergerak keluar mewartakan Injil keselamatan Allah kepada bangsa-bangsa lain. Tanpa ‘Pentakosta’, makna ‘Paskah’ terasa kurang lengkap. Jika kebangkitan Kristus telah mengalahkan rasa takut dan putus asa komunitas ini, kehadiran Roh Kudus telah menghidupkan dan mengorbarkan kembali jiwa dan semangat mereka. Meminjam istilah astronomi, Pentakosta adalah ‘Big Bang’nya (ledakan dahsyhat) komunitas Kristiani perdana.

Kisah Para Rasul meng-hubungkan peristiwa ‘turunnya Roh Kudus’ atas ko-munitas Kristiani ini dengan Hari Raya Pentakosta Yahudi (2:1-4). Pada abad pertama Masehi, Pentakosta merupakan salah satu dari tiga hari raya peziarahan, selain Paskah (Pesah) dan Pondok Daun (Sukkot). Hari Raya Pentakosta sendiri terkait dengan Hari Raya Tujuh Minggu (Shavuot). Pelaksanaan ketiga hari raya ini dipusatkan di Bait Allah di Yerusalem. Tradisi Yahudi memaknai Pentakosta sebagai kenangan akan penebusan dari perbudakan Mesir dan masa tinggal di Sinai dan padang gurun.

Simbol kehadiran Roh Kudus dalam Pentakosta adalah angin dan api: ‘suatu bunyi seperti tiupan angin keras’ dan ‘lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap.’ Fenomena ini kiranya tidak harus dipahami secara harfiah. Maksudnya, seolah-olah angin besar dan api menyelinap masuk di tengah-tengah mereka dan lantas merasuki mereka. Sangat mungkin, pengalaman ‘turunnya Roh Kudus’ adalah pengalaman spiritual komunitas Kristen perdana. Dalam pengalaman ini, mereka merasakan dan mengalami sensasi kehadiran daya kekuatan Ilahi seperti angin yang keras dan nyala api yang terang.

Tradisi Alkitabiah sering menampilkan angin dan api sebagai simbol utama kehadiran Allah. Secara khusus, kedua simbol itu mengingatkan peristiwa umat Israel di Laut Merah, Sinai, dan padang gurun.  Dalam Kisah Keluaran bangsa Israel dari Mesir, angin menjadi tanda kekuatan Allah yang memenangkan umat Israel atas pasukan Mesir di Laut Merah: “TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering” (Kel.14:21-25). Di padang gurun, “tiang awan dan tiang api” menjadi tanda kepemimpinan Allah di hadapan bangsa Israel. Di Gunung Sinai di mana Taurat diberikan kepada umat Israel, kehadiran Allah ditandai dengan asap dan api (Kel. 19:18).

Terlihat kesamaan antara Peristiwa Sinai dan ‘turunnya Roh Kudus” di Yerusalem. Jika di tengah angin dan api di Gunung Sinai, Allah telah menjadikan Israel sebagai umat pilihan-Nya menjalankan tugas-Nya, demikian pula, komunitas Kristen di Yerusalem, di tengah angin dan api dari Allah, sedang dibentuk Allah menjadi komunitas yang ditugaskan mewartakan Injil keselamatan yang telah dimulai Kristus sendiri. Sama halnya, ketika di Gunung Sinai bangsa Israel dikuatkan untuk menuju Tanah Terjanji dengan dasar Taurat dari Allah, di Yerusalem komunitas Kristen dikokohkan dengan Roh Allah untuk bergerak menuju ‘ujung dunia’.

Dalam ‘Pentakosta’, Roh Kudus tampil sebagai daya, kuasa, energi Ilahi dari Allah. Dengan daya Roh Kudus ini, kita diharapkan menjadi ‘angin’ dan ‘api’ dari Allah. Seperti ‘angin’ (ruah), kita hendaknya terus bergerak dan bergerak tanpa henti dalam mewartakan Injil keselamatan dalam perbuatan dan kata seperti Gereja perdana dahulu. Seperti api, kita hendaknya bertransformasi sebagai ‘obor’ yang membakar semangat orang lain untuk terus berjuang. Inilah arti penting Pentakosta bagi Gereja sekarang ini. Jika Gereja tidak terus bergerak dan membangkitkan semangat, Gereja ibarat telah kehilangan Roh (Kudus) nya.

Romo Albertus Purnomo, OFM Alumnus Pontificium Institutum Biblicum, Roma, Italia

HIDUP NO.22, 31 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here