Gangguan Mental dan Iman

334
Gangguan Mental dan Iman
5 (100%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Romo, saya perhatikan dari berita dan media sosial, cukup banyak yang mengulas soal gangguan mental. Apakah persoalan ini ada kaitannya juga dengan kurangnya iman?

Rivano Bayu, Bandung, Jawa Barat

Beberapa orang kudus pernah mengalami persoalan psikologis saat masa-masa pergulatan hidupnya. Bahkan Paus Fransiskus mengakui, dia pernah cukup intensif konseling dengan seorang
psikiater perempuan Yahudi. Apakah mereka itu kurang beriman? Tidak bisa dikatakan begitu saja.

Sebagai bukan psikolog, tentu saya tidak memiliki kompetensi menjelaskan tentang gangguan mental atau depresi. Gangguan mental secara umum dimengerti sebagai kekurangmampuan seseorang untuk menerima situasi. Gejalanya seperti mudah tersinggung, sering merasa sendiri
atau takut sendirian, gelisah, takut pada keramaian, merasa rapuh-tidak berdaya, mudah tersinggung, sulit makan atau tidur, atau pun perasaan ingin bunuh diri. Hal itu bisa terkait dengan pengalaman masa lalu, tekanan hidup, faktor lingkungan, faktor biologis, tekanan sosial-ekonomi-politik ataupun faktor diri sendiri. Bisa dikatakan hal ini terkait dengan pikiran, perasaan dan tindakan seseorang.

Sedangkan iman terkait dengan wahyu, iman adalah tanggapan akan pewahyuan Allah. Pewahyuan yang diterima umat manusia
mewujud dan tumbuh sebagai iman. Iman adalah tindakan yang meyakini sebagai benar (verum esse credere), akan apa yang diyakini sebagai pewahyuan diri Allah. Allah yang memberikan serta menyatakan diri-Nya disambut dengan penyerahan diri manusia kepada-Nya.

Proses tersebut berjalan di sepanjang sejarah, sehingga sejarah tersebut dipahami sebagai sejarah keselamatan, sejarah yang ditandai dengan ajakan, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki
Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:28). Maka Konsili Vatikan II dalam Dei Verbum menyebutkan, “kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan ‘ketaatan iman’”. Dimengerti di dalamnya, iman sebagai tindak kepatuhan akal budi dan kehendak akan segala apa yang diwahyukan Allah kepada manusia. Iman itu, betapapun adalah penyerahan diri manusia akan penyataan diri Allah, tetap adalah rahmat dari Allah.

Dari sini, kita bisa memahami, tidak segala hal terkait dengan kondisi pribadi seseorang langsung terkait dengan iman. Mengaitkannya secara langsung bisa jadi suatu lompatan kesimpulan yang gegabah, sebagai misal ada yang mengaitkan
banjir dengan perdagangan miras di kawasan tersebut.

Tentu faktor situasi atau kondisi keimanan seseorang bisa berpengaruh dengan situasi pribadi atau kondisi kesehatan mental seseorang. Namun yang perlu ditangani lebih dahulu adalah situasi dan kondisi pribadi tersebut, tidak langsung mengajaknya untuk berdoa, apalagi
menghakiminya sebagai kurang beriman.

Kalau ada seseorang memiliki persoalan terkait kondisi tubuh, pergilah ke dokter. Kalau ada seseorang memiliki persoalan terkait dengan pribadinya, coba carilah psikolog. Seringkali, imam tidak memiliki kompetensi untuk menanganinya. Bahkan dalam pendidikan calon imam, semakin
dirasakan perlunya keterlibatan psikolog, karena formasi pribadi sebagai manusia (human formation) merupakan landasan untuk formasi bidang lainnya, terlebih formasi spiritual.

Di Pusat Spiritualitas Girisonta, Jawa Tengah sekalipun, seseorang yang masih bergelut dengan persoalan-persoalan psikologis, disarankan untuk jangan retret terlebih dahulu. Ia diminta mencari sarana bantu untuk terlebih dahulu, mengolah
persoalannya tersebut. Tentu bisa jadi, bimbingan rohani dapat menjadi sarana bantu bagi yang bersangkutan.

Pepatah mengatakan, “di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Peribahasa tersebut mengatakan, perlu terlebih dahulu kondisi badan dan pula psikis seseorang diperhatikan, agar seseorang dapat membangun kondisi kejiwaan yang sehat. Di dalam beriman pun, diperlukan kondisi kejiwaan dan psikologis yang sehat, agar keseluruhan dan keutuhan diri, bisa menjadi
tempat di mana iman itu tertanam dan tumbuh subur. Yesus pun menggambarkan dalam Injil, bahwa untuk beriman orang perlu sembuh atau orang ingin sembuh karena iman. Oleh karena itu,
iman yang sehat mensyaratkan pribadi yang sehat.

T. Krispurwana Cahyadi, SJ

HIDUP NO.05 2020, 2 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here