Hari Lingkungan Sedunia 2020, Imam Yesuit Australia Berikan Refleksi

32
Dok. Jagran Josh
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COMKampanye global Hari Lingkungan Sedunia 2020 bertujuan untuk menyoroti keterkaitan manusia dengan alam. Kualitas hidup manusia ditentukan dengan relasi hidup manusia bersama alam ciptaan. Peristiwa alam yang menghenyak hidup manusia, mulai dari kebakaran hutan di Brasil dan Australia hingga wabah Covid-19 menciptakan tantangan yang belum pernah terjadi. Krisis juga mencerminkan hubungan kita satu sama lain dan bagaimana tindakan dan peristiwa di satu bagian dunia mempengaruhi kita semua. Hal Ini juga menyoroti kebutuhan akan kerjasama dan koordinasi internasional dalam menanggapi tantangan yang ditimbulkan oleh degradasi lingkungan.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyerukan kepada pemerintah, sektor bisnis dan masyarakat sipil untuk bekerja sama dalam membangun pemahaman global tentang keanekaragaman hayati dan kontribusi utama alam bagi kelangsungan hidup manusia. Untuk itu pada tanggal 5 Juni 2020 ini, mari kita berefleksi dan bergerak bersama memelihara alam ciptaan. Berikut renungan Pastor Andrew Hamilton, SJ yang menulis untuk Jesuit Communications dan Jesuit Social Services:

Pastor Andrew Hamilton, SJ

Memikirkan beberapa hari kedepan sepertinya terlalu sulit. Tahun ini, banyak orang mungkin menganggap Hari Lingkungan Hidup Sedunia terlalu besar bagi pikiran yang masih menyesuaikan diri dengan kebakaran hutan dan virus korona. Peristiwa besar ini telah mereduksi dunia menjadi jalan sempit akibat pembatasan sosial. Lingkungan menjadi terlalu besar untuk dipikirkan dan dunia terlalu sulit untuk dibayangkan. Kekhawatiran dan ruang berpikir seolah menyempit.

Meskipun demikian, kita harus menyadari bahwa virus korona telah menarik perhatian kita di luar kepedulian lokal terhadap agungnya lingkungan hidup. Beragam triliunan virus telah menjajah sel-sel makhluk hidup. Beberapa diantaranya memang memberi kita kesedihan. Perubahan lingkungan manusia ini, termasuk intrusi manusia ke habitat hewan liar, memungkinkan virus untuk menembus sel-sel kita dengan konsekuensi yang tak terhitung. Virus itu sendiri tampaknya telah berpindah dari hewan ke manusia di tempat-tempat orang memakan daging hewan liar. Dalam kasus virus, kurangnya rasa hormat kita terhadap lingkungan alami tempat kita menjadi bagian telah menghancurkan lingkungan manusia.

Virus korona juga telah memfokuskan perhatian manusia pada lingkungan. Mengarahkan manusia memikirkan bagaimana cara pandang paling baik untuk membentuk hubungan manusia dengan alam ciptaan. Hari Lingkungan Hidup Sedunia mendorong kita untuk merenungkan relasi ini juga. Di dunia manusia, keserakahan laksana virus yang memengaruhi masyarakat dan menghancurkan rasa hormat kita terhadap lingkungan. Hal Ini menghancurkan jaringan yang kaya dan rumit dari relasi yang membentuk manusia menjadi komunitas di mana semua orang sebenarnya dipanggil untuk hidup makmur.

Penghancuran Ini dimulai dengan mengubah manusia menjadi pesaing jahat terhadap satu sama lain. Seperti halnya virus korona, keserakahan adalah tusukan yang menembus dan memasuki sel-sel roh manusia dan mempersenjatai diri dengan sesama. Ini menuntun manusia untuk menduplikasi efek keserakahan pada semangat mereka dalam berinteraksi dengan dunia, sehingga menghancurkan rangkaian hubungan halus untuk menjaga keseimbangan dan mendukung kehidupan manusia.

Virus keserakahan telah menghancurkan lingkungan dengan menghasilkan ketidaksetaraan besar, di mana sebagian orang mengumpulkan kekayaan luar biasa sementara yang lain hidup dalam kemiskinan. Eksploitasi alam menyebabkan polusi saluran air dan penghancuran mata pencaharian masyarakat. Kondisi ini memiskinkan banyak orang. Dampak kemiskinan ini pun mendorong manusia untuk menekan lingkungan seperti menghancurkan vegetasi untuk kayu bakar dan berkerumun bersama di perumahan yang padat. Hal demikian telah menciptakan kondisi untuk pemanasan global yang lebih parah.

Maka, Hari Lingkungan Sedunia sangat penting untuk diingat ketika kita berpikir untuk membangun kembali masyarakat kita. Akankah kita membangunnya, dan pada akhirnya menghancurkannya, dengan meletakkannya pada keserakahan? Atau akankah kita membangunnya dengan menghormati lingkungan tempat kita semua menjadi bagian di dalamnya? Di Jesuit Social Services, kami berkomitmen untuk memastikan bahwa program, praktik, hubungan, dan refleksi kami mewujudkan penghormatan kepada lingkungan itu.

Felicia Permata Hanggu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here