Hentikan Unjuk Rasa untuk George Floyd!

105
Para pemimpin agama Kristen berlutut dalam doa untuk George Floyd (Dok. Vatikan Media)
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM— Aksi unjuk rasa kasus George Floyd tidak kunjung berakhir di Amerika Serikat. Beberapa aksi ini malah berubah menjadi kerusuhan dan konflik antar masyarakat dengan pihak kepolisian. Setidaknya lima orang tewas di tengah-tengah aksi ini.

Kejadian ini membuat Presiden Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian Kardinal Peter Turkson menawarkan perdamaian untuk kasus George Floyd. George meninggal pada tanggal 24 Mei 2020 karena mendapat tindakan kekerasan dari anggota kepolisiaan.

Seperti yang dilansir dari Vaticannews, 3/6,  Kardinal Turkson yang berasal dari Ghana ini menyadari bahwa rasisme merupakan fenomena sosial yang tersebar luas, dan dapat ditemukan tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di banyak bagian lain dunia. Ia merasa prihatin mendengar unjuk rasa ini menimbulkan korban lagi.

“Bagi kami sebagai warga Gereja, itu bertentangan dengan hal dasar yang kami yakini tentang pribadi manusia sejak penciptaan. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Setiap orang dijiwai dengan martabat yang berharga di hadapan Allah,” ungkapnya.

Kardinal Turkson mengutip perkataan dari adik alm. George Floyd mengenai  tindakan sipil tanpa kekerasan. “Saya disini untuk menyerukan aksi tanpa kekerasan, juga seruan untuk pengampunan. Jadi saya rasa ini cara terbaik menghargai memori George Floyd.”

Maka, Kardinal Turkson mendorong para uskup, imam, dan pemimpin Katolik lainnya di Amerika Serikat untuk bersatu dalam doa, terutama di beberapa kota yang tingkat kekerasannya tinggi. Daripada  ujuk rasa, Kardinal Turkson mengusulkan agar masyarakat mengadakan acara doa bersama atau mungkin doa lintas agama di sebuah tempat umum.

“Sebagai umat Gereja Katolik, yang bisa kita lakukan adalah berdoa untuk alamarhum George. Alangkah baiknya jika beberapa organisasi bisa menyelenggarakan acara doa bersama. Dengan ini, mereka diberi kesempatan untuk mengekspresikan kemarahan yang terpendam, tetapi dengan cara yang sehat, dengan cara yang religius, dengan cara yang menyembuhkan.”

Karina Chrisyantia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here