Mgr. Mandagi: Inti Pancasila dan Inti Hidup Tritunggal adalah Kasih

103
Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC (tengah) memimpin Misa Hari Raya Tritunggal Mahakudus didampingi Pastor Steven Warawarin (kiri) dan Diakon Erol Ohoduan (kiri)/Dok. Komsos Katedral Ambon
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COMPERAYAAN Hari Raya Tritunggal Mahakudus di Keuskupan Amboina dipimpin langsung oleh Uskup Amboina Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC dengan konselebran Pastor Steven Warawarin dibantu Diakon Erol Ohoduan.

Perayaan Ekaristi ini dirayakan secara online. Kendati demikian, ada beberapa umat dan petugas liturgi yang hadir dalam Misa yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Kota Ambon, Minggu, 7/5/2020.

Dalam khotbahnya, Mgr. Mandagi kembali mengingatkan umat akan peran Pancasila sebagai ideologi bangsa. Mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo dalam Perayaan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2020, di Istana Kepresidenan Bogor, Mgr. Mandagi mengatakan Pancasila adalah bintang penjuru yang menggerakan semua pihak dalam menghadapi ujian pandemi Covid-19 saat ini.

Dalam pemikiran Presiden Joko Widodo, lanjut Mgr. Mandagi, Pancasila harus mewarnai kebijakan republik ini. Pancasila harus merupakan ukuran kekuatan bagi Bangsa Indonesia dalam menghadapi setiap persoalan baik di masa lalu, masa sekarang khususnya persoalan pandemi, dan masa yang akan datang.

Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC sedang berkhotbah/Dok. Komsos Katedral Amboina

Pancasila dan Tritunggal

Menarik makna Pancasila dalam konteks perayaan Tritunggal Mahakudus, Mgr. Mandagi merefleksikan bahwa kasih adalah pengikat erat Pancasila. Kasih juga mewarnai hidup dan Allah Tritunggal Mahakudus.

Bila Pancasila itu hilang, bangsa ini remuk, bangsa kehilangan ideologi yang mempersatukan. “Bagi saya, inti dari Pancasila adalah kasih. Ada relasi kasih kepada Allah (sila pertama). Dalam kasih yang bersumber kepada Allah ada rasa kemanusiaan (sila kedua), ada persatuan (sila ketiga), ada kerakyatan (sila keempat), dan keadilan sosial (sila kelima),” ujar Mgr. Mandagi.

Ia menambahkan, kasih yang adalah inti dari Pancasila, juga merupakan inti hidup Allah Tritunggal: Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus. “Hidup Allah Tritunggal diwarnai dengan kasih,” jelasnya.

 Ragam Persoalan

Kendati Pancasila sebagai dasar negara dan relasi kasih Tritunggal mewarnai hidup umat Katolik, Mgr. Mandagi menyayangkan bahwa masih banyak persoalan bangsa, baik dalam keluarga, masyarakat, Gereja, agama, dan bangsa.

Mgr. Mandagi menjelaskan, saat ini ada perselisihan antar kelompok. Hal ini membuat ada rasa ketakutan yang berlebihan. Di dalam keluarga ada perpecahan antar suami isteri, antara orang tua dan anak. Tidak ada damai dalam keluarga. “Ada ketakutan, surga dalam keluarga telah hilang. Yang ada hanya neraka yang ditandai dengan saling curiga, saling dendam, saling dusta, saling munafik,” ungkap Uskup Mandagi.

Bukan saja dalam keluarga tetapi juga dalam Gereja Katolik. Tidak jarang dalam paroki ada perpencahan. Ada persaingan yang tidak sehat antar kelompok kategorial. Ada pertentangan, saling merendahkan, dan meremehkan. Beberapa kelompok kategorial merasa superioritas yang akhirnya menjadi sombong.

Seringkali juga, kata Mgr. Mandagi, perselisihan terjadi dalam kehidupan membiara. Ada pertentangan dalam diri kaum biarawan biarawati. Ada pengelompokan antar suku atau budaya. “Hal ini terjadi juga dalam kehidupan para imam. Ada pertentangan antara imam biarawan dan projo. Saling merendahkan dan meremehkan sehingga umat akhirnya hidup dalam pengkotakkan.”

Dalam konteksn Gereja, pertentangan terjadi dalam Gereja Kristiani. Ada Gereja Katolik dan Protestan dengan banyak cabang. Seringkali terjadi perpecahan dan masing-masing mengklaim sebagai Gereja Kristus yang benar. Masing-masing mengklaim keselamatan ada dalam diri saya dan tidak ada dalam diri orang lain.

Sementara dalam dalam relasi dengan agama lain, pertentangan dapat dilihat dari usaha merendahkan martabat dan saling menyerang tidak saja dengan kata-kata tetpai juga dengan kekerasan. Sebagaimana yang pernah terjadi di Maluku beberapa tahun lalu.

“Saya rasa Allah Tritunggal sangat sedih karena tidak ada damai di bumi. Maka itu, baiknya kita kembali kepada Tritunggal seperti pesan Kristus, ut omnes unum sint, ‘supaya mereka semua menjadi satu,’ dapat mewarnai hidup orang Kristen. Bahwa sesama kita baik yang satu agama ataupun berbeda agama adalah saudara dalam kasih,” pesan Mgr. Mandagi.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here