Mengenal Sisa-sisa “Umat Pilihan” di Negeri Salamahu, Masohi, Maluku Tengah

349
Pastor Pius Lawe SVD saat merayakan Ekaristi di Gereja Stasi Salamahu, Paroki St Yohanes Penginjil Salamahu/Dok. Pribadi
Mengenal Sisa-sisa “Umat Pilihan” di Negeri Salamahu, Masohi, Maluku Tengah
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM-SEJAK dua hari, hujan terus memabasahi tanah merah Pulau Seram Selatan, Maluku Tengah. Rasanya sulit melakukan perjalanan turnei ke Stasi Salamahu di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, di tengah kondisi alam ini. Bukan persoalan rasa malas, tetapi jarak tempuh sekitar 70-an kilometer dari Pusat Kota Masohi dengan ragam resiko. Untuk sampai di tempat terpencil ini, butuh perjuangan.

Kendati sulit dengan kondisi alam yang menantang, bahkan di tengah situasi pandemi, Kepala Paroki St. Yohanes Penginjil Masohi Pastor Pius Lawe SVD akhirnya tiba di tempat ini. Ditemani pak Bone Kabrahanubun, mantan Ketua DPP St. Yohanes Penginjil Masohi, KASAD Pol PP Kabupaten Maluku Tengah, Pastor Pius bersua kata dengan umat Stasi Salahamu.

Dengan mengendarai mobil Avansa yang disetir oleh Yapi Maurits, Pater Pius dan Pak Bone bergerak menuju stasi dalam kondisi hujan lebat. Sebelum tiba di Stasi Salamahu, rombongan turnei menyempatkan diri singgah di Stasi Yahalatan dan membagi bantuan sembako untuk kedua kalinya. Setelahnya perjalanan di lanjutkan ke Salamahu.

Pastor Pius Lawe SVD (kedua dari kanan) bersama umat Stasi Salamahu/Dok. Pribadi

Salahku, Salahmu, dan Salamahu

Mendengar nama Salamahu, orang Seram Selatan langsung berpikir akan sebuah tempat yang jauh. Akses ke sana juga kadang-kadang terbatas dan sulit. Pastor Pius bercerita, Salamahu, sebuah stasi dari 13 stasi yang masuk wilaya Paroki St. Yohanes Penginjil Masohi. Stasi ini tidak besar, dihuni hanya belasan kepala keluarga.

Dahulu di saat konflik horizontal antara Muslim dan Kristen di Maluku, daerah ini menjadi lautan api. Salamahu di masa itu porak-poranda. Terhimpit di antara perkampungan saudara-saudari Muslim, Salamahu menjadi sasaran kerusahan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di daerah terpencil ini.

Untuk bertahan hidup, umat Katolik yang kebanyakan berasal dari Flores dan Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, harus rela berjalan kaki puluhan kilometer melewati pegunungan yang tinggi selama lebih dari seminggu. Tidak saja itu, dalam perjalanan itu ada lansia dan anak-anak, bahkan balita. Itulah kenapa ada umat yang meninggal, ada juga yang sakit dan bertahan hidup hingga tiba di Desa Hatu.

Usai konflik berdarah antar pela gandong, banyak umat Salamahu memilih kembali ke tanah “putus pusar”: Flores dan Kei. Sebagian lagi menetap di Stasi Waipia hingga sekarang, tetapi ada juga keluarga yang memilih kembali ke Salamahu.

Mereka yang kembali harus berhadapan dengan kenyataan pahit yang memiluhkan. Di depan mata, rumah dan kampung, termasuk gereja terbakar habis. Mereka menyaksikan ragam atribut kekatolikan telah dilalap si jago merah. Mereka tidak saja kehilangan rumah ibadah, tetapi kehilangan harapan, kehilangan iman kepada Tuhan yang memberi hidup. Ada rasa kesedihan yang terekam dalam jejak perjuangan kembalinya “kaum buangan” ini.

Tetapi apa daya, mereka harus berjuang untuk bangkit. Mereka harus menguatkan hati untuk kembali meramu sejuta harapan yang sempat mengerdil karena kebencian iman. Untung bagi mereka orang-orang asli dari perkampungan Muslim dengan kerelaan menerima mereka. Dahulu mereka menjadi “mesin pembunuh” antar saudara, kini mereka menjadi bersaudara. Bila dulu kebencian membara atas nama agama, kini usaha menyulam persaudaraan terus digalakan.

Di Salamahu, asa persaudaraan terus membuih hingga mereka lupa sejarah kelam. “Sudah belasan tahun mereka telah hidup berdampingan bersama secara damai. Sudah belasan tahun pula mereka membangun sebuah tempat ibadah sementara dari bahan bambu dan kayu untuk beribadah. Luar biasa iman umat yang sederhana ini. Mereka bertahan meskipun kunjungan pastor tidak rutin akibat musim yang kurang bersahabat ditambah jangakauan wilayah yang luas dengan jumlah stasi yang banyak,” cerita Pater Pius.

Kini dendam dan kebencian di Salamahu hanya goresan cerita lisan yang dikisahkan turun temurn. Semua orang terpanggil untuk sadar bahwa kebencian pada akhirnya hanya sebuah malapetaka bagi pertumbuhan iman. Ada kesadaran bahwa salahku dan salahmu, harus berujung pada Salamahu yang maju.

Menyapa Salamahu

Di Paroki St Yohanes Penginjil Masohi, Salamahu memang bukan stasi terjauh. Stasi terjauh adalah stasi Naiwel di Seram Timur, sekitar 200-an kilometer dan Stasi Labuan Pulau Tujuh di wilayah Utara Seram sekitar 110 kilometer dari pusat Ibukota Maluku Tengah, Masohi.

Pastor Pius menjelaskan kunjungan kali ini untuk merayakan Ekaristi di kapela yang masih gubuk, dengan mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan. Ekaristi di meja perjamuan, sekaligus diwujudkan dengan ekaristi kehidupan, memberi bantuan dari umat yang sederhana untuk umat yang menderita.

Telah dua kali kegiatan pembagian sembako digalakkan di Salamahu. Salamahu barusan mendapat giliran di putaran ketiga. Tepatnya pada hari Pesta Tritunggal Yang Mahakudus, Minggu 7 Juni 2020.

“Saya sungguh mengalami ikatan cinta Allah Tritunggal Mahakudus dalam relasi cinta antara umat yang kecil dan menderita lewat bantuan yang tak seberapa. Maka pada kesempatan ini, atas nama umat Stasi Yahalatan dan Salamahu yang menerima bantuan, saya ucapkan terima kasih,” jelas Pastor Pius.

Pastor Pius bercerita, Salamahu adalah stasi yang “hidup engan mati tak mau”. Jumlah umat sudah sangat berkurang dibandingkan dengan keadaan umat sebelum kerusuhan. Tetapi mereka seakan menjelma sebagai umat pilihan yang mau terus berjuang demi iman akan Allah. Mereka seakan seperti cerita sisa-sisa umat Israel yang kembali dari pembuangan.

Kini, gedung gereja yang baru sedang dibangun. Tak perlu megah, asalkan nyaman untuk memuji Tuhan. Seorang tokoh, Paulus Paja, meski dalam usia uzur tampil sebagai penggerak bagi kawanan kecil ini. Paulus optimis bahwa dari kawanan kecil ini, akan muncul jiwa-jiwa yang membanggakan.

Preferential Option for To The Poor

Keadaan ekonomi umat rata-rata sederhana. Di masa pandemi Covid-19, mereka tetap saling memperhatikan. Persaudaraan dalam komunitas kecil, begitu nampak dan menjanjikan bagi keberadaan Gereja Katolik di stasi ini.

Bantuan gelombang ketiga kali ini diberikan oleh umat Katolik di pusat paroki. Keluarga-keluarga sederhana datang membawa entah gua pasir 5 kilogragm, kardus indomie, bimoli, beras, dan sebagainya. Mereka ingin berbagi di tengah pandemi dengan umat Salamahu yang menurut mereka sangat menderita di tengah pandemi.

“Penerima bantuan adalah para abang becak, buruh pelabuhan, buruh bangunan yang tak punya lahan untuk bercocok tanam, tukang ojek dan juga para petani yang juga tak punya lahan untuk menanam,” ujar Pastor Pius.

Pastor Pius menambahkan, dirinya membuat bantuan dari umat untuk umat agar memacu kemandirian umat dan cinta kasih yang lahir dari nurani yang tulus. Pastor Pius ingin umatnya menumbuhkan semangat kepedulian antar mereka. “Tidak harus menunggu bantuan dari luar komunitas yang lain atau dari Pemerintah dan Gereja. Mentalitas ‘mengharapkan bantuan’ dari pemerintah saja atau dari pengusaha besar saja, sebaiknya ditinggalkan supaya umat bisa memberi bahkan dari kekurangan,” demikian Pastor Pius.

Namun begitu, Pastor Pius percaya akan tiga hal. Pertama, memberi bantuan tak lain agar semakin menyadari pentingnya hidup dalam persaudaraan. Kedua, Ekaristi menjadi hidup nyata di dalam tindakan-tindakan karitatif. Dan juga ada kesadaran bahwa setiap orang harus belajar memberi dari kekurangan sekalipun. Ketiga, alam Pulau Seram sangat subur. Saatnya untuk menanam, bukan saja tanaman umur Panjang tetapi juga tanaman umur pendek. Pulau Seram bagian Selatan mengalami musim hujam hampir sepanjang tahun namun orang kebanyakan hanya hidup bergantung dari cengkeh, pala, coklat, durian, dan jenis buah-buahan yang lain. Tidak ada usaha berkebun dengan tanaman umur pendek.

Pastor Pius merefleksikan, semangat melayani ini tak lain sejalan dengan sikap Gereja lokal dan Gereja universal yang tertuang dalam semangat keberpihakan kepada orang miskin (preferential option for to the poor). “Hal ini juga sesuai dengan spiritulitas Serika Sabda Allah yang senantiasa membuat opsi terhadap orang-orang miskin dan berkekurangan,” ungkap Pater Pius.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here