Apoly Bala (4 Mei 1945-24 Januari 2020) : Berkarya dalam Diam

68
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dari generasi ke generasi, orang Nusa Tenggara Timur (NTT) akrab dengan lagu Mars Flobamora. Mars yang sudah mendunia. Lagu ini mengingatkan mereka pada tanah kelahiran Flores, Sumba, Timor, Alor (Flobamora). Meski lagunya seterkenal itu, tidak banyak yang mengenal penciptanya. Benarlah ungkapan klasik yang mengatakan, “Karya jauh melampaui penciptanya.” Dari “Kota Karang,” Kupang, pada 24 Januari 2020 terdengar kabar duka kepergian Apoly Bala, sang pencipta Mars Flobamora tersebut ke haribaan Ilahi. Patutlah orang seantero Flobamora menundukkan kepala untuk mengenang dan berdoa bagi keselamatan jiwa kelahiran Lembata, NTT, 4 Mei 1945 tersebut.

Melalui syair dan melodinya yang indah, umat Paroki Santo Yoseph Naikoten, Kupang tersebut telah membuat para perantau terkenang-kenang pada kampung halaman dan berikhtiar untuk pulang atau ikut ambil bagian dari jauh dalam membangun kampung halaman.

Berikut petikan lirik yang sangat terkenal itu: Flobamora tanah airku yang tercinta/ tempat beta dibesarkan ibunda// Meski sudah lama jauh di
rantau orang/ beta ingat mama janji pulang e..// Biarpun tanjung teluknya jauh terpele nusaku/ tapi selalu terkenang di kalbuku// Anak Timor main sasando dan bernyanyi bolelebo/ rasa girang dan
berdendang pulang e…//

Selain Mars Flobamora, lagu-lagu karya mantan Pembantu Rektor I Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang itu sangat familiar dalam berbagai peribadatan. Dia telah membawa umat yang mendengar lagu-lagunya mencintai Musik Liturgi dan Tuhan Sang Pencinta. Salah satunya
adalah lagu berjudul Cinta Kasih Allah dalam Puji Syukur nomor 659. Kecaplah lirik ini: Cinta kasih Allah dicurahkan di dalam hati umat-Nya, oleh Roh Ilahi sumber kekuatan yang dikaruniakan pada kita…

Arnold Denggong, salah satu mantan anak binaannya dalam Kor Sekarsari di Naikoten, Kupang mengenang Apoly sebagai komposer dan dirigen yang luar biasa, disiplin dan keras. “Dia tidak mau anggota kor tidak berkomitmen dan disiplin. Dia tidak mau juga ada banyak alasan. Untuk Tuhan, jangan banyak alasan katanya,” kenang Arnold yang sekarang menjadi umat Paroki Santa Clara, Bekasi Utara.

Penyair NTT, Agust Thuru menulis syair untuk Apoly: nadamu liukkan tifa sabana/ mengecup daun-daun cendana/ menarik segala pelatuk rasa/ melafal cinta Flobamora// Nadamu akan tetap abadi/ engkau akan tetap melantunkan nada/ pada sejuta jiwa yang mencinta//

Pada lagu tertentu, komposisi melodi dan musik Apoly terasa agung, membawa umat masuk dalam
keheningan dan merasakan hadirat Allah. Namun pada lagu yang lain, Apoly seperti sedang menari lincah nan enerjik di hadapan Tuhan. Lagu-lagunya acap dipadu dengan tarian diiringi alat musik gong, giring-giring dan gendang. Di sini terasa dengan nyaris sempurna liturgi yang inkulturatif, yang memang amat dicintainya.

Apoly banyak berkarya dalam diam dengan tujuan utama membangkitkan jiwa umat yang tidur dan malas. Dan sejak awal karyanya di bidang Musik
Liturgi, lagu-lagu ciptaannya sudah tersebar ke berbagai sudut negeri dan dunia ini, dinyanyikan oleh kelompok-kelompok Katolik diaspora di berbagai belahan dunia.

Selain sebagai dirigen, organis dan pencipta lagu, mantan Kepala Sekolah SMPK St. Yoseph Naikoten ini adalah anggota Dewan Paroki selama beberapa periode di Paroki Santo Yoseph Naikoten, Kupang. Dia sepertinya tidak mengenal lelah dalam urusan melayani Tuhan. Requiescat In Pace!

Emaunel Dapa Loka

HIDUP NO.06 2020, 9 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here