Usai Ditumbangkan Demonstran, Pelestarian Patung St. Junipero Serra Jadi Sasaran Misi

142
Patung Santo Junipero Serra dirusak di San Francisco terlihat pada 19 Juni 2020. Imam Fransiskan asal Spanyol ini mendirikan beberapa misi di tempat yang sekarang disebut California. | Dok.CNS / David Zandman
Usai Ditumbangkan Demonstran, Pelestarian Patung St. Junipero Serra Jadi Sasaran Misi
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COMUsai Patung St. Junipero Serra dirobohkan oleh para demonstran di California, Gereja Misi di Ventura, California yang didirikan oleh sang santo telah mengumumkan kembali untuk memelihara patung bersejarah tersebut. Bekerjasama dengan pejabat setempat dan pemimpin suku asli pemeliharaan akan diadakan. Rencananya, patung tersebut akan dipindahkan keluar kota Ventura Hall ke lokasi non-publik yang belum disebutkan.

Pengumuman itu datang beberapa hari sebelum patung St.Serra dirobohkan di Taman Gerbang Emas San Francisco pada 20 Juni silam. Tidak hanya patung sang santo, patung Francis Scott Key dan Ulysses S. Grant juga jadi sasaran amuk masa. Imam Gereja Misi San Buenaventura, Pastor Tom Elewaut juga memberikan pendapatnya. Ia mengaku banyak pihak yang tidak setuju dengan caranya menangani masalah tersebut. Meskipun demikian, ia menegaskan keputusan ini adalah hasil pernyataan bersama di mana penatua suku Chumash ingin patung tersebut tetap dilestarikan. “Kami bertiga yakin bahwa resolusi damai mengenai patung Pastor Junipero Serra dapat dicapai, tanpa wacana tidak beradab dan pembunuhan karakter, apalagi vandalisme, ” tulis para pihak dalam pernyataan bersama pada 18 Juni lalu.

Meskipun para pemrotes berunjuk rasa dan dilaporkan menyerukan agar patung itu diruntuhkan, para tetua suku Chumash bersikukuh bahwa mereka menginginkan solusi damai. Di seluruh negeri, para pemrotes dan perusuh pekan ini telah merobohkan patung-patung tokoh bersejarah — beberapa menggambarkan tokoh Konfederasi, sebagai bagian dari seruan untuk mengakhiri rasisme sistemik. Diketahui beberapa aktivis California memandang St. Serra, seorang misionaris Fransiskan abad ke-18 ini, telah berkontribusi pada penghancuran cara hidup penduduk asli Amerika melalui pendirian sembilan gereja misi California pertama. Namun, banyak penulis biografi sang santo membantah klaim tersebut.

Pastor Elewaut, mengatakan dalam homilinya di hari Minggu bahwa walaupun benar banyak penduduk asli Amerika meninggal setelah kontak dengan orang Eropa, tetapi kebanyak kematian itu akibat penyakit.  Ia juga membantah gagasan bahwa St. Serra menciptakan komunitas mirip dengan “kamp konsentrasi” untuk penduduk asli. “St.Serra ingin membagikan apa yang benar-benar ia yakini sebagai hadiah agung dari agama Kristen, agama Katolik, kehidupan sakramental,” tegas imam itu. Paus Fransiskus sendiri mengkanonisasi Serra di Washington, D.C. pada 23 September 2015, dengan mengatakan bahwa Junípero berusaha membela martabat komunitas asli, untuk melindunginya dari pihak yang telah melecehkannya.

St. Serra berperan penting dalam mendirikan sembilan dari 21 misi pertama di California. Banyak di antara daerah misinya sekarang menjadi kota-kota terbesar di negara bagian Amerika Serikat ini, seperti San Diego, San Francisco, dan Los Angeles. Berasal dari Petra Mallorca di Spanyol, ia adalah seorang sarjana terkenal yang melepaskan karier akademisnya untuk menjadi seorang misionaris di Amerika Utara.

St. Serra tiba di Mexico City pada 1750, memasuki wilayah Spanyol Baru. Spanyol telah berada di Amerika Utara selama lebih dari 200 tahun pada saat itu, setelah penaklukan Hernan Cortez atas Kekaisaran Aztec pada 1521. Sementara banyak aktivis hari ini mengaitkan sang santo dengan pelanggaran yang diderita penduduk asli Amerika, biografi dan catatan sejarah menunjukkan bahwa ia sebenarnya mengadvokasi atas nama penduduk asli melawan militer Spanyol dan menentang perambahan pemukiman Eropa.

Uskup Agung San Francisco, Mgr. Salvatore Cordileone dari San Francisco bahkan memuji semangat misionaris suci itu, “St. Junipero Serra telah menawarkan kepada penduduk asli  hal terbaik yang ia miliki, yakni pengetahuan dan cinta Yesus Kristus melalui pendidikan, perawatan kesehatan, dan pelatihan seni agraria bersama rekan-rekannya. ”

Felicia Permata Hanggu

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here