Ketika Manusia Kehilangan Rasa Santun terhadap Bumi dan Penghuninya

216
Ensiklik Ladato Si' (ist)
Ketika Manusia Kehilangan Rasa Santun terhadap Bumi dan Penghuninya
3.5 (70%) 4 votes

HIDUPKATOLIK.COM Pernahkan Anda memikirkan siapa dan apa saja yang terlibat dalam secangkir teh hangat yang hadir di cangkir Anda?

Ada petani yang menanam daun-daun teh itu tentu saja, juga pedagang yang menjualnya kepada kita. Namun selain itu, ada cacing dan berbagai mikroorganisme yang berada di dalam tanah dan menjadikannya subur. Ada awan, hujan, dan air sungai sebelum menjadi air minum. Begitu banyak keterlibatan alam semesta dalam secangkir teh yang sederhana.

Paus Fransiskus melalui Ensiklik Laudato Si’ (2015) menyinggung konsumerisme dan pembangunan yang tak terkendali, menyesalkan terjadinya kerusakan lingkungan dan pemanasan global, serta mengajak semua orang di seluruh dunia untuk mengambil “aksi global yang terpadu dan segera”.

Namun jauh sebelum itu, Gereja dan imam Katolik di seluruh dunia sudah lama aktif terlibat dalam upaya merawat bumi dan lingkungan hidup yang dalam ensiklik tadi disebut dengan “saudari kami, Ibu Pertiwi”, yang menyuapi dan mengasuh umat manusia, menumbuhkan aneka ragam pohon, buah-buahan, serta bunga berwarna-warni.

Kepedulian terhadap alam dan lingkungan hidup ini dibahas dalam kuliah daring ke-25 Paguyuban Dosen Katolik Universitas Indonesia, Kamis, 30 Juli 2020 malam, dengan judul “Berguru pada Bumi: Refleksi Bersama Thomas Berry CP” yang dibawakan oleh Ferry Sutrisna Widjaja. Hadir dalam acara melalui aplikasi Zoom ini sekitar 50 peserta, terdiri dari dosen UI, imam dari beberapa keuskupan, dan umat pemerhati lingkungan hidup.

“Kalau bumi menjadi tidak ramah terhadap kehadiran manusia, itu terutama karena manusia telah kehilangan rasa santun terhadap bumi dan penghuninya. Penting bagi kita untuk peduli pada bumi, planet tempat kelahiran kita dan tempat kita diberi makan, dibimbing, disembuhkan, walaupun kita telah melukainya sedemikian rupa selama dua abad melalui eksploitasi industri,” demikian dikutip oleh Ferry dari buku The Dream of the Earth karangan Thomas Berry.

Thomas Berry masuk Ordo Passionis (CP) setamat SMA di usia 20 tahun, secara akademis adalah seorang sejarahwan budaya yang mempelajari budaya dan agama-agama di Tiongkok, India, suku-suku Indian Amerika, dan shamanisme. Namun demikian, Thomas lebih menamakan dirinya sebagai kosmologis, geologiwan, atau sarjana kebumian, daripada teolog lingkungan hidup.

Lima buku karangan Thomas yang dijadikan rujukan dalam kuliah ini adalah: The Dream of the Earth (1988), Evening Thoughts (2006), The Christian Future and the Fate of Earth (2009), The Great Work (1999), dan The Sacred Universe (2009).

 “Saat ini kita memasuki periode sejarah lain yang mungkin disebut zaman ekologis. Saya menggunakan istilah ekologis dalam pengertian utamanya sebagai suatu hubungan antara organisme dengan lingkungannya, namun juga sebagai sebuah tanda saling ketergantungan seluruh sistem yang hidup di bumi.” Demikian cuplikan penting lainnya dari buku The Dream of the Earth.

Thomas mengingatkan bahwa prinsip kosmos adalah keterhubungan. Cirinya adalah diferensiasi (keanekaragaman ciptaan), interioritas (semua ciptaan memiliki keunikan dan mengandung keilahian), dan komunio (semua ciptaan yang berbeda-beda dan unik tersebut hidup dalam keterpaduan). Keberagaman alam ciptaan adalah ekspresi Allah Tritunggal. Karenanya hormat terhadap keberagaman dan menerima keunikan tiap ciptaan dalam alam semesta adalah ungkapan hormat kepada Allah Sang Pencipta, mengingat ada yang batiniah dan ilahi dalam setiap ciptaan di alam semesta ini. Semua realitas yang ada di alam semesta, setiap atom, setiap potong rumput, setiap nafas, setiap gelombang udara, hidup dalam persekutuan yang bersifat spiritual dengan semua realitas lainnya.

Dalam buku The Sacred Universe, Thomas menulis bahwa para pemimpin spiritual di zaman modern gagal mengenali bahwa isu dasar bukan hubungan antara yang ilahi dengan manusia atau antar manusia, melainkan hubungan antara manusia dengan bumi dan seluruh alam semesta. Karena itu kita perlu bergerak dari spiritualitas yang terasing dari dunia alam menuju suatu spiritualitas yang intim dengan dunia alam.

Stanislaus Ferry Sutrisna Widjaja lahir di Bandung, 1961, ditahbiskan sebagai imam diosesan Keuskupan Bandung tahun 1990. Lulus dari S1 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, ia melanjutkan S2 Pastoral Studies East Asian di Pastoral Institute Ateneo de Manila University, dan S3 Pendidikan Nilai di Universitas Pendidikan Indonesia.

Saat ini Ferry mengajar di Unpar dalam mata kuliah Ortodoksi dan Masalah Sosial, Teologi Pastoral, dan Manajemen Pastoral. Ia aktif di pendidikan lingkungan hidup, bekerja dan tinggal di Eco Camp, sebuah lembaga lintas-agama yang didirikan oleh Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup sejak tahun 2002.

Paguyuban Dosen Katolik Universitas Indonesia (UI) dicetuskan oleh Adrianus Meliala (Guru Besar di bidang kriminologi dan kepolisian) tahun 2010 sebagai wadah untuk mengumpulkan sekitar 130 orang Dosen Katolik di semua fakultas UI termasuk 24 Guru Besar. Kegiatannya adalah kuliah lintas ilmu minimal sekali seminggu, dan misa setiap bulan. Karena wabah Covid-19, maka semua kegiatannya sekarang dilakukan secara daring.

Cosmas Christanmas/Emilia Jakob

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here