115 TAHUN MISI DI KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE: PERMULAAN GEREJA MISI-BAPTISAN PERTAMA 1905 (BAG. 2)

57
Pastor Mathias Neijens MSC/Dok, MSC
115 TAHUN MISI DI KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE: PERMULAAN GEREJA MISI-BAPTISAN PERTAMA 1905 (BAG. 2)
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM DALAM buku, “Menelusuri Jejak Misionaris di Papua Selatan,” Pater Willem Hanny Rawung MSC menulis: kehadiran Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) adalah merawat benuh iman di wilayah itu, sebab Serikat Yesuit telah mendahului menanam benih imam. Tahun 1892, misi awal di Selatan Papua diperkenalkan oleh Pater Van der Heyden SJ.

Dari Jesuit ke MSC

Tahun 1859 para pastor Yesuit pertama tiba di Pulau Jawa. Mgr Adam Charles Claessens yang ketika itu diangkat menjadi Vikaris Apostolik Batavia berkesimpulan bahwa misi nusantara harus diperluas. Sang Vikaris lantas mengambil langkah berani. Ia mengutus Misionaris Jesuit untuk mulai memikirkan kemungkinan membuka misi di wilayah Irian Barat.

Serikat Yesus lalu memulai mencoba meretas kemungkinan ini dengan mulai membuka karya di Tual, Maluku, di sebelah timur Irian pada 1888. Pastor Yohanes Kuster, SJ menjadi perintis misi di tempat ini. Saat itu, bagi sebagian besar misionaris asing, wilayah Irian Barat masih jarang terdengar. Dalam setiap diskusi, nama Irian Barat pun jarang muncul.

Keberanian Misionaris Jesuit pun berbuah. Dari Tual, Maluku Tenggara, Pastor Kuster mengirim Pastor C. van der Heyden, SJ untuk berlayar ke Irian Barat. Dalam perjalanan ini kapal yang ditumpanginya terbakar di Pelabuhan Skroe, Fak Fak. Ia merupakan misionaris pertama yang menetap di Irian Barat selama tiga minggu.

Misi di Irian Barat dilanjutkan pada tahun 1891 saat pemerintah memberi izin kepada Gereja untuk bekerja di sana. Vikaris Apostolik Batavia mengutus Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, SJ ke Irian Barat. Ia mendarat di pada 22 Mei 1894. Sejak itu, ia lalu mulai merintis sekolah dengan 16 murid.

Sejarah Gereja di Nusantara sampai di sebuat titik penting saat Vikariat Apostolik Batavia dipecah menjadi dua wilayah pada 22 Desember 1902. Wilayah sebelah timur Sulawesi dijadikan Prefektur Apostolik Nederland Nieuw Guinea. Karya di wilayah ini kemudian diserahkan imam-imam SJ kepada imam dari MSC. Di Langgur, Pastor Serikat Yesus menyerahkan karya kepada imam-imam MSC. Segera setelah itu Misionaris Keluarga Kudus tiba di Merauke dan mendirikan stasi pertama di Irian Barat tahun 1905.

Karya MSC Pertama

Dalam catatan Uskup Agung Merauke (1972-2004), Mgr. Jacobus Duivenvoorde berjudul, “Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan” yang diterbitkan oleh Keuskupan Agung Merauke (KAMe) menulis bahwa sejak keterpisahan ini, misi di Selatan Papua diawali Pater Mathias Neijens, MSC tahun 1904. Saat itu Pater Neijens sebagai Prefek Nederland Nieuw Guinea.

Br.Melkior Oomen MSC/Dok. MSC

Dalam buku Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan, Mgr. Jacobus Duivenvoorde, MSC menulis, Pater Neijens adalah misionaris MSC pertama Belanda yang mengunjungi Merauke. Dalam kisahnya, la berjalan sendirian, tanpa senjata apapun. Mukanya riang saat mendekati pria dan wanita suku Malind. Ia berjabatan tangan dengan mereka dan membagikan manik-manik kepada anak-anak. Dia meminta nama-nama mereka. Kemudian mulai mengobati dan merawat luka-luka dari orang yang sakit tanpa mengharapkan imbalan apapun dan sungguh baik hati.

Pater .Henri Nollen MSC/Dok. MSC

Anak-anak memanggilnya “Bapak bertopi putih”, dan ketika dirinya hadir, mereka berlari menyambutnya. Mereka memegang tangannya, meraba-raba pakaian, dan jenggot putihnya. Mereka berebutan mendapat kehormatan untuk membawa kotak obat dan kotak manik-manik ke kampung. Pater Neijens pantas dihormati, tidak saja di Selatan Papua. Ia juga menyebar agama Katolik di Kepulauan Tanimbar, Maluku.

Buah “Pertama” Misionaris MSC

Setahun berikutnya, tepatnya 14 Agustus 1905, menyusul Pater Henri Nollen, MSC dan Pater Philipus Braun, MSC dan dua orang Bruder yaitu Br. Adrian van Roesel, MSC dan Br. Melchior Oomen, MSC. Mereka adalah misionaris pertama. Tujuan para misionaris waktu itu mewartakan kekayaan Kristus yang tak terduga itu kepada kaum kufur dan membuat terang bagi segala orang rencana Allah, sehingga berani mendekati Allah dengan penuh kepercayaan karena iman dengan harapan bahwa kita berakar dan beralas dalam cinta kasih Kristus. Mereka dibantu oleh pemerintah untuk membangun rumah tinggal.

Br. Adrian Van Rossel MSC/Dok. MSC

Mereka membangun rumah, membuka kebun sedikit di luar kota kecil Merauke, tepatnya di sebelah Gereja Katedral sekarang ini. Kedekatan mereka dengan pihak pemerintah membuat kepala pemerintahan setempat dan pegawai memberikan bantuan. Rumah dibangun dengan bahan setempat dan amat sederhana. Perabotnya hampir tidak ada dan makanan yang dihidangkan pun ala kadarnya.

Pater .Philipus Braun MSC/Dok. MSC

Pada musim hujan sebagian besar Merauke digenangi air dan nyamuk-nyamuk mengganggu tak tertahankan. Dengan gembira mereka terus mewartakan. Pada 19 November 1905, diadakan Misa pertama di Merauke. Dan pada pesta Natal pada tahun yang sama, seorang bayi dipermandikan karena berada dalam bahaya maut. Dari seorang bayi yang dipermandikan itu, akhirnya Gereja, benih iman terpancar di seluruh wilayah ini.

Yusti H. Wuarmanuk/Felicia P. Hangu (Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here