TANTANGAN MISI: TRADISI BERBURU KEPALA DAN FLU SPANYOL TAHUN 1913-1925 DI MERAUKE (BAG. 3)

94
Pater Vertenten MSC dan seorang pemimpin Suku Marind di Merauke/Dok. MSC
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM-TAHUN 1908 para misionaris menyeberangi sungai dan tiba di Wendu, Merauke lalu berhasil melanjutkan perjalanan dan tiba di Okaba, Merauke pada 1910. Mereka yang tiba adalah Pater Jos van der Kolk, MSC serta Br. Norbert Hamers, MSC. Para misionaris yang ada ini berusaha untuk belajar bahasa yang rumit, berusaha menghalangi pihak-pihak yang suka mengayau (tradisi potong kepala) serta berusaha mengobati masyarakat setempat.

Namun demikian, masyarakat yang awalnya bersahabat berubah menjadi kurang simpati. Hal ini disebabkan karena masyarakat merasa bahwa para misionaris bekerja sama dengan pemerintah untuk menghilangkan praktek mengayau yang sudah ada dalam masyarakat setempat. Karena kebencian ini, mereka mulai saling menghasut sesamanya untuk tidak lagi percaya kepada para misionaris seperti dengan mengatakan bahwa air permandian itu mematikan bayi-bayi karena mengandung racun.

Pada 1913, pemerintah Belanda secara tegas berusaha menghentikan praktik mengayau yang dilakukan masyarakat di pantai Selatan. Tengkorak-tengkorak dikumpulkan dan dibakar serta para kepala perang dipenjarakan dan dikirim ke Ambon. Namun setelah itu, muncul suatu penyakit menular yang ganas. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan intim. Bagi masyarakat, penyakit itu dibuat oleh dukun-dukun yang jahat serta anggapan bahwa hal itu merupakan kutukan dari dewa-dewa karena mulai meninggalkan adat mereka (mengayau).

Masyarakat yang sakit dirawat di rumah sakit yang ditangani oleh Pater Johanes van de Kooy, MSC dan beberapa wanita dari Belanda. Sementara orang yang masih sehat dikumpulkan dalam suatu tempat yang dinamakan “Desa Teladan” di bawah komando Pater Vertenten MSC. Dari desa ini, lahirlah bayi-bayi yang sehat. Di dalam desa ini juga, segala perhiasan dan pakaian adat dilepaskan. Pakaian-pakaian mulai dijahit untuk mereka. Jumlah penghuni “Desa Teladan” semakin bertambah. Pada 1919 tercatat terdapat 100 keluarga.

Pada saat Perang Dunia I, tidak ada misionaris yang datang ke Merauke. Hal ini merupakan sebuah awal yang buruk. Tenaga berkurang, kebrutalan dari warga desa meningkat serta bahan makanan menipis. Dengan demikian, “Desa Teladan” menjadi kacau. Dengan kondisi seperti ini, para misionaris kehilangan harapan dan berniat pergi meninggalkan Merauke. Untunglah pada 1914 datang seorang dokter yakni dr. Sitanala. Ia memahami keadaan misi serta berhasil menemukan obat yang tepat untuk mengobati penyakit yang selama ini melanda masyarakat.

“Kampung Teladan” di Merauke kini/Dok. Pribadi

 Wabah Flu-Spanyol (1918-1921)

Namun demikian masalah belum selesai. Pada 1918 muncul wabah flu-Spanyol. Seperempat dari jumlah penduduk di setiap kampung meninggal dunia. Karena situasi ini, Pater Vertenten meminta bantuan kepada pemerintah. Bantuan pemerintah baru datang pada 1920. Pemerintah membantu pihak Gereja dan meminta pemerintah setempat untuk mengawasi program yang dijalankan seperti pembangunan Desa Teladan di beberapa tempat (Merauke, Okaba, Kumbe dan Wambi). Pemerintah juga mengirimkan seorang dokter ahli penyakit kelamin yakni dr. Cnopius.

Hutan nan lebat dan arus sungai deras di Tanah Papua tak henti menantang para misionaris untuk dapat sampai ke dalam. Jalan berbatu dan licin tak menyurutkan langkah mereka bertatap muka dengan masyarakat asli pedalaman.

Saat akhirnya sampai di pedalaman, misionaris-misionaris ini mendapati masyarakat Papua yang hidup terpencil dengan cara hidup homogen. Berburu dan mengambil hasil bumi dari hutan merupakan cara masyarakat asli pegunungan Papua menyambung hidup. Tak pernah terlintas dalam benak masyarakat asli bertatap muka dengan orang dari daerah lain. Bagi mereka, kedatang an misionaris asing bak dongeng yang ceritanya akan diulang turun-temurun.

Yusti H. Wuarmanuk

Dari berbagai sumber

1 COMMENT

  1. Foto ttg kampung teladan mungkin perlu dikoreksi krn di merauke tidak ada bukit2 dan gunung, sebagai daerah pesisir pantai disini daerahnya berlumpur dan dataran rendah, trims

Leave a Reply to Peter letsoin Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here