60 TAHUN HIDUP MEMBIARA TIGA KONFRATER MSC: BIAR MEREKA MAKIN ‘BESAR’ DAN KAMI MAKIN ‘KECIL’

168
Foto: (Kiri-Kanan) Pastor Lambertus Somar, MSC; Pastor Titus Rahail, MSC; Pastor Johanis Benjamin Mengko, MSC
60 TAHUN HIDUP MEMBIARA TIGA KONFRATER MSC: BIAR MEREKA MAKIN ‘BESAR’ DAN KAMI MAKIN ‘KECIL’
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM– TANGGAL 22 Agustus 2020 menjadi hari istimewa bagi Tarekat Hati Kudus Yesus (Societas Missionariorum Sacratissimi Cordis Jesu/MSC) Indonesia. Ada tiga momen penting yang dirayakan yaitu perayaan 60 tahun berdirinya Scolastikat MSC Pineleng, Manado. Pengakuan resmi negara kepada Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, lembaga pendidikan bagi para calon imam MSC dan Diosesan. Selain itu, tiga konfrater senior, merayakan 60 tahun hidup membiara. Mereka adalah Pastor Lambertus Somar, MSC; Pastor Titus Rahail, MSC; dan Pastor Johanis Benjamin Mengko, MSC.

Pastor Somar, Pastor Mengko, dan Pastor Titus adalah benih-benih iman pribumi, peletak dasar bagi karya misionaris MSC Indonesia. Ketiganya memulai hidup membiara pada 22 Agustus 1960, saat di mana Gereja Indonesia sedang dalam peralihan dari Gereja misi menuju Gereja mandiri lewat pendirian hierarki (1961), sekaligus berposes dalam situasi pembaharuan Konsili Vatikan II (1962-1965).

Pastor SomarEnggan Melepas

Dalam masa-masa ini, kata Pastor Somar, menjadi calon imam itu sangat istimewa. Dahulu Gereja Katolik Indonesia milik warga non-pribumi, keterlibatan kaum awam pribumi hampir dihitung dengan jari. Orang-orang Eropa menjadi kelas utama dalam Gereja, termasuk keputusan-keputusan penting. “Saya menyaksikan bagaimana orang-orang pribumi diperhatikan oleh Tarekat MSC. Mereka dikirim ke wilayah Indonesia Timur yang penuh kejutan baik alam maupun budaya dan wataknya untuk menebarkan jala iman,” ujar pastor yang ditahbiskan di Tomohon, Sulawesi Utara, 21 April 1964.

Ia menambahkan, sebagai anak seorang misionaris awam di Papua yang dididik oleh misionaris MSC, ia makin terpanggil mencintai panggilannya. Melihat para misionaris MSC di Papua dan Maluku Pastor Somar menemukan sebuah keutamaan hidup. Para misionaris sekali ditolak tak pernah kapok. Mereka akan terus mendatangi daerah itu sampai diterima. Bila sudah menetap, mereka enggan untuk kembali ke Eropa.

 

 

“Mereka datang, dan tidak lagi pikir pulang. Sekali mencintai, enggan melepas. Begitu harusnya para imam zaman sekarang. Sekali mencintai panggilan, susah melepaskannya seperti Kristus,” harap Pastor Somar

Pastor Somar mengatakan dirinya dan dua konfrater lainnya bukan MSC yang sempurna, tetapi terus berusaha menjadi lebih baik. Ketiganya bukan imam ideal, tetapi berusaha mengisi kesempurnaan itu dengan hal-hal positif. Caranya adalah bekerja keras membantu orang lain agar menjadi orang-orang hebat. “Kami berjuang biar orang lain yang menjadi besar. Menjadi MSC itu harus membuat orang lain menjadi besar. Jika tidak, Anda bukan MSC yang sebenarnya,” tegas Pastor Somar.

Pastor Titus: Merayakan Keterbatasan

Senada dengan itu, Pastor Titus Sr, menambahkan ada satu sukacita besar menjadi konfrater MSC yaitu selalu berusaha tampil dalam situasi sukacita. Kalau tidak bahagia menjalani panggilan, jangan pernah berpikir merayakan 60 tahun hidup membiara. Dalam kesempatan lain, Pastor Titus pernah mengatakan, “Merayakan hidup membiara berarti bukan merayakan keberhasilan sebagai seorang imam, tetapi kita merayakan keterbatasan kita sebagai manusia yang dipanggil secara khusus,” ujarnya.

Bagi Pastor Titus, 60 tahun hidup membiara adalah bonus dari Tuhan. Tak ada yang istimewa selain bahagia menyaksikan karya-karya Tarekat MSC yang berkembang. “Saya hanya berpesan kepada konfrater muda agar layani dengan sukacita. Bila akhirnya menderita di jalan ini, berpikir lagi, refleksikan diri dan buat keputusan. Tetapi ingat, ladang Tuhan masih membutuhkan para pekerja,” pesan Pastor Titus.

Ia selalu berpesan kepada para konfrater agar menguatkan hidup rohani mereka dengan doa dan relasi dengan Tuhan. “Menjadi MSC itu harus setia. Dan kesetiaan itu tidak cuma dengan kata-kata tetapi dengan tindakan nyata,” sebutnya. Lanjutnya, kebahagiaan terbesar dalam hidupnya adalah bisa membantu orang lain agar mencapai apa yang mereka inginkan.

Pastor Mengko: Saatnya Berdoa

Merefleksikan masa 60 tahun hidup membiara ini, Pastor Mengko menambahkan bahwa saat ini pekerjaannya adalah terlibat untuk mendoakan karya-karya Gereja dan Tarekat MSC. Berdoa agar Gereja yang sedang menghadapi berbagai tantangan zaman ini dapat terus bertahan agar benih-benih iman dapat tumbuh subur.

Pastor John Mengko MSC/Dok. Pribadi

“Saya hanya bisa berdoa, dan selebihnya biarkan Allah yang bekerja. Saya percaya bahwa Allah akan menyempurnakan apa yang sudah saya lanjutkan dan tarekat lakukan,” harapnya.

Yusti H. Wuarmanuk

Laporan: Peter Rahawarin/Konfrater MSC

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here