EDISI 40

82
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM – SAAT Paus Yohanes Paulus II menghembuskan nafas terakhir dan pada Misa Arwahnya tahun 2005, sekelompok peziarah di Lapangan Santo Petrus, memegang spanduk bertuliskan, “Santo, Subito!” (Segera jadikan dia santo). Apakah harapan yang sama tidak layak kita tujukan untuk mendiang Pastor Roberto Malgesini? Pastor yang 15 September 2020 lalu mengalami tusukan bertubitubi di tubuhnya oleh seorang tunawisma sehingga imam Diosesan Como, Italia ini, lunglai dan menghambuskan nafas terakhirnya. Kematiannya menghentak, tak hanya, umat Keuskupan Como, tetapi warga Italia, dan dunia. Pastor Malgesini memang tidak mendirikan tarekat seperti Ibu Teresa. Namun, tampaknya apa yang ia kerjakan, tak ada bedanya. Ia menghayati sabda Yesus dalam Injil setiap saat, setiap hari. Uskup Como, Mgr. Oscar Cantoni mengatakan, “Kami bangga sebagai uskup dan sebagai Gereja atas seorang imam yang memberikan hidupnya untuk Yesus dalam diri orang-orang kecil.” Paus Fransiskus mengatakan duka mendalam atas tragedi yang menimpa Pastor Malgesini. “Saya ikut merasakan kesedihan dan mendoakan para anggota keluarganya dan komunitas Como dan, seperti yang dikatakan uskupnya, saya bersyukur kepada Allah atas kesaksiannya sebagai martir amal kasih terhadap kaum papa,” kata Paus.

KONSULTASI IMAN

Dalam Doa Rosario, kita banyak berdoa Salam Maria. Maka, apakah artiny, Rosario ini hanya terfokus kepada Bunda Maria saja sehingga mengabaikan Tuhan Yesus. Mohon pencerahan.

Stanislaus yang baik, beberapa poin bis saya berikan. Pertama, Doa Salam Maria dalam Rosario tidak sendirian, melainkan dirangkaikan dengan peristiwa-peristiwa Yesus yang disebutkan lima kali di sela-sela pendarasan doa Salam Maria. Ada Surat Apostolik PausYohanes Paulus II yang sangat bagus mengenai hal ini, berjudul Rosarium Virginis Mariae (2002), dan ditulis dalam rangka Tahun Rosario (Oktober 2002-Oktober
2003). Ia menekankan pentingnya merenungkan peristiwa itu sambil mendaraskan Doa Salam Maria, seolah-olah kita sedang bersama Maria mengenang Yesus. Rosario disebutnya sebagai doa kontemplatif yang sangat indah (no. 12). Ia mengutip Paus Paulus VI: “Tanpa
kontemplasi, Doa Rosario menjadi ibarat tubuh tanpa jiwa, dan ada bahaya bahwa pendarasannya akan menjadi pengulangan kata-kata secara mekanis. […] Ini bertentangan dengan anjuran Yesus : ‘Dalam doamu, janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. ….’ (Mat 6:7).

KONSULTASI KELUARGA

Malu Mengenalkan Suami pada Teman Kantor

PENGASUH yang baik, saya Monik 28 tahun. Saya mempunyai suami lebih tua 10 tahun dariku. Kami telah menikah selama tiga tahun. Saya bekerja di bidang perhotelan. Tentu sangat dibutuhkan penampilan dan cara bergaul dalam pekerjaan ini. Sejak bekerja, saya belum pernah mengenalkan suami kepada teman-teman kantor. Mereka sering membawa suami bahkan anak di beberapa kali pertemuan. Ketika ditanya, saya selalu berasalan suami saya sibuk, padahal saya malu karena suami umurnya jauh lebih tua dari saya. Sudah tentu takut diejek rekan-rekan. Bagaimana saya harus bersikap?

SANTO-SANTA

Beato Richard Henkes, SAC (1900-1945) : Pastor Penjaga Kantin Kemanusiaan, “Tak ada orang hebat di dunia ini, selain mereka yang memiliki pengabdian besar untuk kemanusiaan,” demikian moto hidupnya.

SEORANG pastor berjalan menyusuri blok-blok Kamp Konsentrasi Dachau di Upper, Bavaria, Jerman. Dengan wajah berbinar-binar, ia menyapa setiap penghuni kamp yang dijumpainya. Sepuluh menit perjalanan, ia tiba di sebuah ruangan berukuran 8 x 6 meter, sebelah timur kamp. Bagi para tahanan, itulah ruangan penuh berkat. Setiap orang yang
berkekurangan, datang saja, kebutuhannya akan terpenuhi.

KESAKSIAN

Pastor Adrianus Fenanlampir, MSC

Misionaris Segala Cuaca di Paroki Bekas Tapol

Ada dua karya terbesarnya: menjadi gembala bagi keturunan tahanan politik dan hampir lima tahun terakhir telah membaptis 500-an orang. Dia adalah misionaris segala cuaca. ASAP rokok mengepul keluar dari mulutnya. Sebatang rokok baru saja dibakarnya. Dua kali tarikan, tetiba ada suara mengingatkannya, “Matikan rokok, mereka datang.” Dengan sepatu lars, puntung rokok itu segera diinjak. Sepatu itu berdebu dan kotor, padahal baru beberapa bulan, seorang tentara menghadiahkannya.

INGIN BERLANGGANAN?

SILAKAN MENGHUBUNGI BAGIAN MARKETING MAJALAH HIDUP

Telp : (021) 5491537, 5308471;

Fax : (021) 548 5737;

SMS Center: 0813 1056 1036,

Telp./WhatsApp : 0813 8700 6963

ATAU KLIK LINK SHOPEE : http://shopee.co.id/hidup_shop

HIDUP No. 40, 29 September 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here