KURSI SAKSI MATA HATI

167
Ita Sembiring, Kontributor/Pekerja Seni
KURSI SAKSI MATA HATI
5 (100%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.COMKAU tahu aku menunggu

Tapi aku tak perlu berharap

Sebab ketika engkau muncul di balik situ

Belum tentu aku yang kau dekap

Cieeeee…….!

Sekilas ini seperti goresan kegenitan saya sebagai wanita bersuami mengharapkan sapa pria  beristri. Hah…!  Berusaha mengungkap rindu tapi tak berharap nyata. Sekadar curahan rasa yang tak terbendung sebab tak ingin juga merangkai dosa.  Bukankah RASA itu selalu datang tanpa bisa kita halangi? Yang penting bisa dikendalikan.

Meski tak ada kaitannya alias nggak nyambung, goresan kata di atas terinspirasi dari tontonan sebuah perbincangan tanpa kawan bicara. Hanya sebuah kursi kosong tapi sarat makna dan menyita perhatian khalayak.

Sedikit kilas balik, di tahun 90 kebetulan saya jadi GM, sebuah Hotel di Bali. Suatu malam sehabis pesta perayaan ulang tahun hotel itu, ada telepon pagi dari kantor polisi meminta saya hadir sebagai saksi.  Ternyata salah satu tamu hotel dan ikut berpesta malam itu meninggal, tapi di tempat lain karena dia melanjut pesta lagi setelah bersama kami. Jenazahnya sudah diurus dengan baik di RS setempat. Dengan belek yang masih lembab di sudut mata, saya memenuhi panggilan. Ditanya ini itu sebagai saksi yang nota bene sayapun tidak menyaksikan peristiwanya. Hanya sebatas tanggung jawab sebagai pimpinan hotel.

Singkat kata, saya didudukkan sebagai pemberi informasi (sebab tetap keberatan disebut saksi). Duduk di kursi saksi dengan rentetan pertanyaan, sangat melelahkan dari pagi hingga menjelang sore. Akhirnya saya mengingatkan kepada para penanya bahwa saya ini duduk di kursi saksi…, bukan terdakwa dan bukan penyebab kematian warga Brazil itu.

“Saya saksi yang tidak menyaksikan apa apa kecuali jasad beku di ruang penyimpanan mayat. Saya bukan terdakwa, jadi INTERVIEW saja saya, jangan INTEROGASI. Bagaimana kalau tadi menolak datang? Boleh kan, tidak memenuhi undangan bapak bapak?” begini permintaan saya waktu itu di tahun 1990.

Yeaay… berhasil…! Akhirnya tanya jawab yang istilah kerennya interview itu berjalan lebih bersahabat. Diketahui penyebab kematiannya karena punya riwayat hepatitis dan sebuah kewajaran. Hmmm… saya sedang merenung…, apakah sebenarnya waktu di panggil ke kantor polisi, juga bisa menolak hadir, atau mengirimkan kepala security hotel. Sebab keterangan kami pasti serupa. Tak ada yang ditutupi.

Memang kedatangan itu pun karena mata hati mengingatkan akan sebuah tanggung jawab. Tetapi saat merasa diiterogasi tidak pada tempatnya, jelas saya keberatan dan protes bahkan  menolak meneruskan tanya jawab sampai terjadilah kesepakatan dimana kedua pihak lebih nyaman.

Sebagai seorang moderator (biasa) yang dapur saya kadang berasap dari mengecer cangkem ini,  saya pernah berhasil mendatangkan Pak Jokowi sebagai narasumber dan sederet  nama besar lain pernah menghiasi ‘panggung’ saya. Sebaliknya, saya juga pernah gagal mengundang seroang presenter perempuan cantik dan cerdas untuk jadi tamu di kuliah umum sebuah universitas swasta. Saya sudah berusaha menghubungi lewat nomor pribadi, teman dekat dan nihil. Boro boro mengusulkan seseorang sebagai pengganti, pesan saya pun tidak digubris sekedar menolak sekalipun.

Lalu haruskah kesal?

Memaksa tampil dengan microphone tanpa listrik?

Atau monolog di atas panggung tanpa atap?

Pokoknya melakukan sesuatu lah dengan prinsip the show must go on?  Hhmmm… apa mungkin lebih baik  menyanyi solo saja karena tak punya kawan bicara? (sayangnya saya hanya mahir ngomel tidak pandai menyanyi)

Nah, tanpa bermaksud jumawa, sebagai narasumber saya juga beberapa kali menolak  saat diundang. Tetapi nggak ada yang kecewa juga.., apalagi marah. (siapa saya yaaa… hahahaa… who cares.. )

Tja…! Saya hanya cerita soal pernah duduk di kursi saksi karena mata hati saya melihat perlunya hadir di situ.  Dan ketika  sudah berhadapan, saya hanya minta tolong  di interview, bukan diinterogasi. Karena soal salah benar, masih ada tempat lain yang akan mengadilinya.

Itu saja…

Permisiiii ..

Ini hanya sepenggal kisah lama di Bali

Bukan bermaksud me-mata-mata-i

Sebab saya pun masih belajar menata Mata Hati   

dari sebuah Kursi Saksi

(salam cinta: Ita Sembiring)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here