PJJ TIDAK IDEAL UNTUK SD DAN PAUD

164
St. Sularto, Kontributor/Wartawan Senior
PJJ TIDAK IDEAL UNTUK SD DAN PAUD
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.COM – APA fungsi hati?

Jawab: tempat menemukan cinta dan kasih sayang

Apa yang dimaksud dengan mamalia?

Jawab: ibu dari anak yang bernama lia

(Jawaban siswa Kelas V Bidang Studi IPA)

Kita getir membaca kutipan jawaban seorang siswa kelas V SD dalam bidang studi IPA di atas. Spontan memastikan jawaban diberikan oleh orangtua atau siswa sendiri, atau siapa pun mentornya. Kalau yang menjawab bukan siswa, mungkin mentornya sudah jenuh, asal menjawab saja. Apalagi bidang studi IPA. Kalaupun bukan bidang studi IPA, jawaban itu berasal dari seorang siswa kelas V SD, menimbulkan tanda tanya.

Dalam konteks Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masa pandemi saat ini, kegamangan terjadi. Orangtua, guru, siswa bingung. Mengaduh. Kepedulian saja tidak cukup. Alih-alih PJJ di masa pandemi, di masa nonpandemi pun belajar sistem daring bukan sistem belajar yang ideal jenjang SD dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Bertemu muka dengan guru dan teman-teman di sekolah bagi siswa SD (6-12 tahun) bahkan di tingkat PAUD (di bawah usia 5 tahun), bukan hanya faktor transfer pengetahuan dan keterampilan atau proses menemukan bersama pengetahuan dan pelatihan bersama keterampilan, tetapi juga bagian dari sosialisasi, pengembangan pengetahuan, kepribadian dan karakter. Sesama teman yang sehat dan mengalami keterlambatan yang sebelumnya dibersamakan dalam kelas inklusif dengan yang berkebutuhan khusus pun, bisa saling berbagi dan bersosialisasi.

Demi make the best of it, dalam kondisi darurat semua bisa dianggap ideal. Padahal dalam masa darurat seperti pandemi Covid-19, infrastruktur, kesiapan mental dan kemampuan orangtua, termasuk penyesuaian kurikulumnya yang dikonsep dalam masa pandemi, keteteran. Kita apresiasi penyederhanaan kurikulum di antaranya rencana penghapusan bidang studi sejarah yang untung dibatalkan. Kita apresiasi bantuan pulsa dari pemerintah bagi keluarga dan guru, pengalihan dana yang semula dianggarkan untuk program organisasi penggerak ke bantuan pulsa bagi guru-guru di daerah terpencil.

Anak-anak TK, Taman Seminari St. Vincentius, Gunung, Putri, Bogor.

Dengan kondisi Indonesia yang serba majemuk, berbagai “penyimpangan” terjadi. Di antaranya ada beberapa wilayah yang kepala sekolahnya belum merelokasikan Dana BOS untuk subsidi kuota internet siswa dan guru. Belum semua sekolah maupun wilayah bisa mengakses sistem daring sebab infrastruktur belum ada. Berbagai terobosan dilakukan, di antaranya beberapa instansi nonkependidikan  menyediakan sarana PJJ,  beberapa sekolah atau guru di daerah terpencil dengan tetap berusaha mematuhi protokol kesehatan mendatangi siswa.

Pandemi Covid-19 mengubah secara radikal sikap dan perilaku kita. Analisis dan prediksi sebelum awal merebaknya virus corona, ambyar. Menjadi basi, apak. Beberapa negara yang terkena dampak, langsung melakukan berbagai upaya penyelamatan dan menstop penyebaran virus. Analogi terdidik dan kesadaran tentang gawatnya situasi, tidak sinkron. Sekadar contoh, negara adidaya seperti AS pun tingkat persebarannya terus naik yang presiden petahananya memberi kesan meremehkan akhirnya terpapar. Upaya keras pemerintah Indonesia mengedukasi warga  tentang gawatnya situasi pun, masih ada yang melecehkan.

Dengan disrupsi digital yang berakibat masa depan tidak bisa diprediksi lagi dengan pasti, apalagi dengan pandemi Covid-19 yang memaksa semua diadaptasi serentak dan cepat. Segalanya menjadi serba darurat. Kalau disrupsi digital saja menuntut berubahnya perilaku dan tatanan masyarakat, apalagi dengan desakan urusan hidup atau mati, maju atau terpuruknya kehidupan masyarakat.

Dalam konteks itu kita kategorikan PJJ sebagai program ideal saat ini (darurat), khusus jenjang SD dan PAUD. Ketika situasi normal, bahkan dalam kondisi disrupsi digital mendominasi perilaku dan tatanan masyarakat, untuk jenjang SD dan PAUD, tatap muka adalah keharusan. Berbeda dengan jenjang di atasnya. Itulah ideal praksis pendidikan jenjang SD dan PAUD dalam situasi new real normal, yang ideal di masa darurat hanya berlaku sementara, demi make the best of it.

St. Sularto, Kontributor/Wartawan Senior

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here