JAKOB OETAMA: PEMIMPIN LEVEL LIMA

529
A.M. Lilik Agung, Kontributor/Senior Trainer
JAKOB OETAMA: PEMIMPIN LEVEL LIMA
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM – MAHAGURU Manajemen, Peter Drucker selalu berucap, ”Manajemen adalah tentang manusia. Tugasnya adalah membuat orang menjadi mampu melakukan kinerja bersama. Membuat kelebihan mereka menjadi efektif dan kelemahan mereka menjadi tidak relevan.” Hal demikian menegaskan dalam mengelola organisasi, apapun bentuk organisasinya, fokus pada manusia lebih penting daripada fokus pada non manusia. Dalam ranah manajemen, non manusia ini menyasar pada enam bidang (6 M) yaitu, machine (produksi, alat kerja), material  (bahan), methods  (cara dan sistem kerja), money (uang), minutes (waktu) dan market (pasar).

Jakob Oetama selalu menyebut dirinya wartawan, sementara sebagai pengusaha adalah sebuah keberuntungan. Maka menjadi sebuah kewajaran apabila dalam berbagai tulisan maupun ketika berbicara pada aneka forum, Jakob Oetama lebih banyak menuturkan tentang dunia media dan profesi wartawan. Teramat sedikit jejak tulisan Jakob Oetama yang mengulas bisnis dan profesi pengusaha. (Satu-satunya buku karyanya tentang bisnis berjudul Dunia Usaha dan Etika Bisnis, Penerbit Kompas 2001). Pun dalam berbagai forum, ketika menjadi narasumber Jakob Oetama terlampau irit berbicara tentang bisnis. Walaupun demikian sebagai pengusaha, pencapaian Jakob Oetama tercatat dengan tinta emas. Hari ini dibawah Kompas-Gramedia bercokol delapan unit usaha. Jakob Oetama seorang maestro bisnis. Ia mampu menggabungkan peran sebagai pemimpin sekaligus manager nan handal.

Nilai utama dalam menjalankan seluruh unit usahanya, seperti dilakukan Jakob Oetama dalam membesarkan Harian Kompas, yaitu humanisme transendental. Dalam buku Syukur Tiada Akhir guna menyambut 80 tahun Jakob Oetama, St. Sularto menuliskan bahwa humanisme transendental merupakan kemanusiaan yang tidak hanya mengarahkan diri kepada Yang Transenden, tetapi juga keterbukaan untuk selalu berani dan terbuka kepada dunia (2011). Humanisme transendental adalah kemanusiaan yang beriman. Bekerja merupakan perwujudan iman manusia. Oleh karena itu manusia-manusia pekerja wajib untuk diangkat harkat dan martabat.

Lima Kaidah Utama

Menurut pendapat saya, karena humanisme transendental berpusat pada kemanusiaan yang beriman, maka ada lima kaidah utama dalam menjalankan usaha. Pertama, bisnis dimaknai sebagai ekosistem, bukan medan perang. Benar adanya bahwa jiwa dalam berbisnis itu adalah persaingan. Namun dalam persaingan tersebut tetap mengindahkan etika dan kebajikan universal. Sehingga entitas bisnis seperti layaknya ekosistem yang saling menghidupi.

Kedua, perusahaan adalah komunitas, bukan mesin. Mengumpulan keuntungan adalah tujuan perusahaan. Bahkan menjadi sebuah kewajiban karena keuntungan merupakan syarat mutlak untuk keberlangsungan perusahaan. Hanya saja mengumpulkan keuntungan bukan seperti mesin yang tanpa roh. Ada kebaikan dan kebenaran dalam setiap keuntungan yang masuk pada neraca keuangan perusahaan. Dalam bahasa Konosuke Matsushita pendiri Panasonic Corporation, bisnis adalah sesuatu yang dipercayakan kepada pengusaha oleh masyarakat. Oleh karena itu keuntungan merupakan ucapan syukur perusahaan karena telah dipercaya masyarakat.

Ketiga, manajemen adalah pelayanan, bukan kontrol. Robert Greenleaf, mahaguru kepemimpinan melayani mengatakan pemimpin pelayan pertama-tama tidak melihat dirinya sebagai pemimpin (leader first)  tetapi pelayan (servant first). Alhasil kebutuhan konstituen menduduki prioritas tertinggi. Keinginan melayani itu sendiri lahir dari iman dan pengenalan akan Tuhan. Manajemen yang relatif hampa dari yang namanya iman, sejak risalah Greenleaf  populer tahun 70’an menjadikan nilai dan budaya bersahabat dengan manajemen.

Keempat, pemimpin adalah coach (pelatih, mentor), bukan mandor. Phil Jackson dengan sebelas cincin juara basket NBA merupakan pelatih basket terbaik sepanjang massa. Di mata para pemain, Jackson merupakan sosok pelatih yang karismatik. Dia juga  berprinsip ingin membantu setiap orang untuk menjadi manusia yang lebih baik. Menurut Michael Jordan, cara Jackson melatih itu sebagai kepemimpinan yang simpatik. Dia memperlakukan orang lain dengan rasa hormat dan memberi perhatian yang sama kepada orang lain seperti memperlakukan diri sendiri. (The Last Dance, April 2020 dan Harian Kompas.) Sosok Phil Jackson ini merupakan gambaran pemimpin adalah coach, bukan mandor.

Kelima, karyawan adalah mitra, bukan pembantu. Dalam ranah sumber daya manusia, kajian paling populer saat ini adalah engagement (keterlibatan karyawan). Sederhananya, bagaimana para karyawan memberikan diri terbaik untuk organisasi. Hubungan kerja yang harmonis antara atasan-bawahan, sikap saling menghormati walaupun berbeda jabatan, pekerjaan tidak monoton dan selalu ada tantangan baru, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keterlibatan karyawan. Mayoritas suasana yang tercipta seperti itu dikreasi oleh perusahaan (dalam hal ini diwakili oleh pimpinan). Alhasil pimpinan yang respek kepada bawahan menjadi salah satu penyebab bertumbuhnya keterlibatan karyawan pada organisasi.

Dua Tataran

Menurut Jakob Oetama ada dua tataran dalam manajemen. Pertama, tataran yang timbul dari teori manajemen asing, seperti pemasaran, pengelolaan keuangan, pengendalian mutu produksi dan sejenisnya. Kedua, tataran elementer (basic) merupakan tataran sumber daya manusia yang relatif lebih sulit diterapkan jika dibandingkan dengan hal yang pertama.

Watak (karakter) merupakan sifat yang elementer, termasuk didalamnya sikap honesty dalam arti mau kerjasama dengan orang lain dan tidak saling menjegal.  Hal ini yang menjadikan perusahaan relatif stabil, tidak ada gejolak, sehingga syarat minimal untuk berjalannya organisasi perusahaan sudah tercapai. Jakob Oetama menomorsatukan nilai watak, daripada pengetahuan ataupun ketrampilan. (Dunia Usaha dan Etika Bisnis, 2001).

Level Lima

Ketika Jakob Oetama ditabalkan sebagai Entrepreneur of the Year  dari Ernst & Young pada tahun 2005, saya menulis pada sebuah majalah tentang gaya kepemimpinannya. Meminjam kajian Jim Collins, gaya kepemimpinan Jakob Oetama ini disebut Pemimpin Level Lima. Pemimpin Level Lima merupakan gabungan antara profesionalisme yang ditandai dengan kemampuan mengembangkan organisasi dengan kerendahan hati. Sang pemimpin sudah bermain pada dataran spiritual dan kebijaksanaan (wisdom). Pemimpin menjadi penentu arah dan pengawal utama untuk meraih apa yang menjadi visi besar organisasi. Pemimpin mengutamakan etika dan moral dalam menjalankan seluruh operasional organisasi. Keuntungan yang diperoleh perusahaan merupakan akibat dari praktik bisnis etis dan bertanggungjawab.

Pengaruh pada para konstituennya, Pemimpin Level Lima akan menumbuhkan pengikut loyal . Tidak saja para pengikut memiliki waktu lama dalam bekerja di organisasi bersangkutan. Lebih dari itu, karyawan loyal ini tetap menunjukkan kinerja prima. Alhasil sang pemimpin lebih fokus merekrut dari dalam untuk mengisi berbagai jabatan kepemimpinan karena sudah terbukti loyalitas dan kinerjanya. Orang luar direkrut terbatas apabila memang perlu keahlian baru yang memang belum dimiliki oleh warga organisasi. Alhasil manajemen talenta berjalan dengan bagus. Karyawan memiliki kesempatan luas untuk berkarir selaras dengan pertumbuhan organisasi. Sehingga motivasi dan passion karyawan tetap terjaga selama mereka bekerja di organisasi bersangkutan.

Pemimpin Level Lima ini merupakan praktik dari humanisme transendental. Watak sebagai tataran elementer menjadi pondasi dalam mengelola manusia. Bangunannya merupakan tindakan profesional yang ditandai dalam kecakapan mengelola bisnis. Dalam hal ini kepiawaian membuat produk, ketangkasan memasarkan, kejelian mengatur keuangan dan kemampuan mempergunakan teknologi terbarukan yang relevan dengan kebutuhan bisnis. Humanisme transendental adalah gabungan tubuh bagian kanan yang fokus pada manusia (kepemimpinan) dan tubuh bagian kiri yang bertungkus-lumus dengan ketrampilan untuk mengelola pekerjaan (managerial). Di tengahnya ada penghubung bernama hati. Itulah iman.

Jakob Oetama mangkat menuju nirwana pada Rabu 9 September 2020. Dalam ranah bisnis, ia meninggalkan pendekatan manajemen bernama humanisme transendental. Jika Peter Drucker mengatakan  bahwa manajemen adalah tentang manusia. Maka Jakob Oetama melengkapinya bahwa manajemen adalah pelaksanaan dari kemanusiaan yang beriman.

A.M. Lilik Agung, Kontributor/Senior Trainer/Pengelola Galeri HC (lembaga pengembangan SDM)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here