MISA FAVORIT

485
RUY Pamadiken, Kontributor
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM – JUDUL ini menyesatkan.

Mana ada Misa favorit dan tidak favorit? Semua rumus Misa di dunia ini sama. Dari Baturetno sampai ke Sao Paulo sama, bacaannya pun sama.

Namun Misa favorit itu terjadi di masa wabah Covid-19 ini, di mana Gereja menyelenggarakan Misa online. Mari mengikuti percakapan di bawah ini.

“Jeng, ingat enggak sama pastor paroki yang dua tahun lalu pindah ke Jawa Tengah?”

“Ya, ingatlah. Yang khotbahnya menarik”

“Sekarang aku klo Misa mingguan ikut Misa sama dia”

“Forward link-nya dong, Jeng”

Maka dua ibu dari sebuah paroki di Jakarta itu mengikuti Misa online setiap minggu dari sebuah paroki di Jawa Tengah. Alasannya cukup jelas karena mengenal dan cocok dengan pastor dan khotbahnya. Gejala ini tidak hanya terjadi pada Misa mingguan, namun juga terjadi pada Misa harian. Ada beberapa link-link Misa online favorit yang viewers-nya bisa mencapai 7.000 (tujuh ribu) atau lebih, di sisi lain ada link-link Misa online yang diikuti viewers di bawah 100. Dalam masa-masa perayaan liturgi tertentu, Misa online dari sebuah keuskupan bisa mencapai 30.000 (tiga puluh ribu) viewers, sementara dengan tema liturgi yang sama, di keuskupan lain viewers jauh di bawahnya. Dapat dipastikan bahwa para pengikut Misa tesebut berasal dari lintas paroki, lintas dekanat bahkan lintas keuskupan.

Dengan kata lain, di era wabah Covid-19 ini saya bebas untuk menentukan sendiri di gereja mana saya akan ikut Misa online. Jadwal dan alamat link tersedia di seluruh gereja di Indonesia baik melalui saluran TV, live streaming maupun melalui kanal Youtube. Umat bisa berselancar menjelajah dari satu Misa ke Misa yang lain pada hari atau minggu berikutnya. Dengan kata lain menjadi shopper, setiap minggu berganti channel Misa. Namun sebaliknya bisa terjadi hanya mengikuti channel Misa dari sebuah keuskupan atau paroki yang menjadi favoritnya. Semacam nge-fans sama uskup atau pastornya. Karena itu ada Misa-misa yang favorit diikuti. Hal tersebut belum tentu dengan pastor parokinya sendiri atau uskup dari keuskupannya sendiri. Fenomena yang menarik.

Masalah waktu Misa sering mengemuka menjadi alasan mengapa tidak mengikuti Misa online di parokinya sendiri. Dalam hal ini umat sekarang memang mempunyai  luxurious choices untuk memilih Misa online jam berapa sesuai dengan kesibukannya. Dapat dikatakan barangkali setiap jam selalu ada Misa online. Ibarat shopping, banyak pilihan. Namun kalau saya bertanya alasan mengapa mengikuti Misa online di tempat lainnya, jawabannya adalah mencari pastor dengan khotbah yang menarik.

Ada problematika mendasar yang patut digarisbawahi dalam konteks ini, seperti yang saya tulis dibawah.

Pemahaman Akan Ekaristi

Gejala di atas menimbulkan pertanyaan bagaimana sebenarnya umat menghayati Misa atau Ekaristi? Mungkin bisa disepakati bahwa Misa bukanlah khotbah, atau identik dengan khotbah. Inti Misa di dalam pemecahan Tubuh dan Darah Kristus adalah yang seharusnya dihayati dan dirayakan, dan hal tersebut di seluruh dunia sama. Artinya kalau mengikuti Misa online di mana saja, intinya akan sama. Tidak perlu ada preferensi. Akan tetapi fakta digital menunjukkan bahwa ada preferensi. Jumlah viewers memang menunjukkan diferensiasi. Fakta juga (sebelum masa wabah) ketika saya mengajak anak-anak saya untuk Misa, pertanyaan mereka adalah, “Pastornya siapa pi?”. Lalu kami mulai berargumentasi. De facto ada preferensi. Dan saya melihat preferensi ini tumbuh subur di era Misa online.

Salah satu akibat yang terasa adalah berkurangnya frekuensi komunikasi dengan paroki, sebagai basis orang-orang beriman dari sisi teritorial. Besar kemungkinan umat di satu lingkungan mengikuti Misa online dari berbagai paroki atau keuskupan yang berbeda. Apakah ini dipandang sebagai sebuah pengayaan iman umat karena sumber-sumber yang lebih beragam atau sebaliknya, namun kohesi dengan paroki maupun umat selingkungan menjadi memudar.

Pembinaan Umat Berbasis Digital

Melepaskan diri dari cara berpikir nostalgi kembali ke normal, atau cara berpikir untuk sedapat mungkin menemukan adaptasi hidup bersama dengan virus melalui protokol kesehatan, barangkali kita bisa berpikir alternatif yakni mulai membangun katekese dan pastoral berbasis digital. Alasannya cukup jelas, dunia sedang mempersiapkan model komunikasi manusia berbasis 5.0, di mana internet, sistem operasi gadget, aplikasi, artifisial intellegence akan mewarnai interaksi komunikasi dan perilaku sehari-hari.

Generasi millennials sudah akan melihat dunia virtual sebagai dunia kenyataan. Sekarang, hal tersebut sudah terjadi. Yang membangunkan anak-anak bangun tidur bukan lagi ibu, ibu tidak terlalu pusing memikirkan menu sarapan pagi atau makan siang, cabe dan sayuran lain diantar ke rumah melalui aplikasi, ayat-ayat Kitab Suci dengan mudah akan ditemukan dengan hentikan satu jari, pastor tidak lagi menjadi sumber informasi “kebenaran” karena informasi yang tumpah ruah mengenai banyak hal – meskipun tanpa nihil obstat dan imprimatur – namun hal tersebut sudah tidak bisa dicegah. Informasi digital menembus dinding dan batas negara.

Pembagian konvensional tentang pelayanan pastoral teritorial dan kategorial perlu di-re-format dalam desain besar pelayanan digital.

Mengutip pernyataan Pastor Ignatius Swasana, SJ dalam wawancara dengan hidupkatolik.com belum lama berselang, perlunya perubahan paradigma. Pelayanan keuskupan dan paroki tidak hanya pelayanan Misa, akan tetapi juga bidang-bidang lain perlu berbasis online (BIA, kursus perkawinan, katekumen, konsultasi dan lain-lain).  Infrastruktur hardware-nya harus mulai dipersiapkan sejak sekarang, dan demikian halnya dengan software-nya.

Tantangan Buat Para Pastor

Software-nya tentulah para pelaku, dalam hal ini para pastor baik di keuskupan maupun paroki beserta seluruh umat yang terlibat dalam fungsi-fungsi  kepelayanannya. “Para pelaku pelayanan Gereja harus menjadi pemain media”,  ungkap Pastor Swasana, “…. dan tidak ada pilihan lain apabila kita mau melihat Gereja ke depan”. Banyak platform dan aplikasi sudah tersedia. Dunia digital juga akan diramaikan oleh aplikasi-aplikasi baru dari perusahaan-perusahaan teknologi dari Cina yang akan bersaing dengan produk-produk dari Amerika Serikat.

Di samping menjadi pemain media, para pastor juga tertantang untuk sekaligus menjadi aktor di dalamnya dalam konteks untuk mewartakan kabar gembira ke seluruh dunia melalui dunia digital. Bisa diproduksi sendiri dengan smartphone atau melalui tenaga profesional. Para pastor memikirkan konten apa yang cocok untuk sebuah aplikasi tertentu yang masing-masing mempunyai kekuatan, spesifikasi dan market tersendiri. Katakanlah misalnya memakai Smule, TikTok, WeSing atau Instagram (dan lain-lain). Jagad maya itu pasti akan tambah menarik apabila diisi oleh para rohaniwan/wati dengan kekhasannya masing-masing. Pastoral dan katekese tradisional benar-benar mendapatkan tantangan yang sangat berat di era disrupsi digital, namun pada saat yang sama dipanggil untuk mewartakan kabar gembira melintasi batas dinding sampai batas negara ke seluruh dunia.

Tidak ada lagi Misa favorit, tidak ada lagi favoritisme acara liturgis karena di pasar media sosial sudah banyak pilihan-pilihan acara rohani.

Ecclesia Semper Reformanda Est, barangkali ini saatnya gereja memperbaharui diri, dengan mengatur layar sesuai arah angin.

RUY Pamadiken, Kontributor (Tangerang)

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here